Sejarah Hari Perempuan Internasional: “Kami Ingin Roti dan juga Bunga” (Dari: “Womankind, March 1972.)

0
112

Alih bahasa: Ita Apulina Tarigan (Surabaya)


(Catatan editor: Disarikan dari sejarah asal-usul Hari Perempuan Internasional di Amerika Serikat dan bagaimana hal itu menyebar ke seluruh dunia.)



Ita ApulinaHari Perempuan Internasional, liburan dirayakan di seluruh dunia, memuliakan perempuan pekerja dan perempuan yang berjuang di mana-mana. Perayaan ini mengingatkan bahwa tempat perempuan dalam sejarah relatif tidak istimewa, perempuan Amerika seharusnya dapat menjadikan peringatan ini sebagai kebanggaan dan inspirasi bahwa Hari Perempuan Internasional bertujuan untuk menghormati dua peristiwa mogok yang dimotori pekerja perempuan di AS.

Pada tanggal 8 Maret 1857, pekerja garmen di New York City berbaris dan berkumpul, menuntut perbaikan kondisi kerja, 10 jam kerja sehari, dan hak-hak yang sama bagi perempuan. Barisan mereka dipatahkan oleh polisi. Lima puluh satu tahun kemudian, pada tanggal 8 Maret 1908, sesama mereka, yaitu pekerja perempuan dalam bidang perdagangan jarum di New York berbaris kembali, memperingati 8 Maret 1857, menyampaikan tuntutan hak bersuara, dan mengakhiri system kerja ‘sweatshop’ (berkerja lebih dari 10 jam/ hari dengan upah rendah) dan menghapus pekerja anak. Polisi kembali berhadapan dengan mereka.

Pada tahun 1910, Kongres Internasional Partai Sosialis Sedunia II, Clara Zetkin seorang sosialis dari Jerman mengajukan agar tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Sedunia, sebagai peringatan demonstrasi pekerja perempuan di AS dan untuk menghargai perempuan pekerja di seluruh dunia. Zetkin, seorang teoretisi revolusioner terkenal yang berdebat dengan Lenin tentang hak-hak perempuan, dianggap sebagai ancaman serius bagi pemerintah Eropa pada waktu itu; Kaiser memanggilnya “penyihir paling berbahaya di kekaisaran.”

Perjuangan buruh di AS adalah suatu hal yang menarik, tapi secara tradisional terkonsentrasi pada pekerja laki-laki. Suatu pengujian kecil menunjukkan bahwa perempuan membawa beban mereka dan berbagi dengan sesamanya, sejak awal buruh wanitamereka mendukung organisasi pekerja laki-laki, namun setelah menyadari bahwa kebutuhan perempuan diabaikan dalam serikat pekerja yang ada, mereka membentuk kaukus perempuan atau serikat semua pekerja perempuan.

Mogok pertama perempuan terjadi pada tahun 1820 di bidang perdagangan pakaian di New England. Ide yang mendasari mogok ini adalah: menuntut perbaikan kondisi kerja, upah yang layak dan jam kerja yang lebih pendek, dan juga meminta agar disediakan tempat rekreasi bagi warga kota. Menarik sekali untuk mengetahui bagaimana perasaan saudara-saudara kita pada satu setengah abad yang lalu yang mana mereka merasa tidak memiliki kehidupan dan aspirasi mereka tidak ditanggapi secara serius.

Mogok pertama yang paling terkenal berlangsung di pabrik kapas Lowell di Massachusetts. Di pabrik ini perempuan muda bekerja 81 jam seminggu demi mendapatkan 3$, 1,25$ diantaranya digunakan untuk membayar sewa kamar di perumahan Lowell. Sebenarnya pabrik mulai beroperasi pada pukul 7 pagi tetapi hanya untuk pekerja laki-laki, namun mereka ‘menemukan’ bahwa perempuan kurang “energik” jika mereka makan sebelum bekerja, sehingga jam operasi diubah menjadi pukul 5 pagi, lalu istirahat sarapan pada pukul 7 pagi (selama satu setengah jam). jam).

Pada tahun 1834, setelah beberapa kali pemotongan upah, para pekerja perempuan di Lowell ‘walk out’, tetapi mereka kembali bekerja dalam beberapa hari dengan pengurangan upah. Mereka berani tetapi perusahaan memiliki kuasa; catatan perilaku buruk atau tindakan disipliner dapat menyebabkan pekerja dalam daftar hitam. Pada 1836 mereka ‘walk out’ lagi, bernyanyi di jalan-jalan kota:

Oh, isn’t it a pity such a pretty girl as I

Should be sent to the factory to pine away and die.

Sekali lagi, mereka kembali bekerja dalam beberapa hari. Pada tahun l844 dengan pengorganisasian serius mereka mendirikan Asosiasi Tenaga Kerja Perempuan Reformasi Lowell. Tuntutan utama mereka adalah 10 jam kerja/ hari. Kepemimpinan dan aktivitas serikat ini dikaitkan dengan kebangkitan beberapa reformasi awal dalam industri tekstil, khususnya reformasi kondisi kerja.

Dalam periode aktivitas kerja intens setelah Perang Saudara, masa-masa sulit memaksa para janda dan ribuan perempuan menjadi pekerja, sehingga menyebabkan kepanikan dan permusuhan dari pihak laki-laki. Perempuan menyadari jika mereka dikeluarkan dari sebagian besar serikat perdagangan nasional. Kemudian, para perempuan ini membentuk serikat mereka sendiri, termasuk Daughters of St. Crispin, woman's daysebuah serikat perempuan pembuat sepatu . Selama era ini serikat dibentuk oleh perempuan pembuat cerutu, penjahit payung, dan percetakan, juga penjahit baju dan tukang cuci.

Para pekerja industri pakaian membentuk beberapa serikat, yang paling terkenal dalam sejarah AS adalah Serikat Pekerja Garmen Perempuan Internasional, didirikan sekitar tahun 1900. Kondisi toko-toko perdagangan pakaian di kota-kota besar, seperti New York, sangat menyedihkan. Tingginya bahaya kebakaran, pencahayaan yang kurang, suara mesin yang memekakkan telinga, lingkungan tercemar. Perempuan didenda jika – berbicara, tertawa, bernyanyi, noda minyak mesin pada kain, jahitan terlalu besar atau terlalu kecil. Lembur tetap dan dipaksa, tetapi tidak dibayar.

Dengan dukungan dari Liga Serikat Nasional Perempuan Perdagangan, yang didirikan pada tahun 1903 – yang merupakan kombinasi dari perempuan yang pekerja dan kelas menengah, juga perempuan profesional yang mendukung perjuangan perempuan yang bekerja ini – para pembuat kemeja ini meluncurkan serangkaian mogok terhadap Leiserson and Company dan Triangle Waist Company, dua dari toko-toko yang paling terkenal di New York. Mogok ini dikenal dengan “Pemberontakan 20.000”, kedua mogok ini merupakan mogok terpanjang oleh perempuan.

Selama tiga belas minggu di tengah pahitnya musim dingin, perempuan berusia 16 dan 25 tahun berjaga setiap hari, dan setiap hari mereka dipukuli oleh polisi dan dibawa oleh truk polisi “Black Maria”. Pengadilan yang biasa mendukung pemilik toko; salah satu hakim malah menuduh para pendemo dengan tuduhan, “Anda mogok melawan Allah dan Alam, yang mana Hukum Terutana itu adalah bahwa manusia mendapatkan roti dengan berpeluh. Anda mogok melawan Allah.”

Peristiwa ini membuat George Bernard Shaw mengirim telegram, yang pada waktu itu bersama beberapa orang Eropa sedang mengikuti perjalanan sejarah tenaga kerja AS. Dia menulis: “Sungguh menyenangkan. Amerika abad pertengahan sungguh percaya diri pada hubungan pribadi mereka dengan Yang Maha Kuasa.”

Mogok akhirnya berhenti, perjanjian kerja dibuat dari toko ke toko, tetapi bakat dan kekuatan perempuan membuat mustahil bagi siapapun untuk mengklaim bahwa serikat pekerja hanya untuk laki-laki. Satu tahun setelah pemogokan, terjadi women's daykebakaran “Triangle’ yang terkenal. Pelaku menjebak perempuan di lantai atas (pintu emergency ternyata sudah dipaku dari luar untuk mencegah mereka keluar). Kebakaran ini memakan 146 korban, sebagian besar perempuan berusia antara 13 dan 25 tahun, sebagian besar diantaranya  imigran baru di AS.

Para pengusaha didenda per orang 20$. Sebuah perjanjian dibuat untuk keluarga para perempuan yang mati sebesar $75 per kematian. Rose Schneiderman, organisator Buruh Garment, mengecam masyarakat karena mendukung hukum dan lembaga-lembaga yang membuat tragedi kebakaran itu sebagai hal biasa.

“Saya tahu dari pengalaman saya sendiri bahwa hanya buruh yang dapat menyelamatkan buruh,” dia menyatakan.

“Satu-satunya cara mereka dapat selamat adalah melalui gerakan buruh yang kuat.”

Kisah ini  hanyalah sebagian kecil dari sejarah perempuan pekerja di Amerika; serpihan ini sudah cukup untuk menginspirasi hari peringatan Internasional. Rusia pertama kali merayakan 8 Maret setelah Revolusi; walaupun tidak sering diakui bahwa salah satu pemantik utama Revolusi Rusia adalah mogok  massal pada tahun 1917 oleh perempuan pekerja tekstil Rusia. Perempuan Cina mulai merayakannnya di l924, sejalan dengan gerakan perempuan yang kuat di Partai Komunis Cina.

Ketika gerakan pembebasan perempuan mulai di AS dan Inggris, Hari Perempuan dimaknai dan dihidupkan kembali sebagai hari suci kaum feminis. Pada tahun 1970 revolusioner Uraguayan Tupamaros merayakan 8 Maret dengan membebaskan 13 tahanan perempuan dari penjara Uraguay.

Sejarah pekerja perempuan Amerika sering dikaitkan dengan nama besar dari gerakan Mother Jones, Ella Reeve Bloor, Kate Mullaney, Sojourner Truth, dan Elizabeth Gurley Flynn. Mereka dikenal sebagai perempuan yang luar biasa dan begitu pula sejarah hidup mereka. Membaca satu bab dari otobiografi Flynn atau membaca ulang catatan dari Mother Jones yang berpartisipasi di 1919 pada mogok baja di usia 90 tahun adalah  obat yang baik untuk depresi. Jangan lupa bahwa mereka adalah secara pribadi adalah perempuan dan sebagian besar ‘pengorganisasian, perjuangan, keberhasilan dan kegagalan, dilakukan oleh wanita biasa yang kekuatannya tidak dapat kita ramalkan.

Mereka adalah perempuan yang, menyadari perlunya berdiri taktis dan bekerja bersama-sama karena mereka akan hancur jika berjuang sendiri, wanita yang malu dengan teori konyol ” woman’s place”,” perempuan yang terlibat dalam mogok tekstil terkenal Lawrence membawa tulisan “Kami ingin Roti dan juga Bunga”, melambangkan tuntutan mereka tidak hanya upah layak tetapi juga kehidupan yang layak dan manusiawi, dan gerakan mereka sangat terinspirasi lagu James Oppenheim “Bread and Roses”:

As we come marching, marching,in the beauty of, the day

A million darkened kitchens, a thousand mill lofts gray

Are touched with all the radiance that a sudden sun discloses

For the people hear us singing, Bread and Roses, Bread and Roses

As we come marching, marching, we bring the greater days

The rising of the women means the, rising of the race

No more the drudge and idler that toil where one reposes

But a sharing of life’s glories, Bread and Roses, Bread and Roses

Diterjemahkan dari: https://www.uic.edu/orgs/cwluherstory/CWLUArch




Leave a Reply