Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Sibak “Tikus” Blok Masela, Kepret Rizal Ramli, Sentil Sudirman Said

1
189





Asaaro LahaguKue lezat Blok Masela dengan investasi miliaran dollar amat menggoda. Blok gas ini digadang-gadang akan menjadi proyek gas terbesar di dunia. Nah, siapa pun yang kecipratan blok itu, dijamin berpesta-pora. Jokowi paham betul, karena lezatnya kue Blok Masela, banyak “tikus” sudah lama menyusup dengan beragam cara. Ibarat kebun, tikus-tikus itu sudah menggali lobang-lobang dalam-dalam, terkoneksi dan berliku-liku sebagai tempat persembunyian dan benteng pertahanan. Saat kebun sudah mulai menghasilkan, tikus-tikus itu siap menggerogoti dengan rakusnya.

Jokowi paham betul siapa tikus-tikus di Blok Masela itu. Namun, mengusir tikus-tikus itu dengan cara biasa, tidaklah gampang. Jokowi butuh strategi. Bila tidak, sangat sulitlah mengusir tikus-tikus itu karena mereka sangat pintar berkamuflase. Jokowi kadang kala sulit mengendus bau tikus-tikus berpengalaman itu. Para tikus itu pun membuat dirinya sulit diidentifikasi karena mereka pakai dasi, pakai parfum, dan pakai bedak segala. Maka untuk mengusirnya, Jokowi pakai ilmu khusus, yakni ilmu pukul semak untuk menyibak keberadaan para tikus itu.

Lewat Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, Jokowi menyibak semak Blok Masela yang dihuni oleh tikus-tikus berpengalaman. Ketika Rizal mulai kehabisan energi, Jokowi memacunya dengan kepretan baru. Jokowi pun terus mengempret Rizal agar terus menyibak semak. Harapannya adalah agar tikus-tikus itu satu per satu keluar dan mulai muncul ke publik. Jokowi berharap lewat aksi memukul semak Rizal Ramli, para tikus itu keluar.

Benar bahwa kepretan Rizal Ramli memicu pertengkaran di ruang publik. Ketika ia mengempret Wapres Jusuf Kalla, Sudirman Said, RJ. Lino, Rini Soemarno, publik bersorak sekaligus terusik. Ada banyak pihak yang mendukung Rizal, namun ada blok masela 2banyak pihak yang mencibirnya sebagai tukang koak belaka. Bahkan ada pihak yang menginginkan agar Rizal di-reshuffle dari kabinet. Tetapi benarkah demikian?

Di kabinet, di istana dan di luar istana yang terkotomi faksi-faksi yang saling berebutan pengaruh, Jokowi butuh seseorang yang berani untuk bersuara lantang. Tujuannya adalah agar kebijakan yang menyangkut uang negara, masa depan bangsa, benar-benar dapat diputuskan dengan benar. Masih ingat kasus Freeport? Percaya atau tidak kasus itu dimulai dari kepretan Rizal Ramli. Mungkin kalau tidak ada Rizal Ramli, publik tidak pernah mengetahui permainan para tikus di Freeport yang sebenarnya. Juga bisa jadi perpanjangan kontrak karya Freeport itu sudah dilakukan.

Hal yang sama ketika Blok Masela sudah mulai dieksploitasi, Jokowi butuh pertimbangan publik yang matang sebelum diambil suatu kebijakan yang adil. Ketika pihak-pihak tertentu mulai mengelabui publik dengan argumentasi dan riset yang seolah-olah sangat hebat, lalu mengambil kesimpulan bahwa kilang gas Blok Masela akan dibangun di laut (off shore), Rizal Ramli yang paham tentang keuntungan dan kerugiannya plus permainannya, muncul bersuara lantang. Rizal Ramli bersikukuh bahwa pembangunan kilang gas Masela harus dilakukan di darat (on shore). Terjadilah pertengkaran menteri di ruang publik.

Hebatnya bukannya Jokowi langsung meredam suasana dengan cara memecat para menteri yang bertengkar itu, tetapi melempar dan memantik bola panas ke ruang publik. “Saya tidak suka ada menteri bertengkar di ruang publik.” Kalimat ini bermakna ganda. Pertama, Jokowi memainkan psikologi massa bahwa dia sama dengan masyarakat banyak yang tidak suka dengan menteri yang bertengkar di ruang publik. Kedua, nah ini makna yang sebenarnya, bahwa Jokowi memancing masyarakat untuk menelusuri siapa menteri yang bertengkar dan apa pokok pertengkaran mereka. Jika publik dan media terus mencari pokok permasalahan, mungkin ada hal-hal tersembunyi selama ini bisa terkuak di depan publik.

Ketika media mulai menelusuri hal-hal yang terkait dengan Blok Masela, ada hal-hal yang mulai terkuak. Seperti diberitakan di media (baca di SINI) lembaga riset yang menganjurkan pengembangan Blok Masela agar dilakukan di laut (off shore) adalah Tridaya Advisory. Tridaya ini adalah milik Erry Riyana Hardjapemekas. Komisaris utamanya adalah Kuntoro Mangkusubroto. Dulunya Kuntoro adalah Direktur Utama blok masela 3PLN dan Sudirman Said adalah staf pribadinya. Maka jelas ada konflik kepentingan di sana.

Jika ke depan Blok Masela akan diputuskan di laut, jelas tidak banyak perusahaan yang terlibat di sana. Alasannya teknologi yang dipakai adalah teknologi tinggi yang hanya dimiliki oleh beberapa perusahaan tertentu di dunia. Lalu nantinya, jika kilang gas itu dibangun di tengah laut, kebayang nggak siapa perusahaan yang memasok listrik, memasok tiang-tiang pancang, semen, peralatan besi dan seterusnya? Jika dibangun di tengah laut, di samping tidak ada efeknya bagi masyarakat banyak, lalu bagaimana publik mengawasinya?

Sebaliknya, jika dibangun di darat, jelas ada multieffect-nya bagi pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Sementara itu pemasok bahan-bahan bangunan kilang pun bisa dilakukan oleh banyak perusahaan. Di samping itu, publik bisa ikut mengawasi hasil dari kilang gas itu. Itulah sebabnya Rizal Ramli sampai ribut agar pembangunan kilang gas Blok Masela dibangun di darat. Rizal Ramli pun terus mengaumkan kebenaran tanpa kepentingan pribadinya (ingat Rizal Ramli bukanlah seorang pengusaha yang merangkap sebagai pejabat).

Di negara terkorup seperti Indonesia, butuh cara-cara perang frontal untuk melawan para koruptor. Koruptor tidak pernah mengenal kata cukup untuk menggerogoti uang negara dan kekayaan alam Indonesia. Para koruptor yang sudah berpengalaman luar biasa mengorup uang negara, sangatlah sulit dilawan. Itulah sebabnya Gubernur Ahok di Jakarta, butuh level kegilaan tingkat ketujuh untuk menghadapi para pejabatnya sendiri dan para anggota DPRD DKI Jakarta.




Maka ketika, Rizal Ramli ribut dan menjadi biang pertengkaran di ruang publik, biarkan hal itu terjadi. Sepanjang hal yang dipertengkarkan bukan memperebutkan istri orang, tetapi Blok Masela, Freeport, PLN 35 ribu MW, pembelian pesawat baru Garuda dengan utang, pembenahan dwelling time di Tanjung Priok, proses pembangunan kereta api cepat Bandung dan seterusnya maka biarkan hal itu terjadi. Lewat pertengkaran mereka, kita menjadi tahu pokok pertengkaran yang sebenarnya agar kita sebagai masyarakat biasa tidak dikibuli dengan argumentasi dan riset yang seolah-olah hebat.

Jadi, biarkan Jokowi menyibak tikus di Blok Masela, biarkan dia kepret Rizal Ramli agar semakin mengempret. Sementara itu biarkan Menteri ESDM Sudirman Said tersentil agar kepentingan-kepentingan yang terselebung bisa terkuak di depan publik. Kita berharap agar ke depan blok gas Masela benar-benar mendatangkan kesejahteraan rakyat banyak dan bukan pesta pora segelintir orang.




1 COMMENT

  1. Bagus sekali tulisan ini. Pencerahan yang sangat dibutuhkan oleh publik. Semakin luas dan semakin mendalam ‘pertengkaran’ para menteri itu semakin terlihat kepentingan yang terwakili didalamnya. Perwakilan neolib akan semakin membelejeti dirinya.Dalam era kegelapan seperti era Orba tak ada keterbukaan, neolib subur bukan main. Dalam era keterbukaan dan partiispasi publik yang luas, neolib tak kuat nafasnya. Masela dipasang ditengah laut supaya tak dilihat rakyat, dan juga supaya hanya perusahaan asing yang bisa ikut jadi pemborongnya. Padahal rakyat Indonesia yang bayar yang dibebani utang besar untuk membuka Masela. Inilah akal bulus neolib dengan perwakilannya di Indonesia sejak runtuhnya Soekarno. Jaman keterbukaan dan partisipasi publik dalam semua soal keuangan negara akan membuka hari senja neolib, tak ubahnya seperti hari senja parpol dengan DPRnya.
    MUG

Leave a Reply