Kolom Darwono Tuan Guru: AHOK DIBESARKAN OLEH LAWAN

1
172

Darwono 2Mengamati kondisi perpolitikan Jakarta menjelang Pilkada 2017 nanti, suhu perpolitikan semakin tinggi. Kondisi itu bagi sebagian pelaku politik yang kurang memiliki Endurance emosi maka suhu politik menggiringnya ke arah tindakan-tindakan, langkah-langkah politik yang sangat emosional dan irrasional. Banyak yang berjalan bukan di jalur strategi pemenangan Pilkada, namun justru terpeleset pada jurang emosional karena bertindak responsif terhadap manuver-manuver kompetitornya. Akhibatnya, kompetitornya justru mendapat keuntungan dari situasi itu, dan terus melakukan manuver-manuver yang memungkinkan dirinya dibesarkan oleh kompetitornya. Dan, Ahok adalah kandidat yang “dibesarkan” oleh perilaku kompetitornya.

Kompetitor Ahok memposisikan Ahok seakan Kandidat Tidak Terkalahkan, atau paling tidak, sulit dikalahkan. Sulit dikalahkan bukan berarti tidak bisa dikalahkan Bentuk dari kesalahan menanggapi kondisi Ahok ini adalah sikap emosional, yang berupa “patah arang perjuangan”. Expresi dari kondisi ini adalah munculnya kontra isue yang berupa senimen-sentimen priomordial atau sentimen SARA yang justru memposisikan Ahok pada pihak yang “terkuya-kuya”. Jelas, dengan diposisikannya Ahok pada pihak yang dikuya-kuya, justru meningkatkan simpatik masyarakat, dan dukungan kian mengalir.

Untunglah, catatan penulis tentang hal itu rupanya cukup mendapat respon, dan kita dapat melihat, di media massa kampanye dari kompetitor Ahok yang berupa sentimen-sentimen primordial sudah berkurang. Kita dapat melihat perkembangan posisi Ahok sendiri yang sudah berkurang kuya-kuyanya, berkurang pula simpatik yang diberikan kepadanya. Manuver Ahok datang ke peluncuran buku Megawati yang konon sebenarnya Ahok tidak diundang, justru mendapat tanggapan kurang mengenakkan.

Ahok 30
Ahok dan Megawati (tengah) saat menerima buku Megawati di acara peluncuran buku itu [Rabu 23/3]. Foto: Tribune Nasional.

Sindiran Megawati “Gubernur datang, pasti ada sampingannya” benar-benar telak menyobek jantung harapan Ahok. Pendukung Ahok yang mencoba memblow up isue kehadiran Ahok di peluncuran buku Megawati, bahkan dipelintir seolah PDIP akan mendukung Ahok, tidak mendapat tanggapan oleh netter terutamanya.




Kehadiran Ahok ke peluncuran Buku Megawati meski tidak diundang penulis sebut sebagai manuver, sebab penulis yakin, Ahok masih sangat berharap dukungan PDIP sebagai partai terbesar di DKI. Ini sangat relevan dengan yang diungkapkan oleh Butet K yang intinya menyatakan kurang lebih “meski sibuk Ahok kembali ke ibunya”. Ahok ingin dianggap anak oleh Megawati dan PDIP sebagai induk politiknya.

Namun demikian, kita semua tahu, kalau Megawati sudah menyatakan tidak yang tidak akan berubah menjadi ya. Sebagai partai besar, jelas PDIP sudah selayaknya tidak boleh diremehkan. Ahok yang telah lacur dengan ucapannya, bahwa Parpol tidak menyejahterakan rakyat, jelas menampar PDIP sebagai partai terdepan, yang mengedepankan jiwa kerakyatan. Kita dapat memahami jika PDIP tidak akan pernah mengusung Ahok. Meskipun Ahok terus menunjukan hubungannya dengan Megawati tetap baik.

Kehadiran Ahok bisa dipahami “ada sampingannya” sesuai ungkapan Megawati. Bisa dilihat dari sikap Ahok yang terkesan Patah Arang setelah kehadirannya disambut biasa-biasa saja bahkan disindir Megawati dengan halus. Hal ini dapat tercermin dari ungkapan Ahok sendiri: “Strategi Megawati sulit dimengerti”.

Kisah kehadiran Ahok pada peluncuran Buku Megawati penulis paparkan di sini dengan maksud menggambarkan bahwa sebenarnya kalau manuver-manuver Ahok tidak ditanggapi, justru Ahok sendiri yang akan patah arang. Namun, ketika manuver-manuver itu ditanggapi, blow up oleh team pendukungnya disambut gempita oleh tim kompetitornya, maka pada saat itulah Ahok “dibesarkan kompetitornya”. Walau demikian, bukan berarti manuver Ahok harus dibiarkan begitu saja, namun perlu juga “kontra manuver” dilakukan apabila hal itu akan menaikkan bargaining kompetitor itu sendiri, atau paling tidak menetralisir.

Di masyarakat umum, yang berkembang adalah isue bahwa Ahok sukses, tegas, anti Ahok 29korupsi dan pemimpin masa depan. Kompetitor harus menggarap kotra isue itu dengan rapih dah strategis. Tunjukan sukses di mana. Sebagai misal, sukses menertibkan DAS dari pemukiman kumuh yang menyebabkan banjir, itu iya, tetapi apakah Ahok melakukan pemberesan bangunan mewah yang menempati daerah resapan (termasuk rumahnya di PIK) sebagai bagian dari penyebab banjir? Tentang Anti korupsi, yang Ahok lakukan hingga memanggil para pelajar ke Balaikota, apakah benar Anti Korupsi itu monopoli Ahok? Bukankah itu adalah tuntutan Reformasi dan waktu itu Ahok juga ada di Golkar?

Ahok tegas, pemimpin masa depan, apa benar apa yang ditunjukan oleh Ahok selama ini ketegasan? Bukankah itu sebuah kekasaran yang justru, jika dilihat dari perspektif pembangunan karakter bangsa (Nation Character Building), dimana bangsa kita adalah santun, sopan, berbudaya, justru yang ditunjukan Ahok adalah sangat bertentangan? Juga tentang pemimpin masa depan, coba kritisi, apakah benar karakteristik kepemimpinan Ahok adalah karakteristik kepemimpinan masa depan?

Para kompetitor harus dapat menyampaikan kepada calon pemilih berbagai kontra isue yang ada dengan bahasa pemilih. Diantara target Ahok dalam menggarap pangsa pemilih adalah pemilih pemula dan pemilih di Grey Area (Floating mass) yang belum memiliki keterkaitan kekaderan dengan partai manapun. Oleh karena itu, di samping harus menjalankan kontra isue dengan baik, upaya pengkaderan partai politik kepada generasai muda terutama pemilih pemula harus dilakukan secara kondusif melalui berbagai upaya itulah Ahok dapat dikalahkan. Jika hal itu dilakukan sesegera mungkin, maka tidak menutup kemungkinan Ahok tidak memenuhi syarat untuk mendaftar karena kurang dukungan bisa terjadi. Semua tentu terpulang pada usaha dari kompetitor-kompetitor Ahok.

Ada baiknya partai-partai politik bersatu, menghadapi calon non parpol atau calon dukungan cukong. Pada hakekatnya, munculnya calon non parpol atau calon dukungan cukong, pada ahirnya akan membunuh partai politik itu sendiri. Buktikan bahwa Calon Parpol adalah calon yang tepat dan layak dipilih. Sekali lagi, jangan lakukan hal-hal keliru, yang justru akan “memperbesar posisi” Cagub pilihan cukong. Semoga ada manfaatnya.




1 COMMENT

  1. Analisa yang cukup mencerahkan, terutama bagi penentang Ahok atau penentang calon independen.
    Satu soal yang istimewa bagi Ahok ialah dia bukan koruptor, belum pernah ada bukti korupsi, dan tidak bercita-cita bikin korupsi dalam memegang jabatan gubernur. Dari segi ini susah bagi pesaing dari partai untuk maju menunjukkan ‘lebih’ dari Ahok. Bagaimana menunjukkkannya? Modal untuk menunjukkan itulah yang masih terlalu kecil bagi pesaing ahok dalam soal ini.
    Akan berlainan soalnya kalau misalnya Risma atau kang Emil maju di pilgubsu itu. Tetapi yang dua itu sudah tak bisa digerakkan ke Jakarta.
    Segi yang lain ialah dengan gerakan pesaing Ahok yang semakin gesit dan semakin ilmiah (sesuai dengan analisa artikel ini) hanyalah akan menambah dinamis pilgugsu, dan yang pasti bermanfaat sebagai pembelajaran bagi rakyat Jakarta.
    Dialog, diskusi dan debat soal kepemimpinan modern abad 21 akan menambah pembelajaran dan pasti juga menambah kelegaan bagi rakyat Jakarta dan Indonesia umumnya. Lega karena tambah pengetahuan dalam analisa pemimpin. Dan dengan analisa ilmiah, kalah menang akan memberikan hasil yang bikin kelegaan. Kelegaan itu lebih dari kalah maupun menang.

    MUG

Leave a Reply