Kolom M.U. Ginting: POSO

0
134

M.U. GINTING 3“Saya belum berencana ganti strategi yang sudah ada. Yang pasti saya akan pimpin langsung perburuan Santoso. Saya tidak akan di Palu saja, saya kejar Santoso di mana pun dia,” kata Kapolda Sulawesi Tengah yang baru Brigjen Rudy Sufahriadi.

“Saya tidak bisa bicara soal strategi dan tidak bisa terangkan juga kekuatan Santoso,” katanya lagi menambahkan.

Kelihatannya Pak Kapolda baru ini semangatnya sangat tinggi.

Bahwa tidak selalu konflik bisa diselesaikan dengan kekuatan senjata sudah tak asing bagi pengalaman hidup kita. Tidak selalu begitu gampang. Selama ini juga sudah dipakai cara kekerasan ini, tetapi mengapa tak selesai-selesai? Dengan penggantian komandan baru bisa juga ada perubahan, bisa hilang kelompok ini tetapi bisa juga tak berhasil seperti yang sudah-sudah dilakukan oleh berbagai pimpinan/ komandan polisi yang pernah beroperasi sejak lengsernya Orba sampai sekarang, walaupun ini termasuk juga satu pembaruan (pimpinan operasi).

Cara pandang baru juga sering bisa mendatangkan hasil yang lebih baik, seperti dari segi pendalaman soal-soal sosial masyarakat Poso, walaupun dari segi operasi militer/ polisi mungkin tak ada waktu mempelajari soal-soal ini. Tetapi, kalau tak menghiraukan soal ini sama sekali, juga tak akan menambah keringanan dalam mengamankan Poso.

Poso 1
Foto: Poso City.

Rakyat dan penduduk Poso menginginkan keamanan dan kedamaian, bisa hidup bersama diantara semua penduduk daerah Poso yang sangat banyak ragamnya dari segi kultur dan etnisitas, segi mana sejak semula adalah sumber utama konflik antar warga, tetapi dipendam seperti api dalam sekam selama kekuasaan Orba.

Demografi kependudukan sudah lama begitu mencekam bagi penduduk asli daerah ini ketika kekuasaan Orba berlaku, dan terutama karena ketika itu orang tak boleh buka mulut, ketidak-puasan dan dendam makin membesar saja tiap hari. Tak ubahnya seperti Kalbar, Kalteng, dan Maluku. Hilangnya Orba, munculnya konflik ke permukaan tak bisa dihindarkan.

Satu pertanyaan yang menarik ialah mengapa di Kalbar, Kalteng, dan Maluku bisa selesai sekarang? Itulah pertanyaan yang sangat menarik bagi pemimpin daerah ini, termasuk juga bagi intelektual dan akademisi negeri ini.

Bahwa kekuatan luar akan selalu memanfaatkan konflik yang ada di negeri ini adalah ’wajar-wajar’ saja. Banyak orang luar punya kepentingan sangat strategis mengacau Indonesia dan satu waktu bisa menguasai atau semakin menguasai dan mengontrol negeri ini di bawahnya. Kelompok Santoso adalah salah satu yang jadi inceran orang luar. Atau tepatnya bukan Santoso, tetapi konflik dan bibit konflik yang ada di daerah ini. Itulah yang disasar terus.




Tidak jelas Santoso ini punya dasar perjuangan politik yang tegas, berjuang untuk siapa dalam semua beragam konflik yang sudah terjadi selama ini. Kalau digolongkan ke dalam teroris Islam, sudah jelas tidak, karena teroris di Indonesia maupun di luar negeri sekarang ini sudah jelas tak ada kaitannya dengan agama Islam. Itu sudah dinyatakan juga dengan tegas oeh Wapres JK.

Kalau dia berjuang memihak kelompok penduduk asli misalnya, pemikiran seperti itu juga sudah tak ada masa depanya sekarang di negeri multi etnis Indonesia ini. Semua etnis berjuang untuk etnisnya, tetap juga perjuangan ini tak bisa dipisahkan dari kesejahteraan etnis-etnis lain, kesejahteraan bersama secara nasional, kepentingan nasional Indonesia. Di sini hanya perlu PENGAKUAN dan SALING MENGHORMATI DAN MENGHARGAI sesama etnis/ kultur. Inilah yang belum meresap di pelosok daerah Poso. Ini pulalah yang dimanfaatkan oleh orang luar.

Dalam pertikaian dunia sekarang yang kita hadapi ialah perjuangan antara: KEPENTINGAN LUAR ATAU KEPENTINGAN NASIONAL. Kepentingan luar pakai berbagai cara termasuk pecah belah dan teroris itu. Kepentingan nasional pakai Trisakti bung Karno. Pilihan jadi lebih sederhana tetapi tepercaya. Dasarnya ada, UU kita dan kepemimpinan nasional Jokowi/ JK

 




Leave a Reply