Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Zigzag, Megawati Minta Ahok Jantan, Elit PDIP Merana

1
124

Asaaro LahaguPublik seolah tak menggubris ucapan Ahok yang berulang-ulang. Ia kerap melontarkan pernyataan bahwa dia sangat dekat dengan Megawati. Bagi Ahok, Megawati adalah sosok ibu dalam karir politiknya. Di lain hari, Ahok mengibaratkan Megawati sebagai kakak kandungnya sendiri. Ini adalah hubungan luar biasa. Pada tataran inilah sebetulnya Ahok ‘bermain’ dengan level tinggi.

Ahok tak menggubris elit PDIP lainnya yang terus bersuara sumbang kepadanya. Sejauh ia masih ‘merasa’ dekat dengan Megawati, dan Megawati merasa ‘nyaman’ dengan ucapan ‘kedekatan’ Ahok kepadanya, maka Ahok masih aman. Ahok paham bahwa kunci utama pengendali PDIP ada di Megawati, bukan Puan, bukan Hasto atau Prasetyo. Jadi, Ahok sedapat mungkin ‘manggut’ secara cerdas kepada Megawati agar sedapat mungkin Megawati tidak melawannya secara frontal.

Ahok sangat paham sosok seorang Megawati. Jika 20 tahun lalu Megawati adalah seorang pejuang, seorang pembela wong cilik, kini Megawati jelas sudah berubah. Dan inilah yang dipahami betul oleh seorang Ahok. Megawati sekarang adalah sosok penikmat kekuasaan. Ia sudah mabuk kekuasaan. Pergerakannya pun sudah lamban, gemuk, dan tidak selincah dulu. Ia persis seperti Soekarno dan Soeharto di masa tuanya.

Sama seperti kedua presiden pendahulunya itu, Megawati  sudah terlalu lama di puncak,17 tahun lamanya ia memegang tampuk kekuasaan. Ia jelas sudah jenuh, lelah ahok 31dan kenyang dengan politik. Dan, karena itu, ia merasa saatnya untuk menikmati, mabuk dan melupakan wong cilik yang pernah membesarkan namanya.

Bagi Megawati, wong cilik itu sekarang bukan sosok yang dibela tetapi sosok yang dimanfaatkan. Dan, setelah wong cilik membesarkan PDIP, partainya, Megawati dan para elit partainya mabuk kemenangan, lalu merasa arogan, sombong, bertingkah bak orang kaya baru yang disertai dengan tindakan-tindakan aneh mereka di mata masyarakat.

Jika wong cilik  mengharapkan Megawati membela KPK dari rongrongan revisi para koruptor, tidak memaksakan Budi Gunawan menjadi Kapolri, terus mendukung Jokowi mengendalikan penuh kabinetnya, malah Megawati bertindak sebaliknya. Ia ingin mengebiri KPK, mendikte Jokowi soal pencalonan Budi Gunawan dan ingin mengendalikan Jokowi dalam kabinetnya. Dan, itulah euforia Megawati yang telah berada di puncak.

Mabuknya Megawati di puncak kekuasaannya, membuat ia sangat sensitif pada usaha-usaha yang mendongkelnya ataupun yang meremehkannya. Iapun mudah dipengaruhi, selalu curiga kepada mereka yang ingin menjatuhkannya. Namun, ia juga terlihat sebagai sosok yang gampang dilanda kebingungan saat mendengar para pembisiknya. Justru itulah yang dimanfaatkan Ahok.

Ahok sangat paham kebuasan kader-kader PDIP di DKI Jakarta. Sebagai partai pemenang Pemilu di DKI dan mayoritas di DPRD, kader-kader PDIP sebelumnya yang sangat bernafsu mengendalikan Gubernur Ahok, mengendalikan rekan-rekannya di DPRD, dan menguasai sumber-sumber kue lezat di DKI menjadi gigit jari akibat transparasi dan hantaman seorang Ahok.




Sekarang era Ahok, kader-kader PDIP di DKI sama sekali tidak bisa lagi bermain. Sebagai partai yang pemenang Pemilu di DKI dan mayoritas di DPRD, sama sekali tidak memberi keuntungan sama sekali. Semua sumber-sumber pemasukan dari lahan tersembunyi, telah dikeringkan oleh Ahok. Padahal, sumber-sumber itulah yang diharapkan sebelumnya. Ketika harapan kader-kader PDIP hanya menjadi mimpi di siang bolong, maka mereka berubah menjadi musuh bebuyutan Ahok. Elit PDIP pun merana di DKI.

Mereka pun menjadi pembisik kepada Megawati. Ketidaksopanan, ketidaksantunan dan kekasaran Ahok di DKI menjadi menu bisikan kepada Megawati. Para elit PDIP di DKI pun terus mengecilkan sepak terjang dan keberhasilan Ahok di DKI. Mereka juga tidak merekomendasi Ahok sebagai Cagub PDIP kepada Mega. Mereka sengaja mengulur-ngulur waktu dengan tujuan untuk menjatuhkan Ahok. Gelagat inilah yang telah dipahami oleh Ahok.

Ketika Megawati mendengar dari para pembisiknya hal-hal negatif tentang Ahok di DKI, menjadi semakin bingung ketika justru mendengar dari berbagai media keberhasilan Ahok di DKI. Dengan merajainya media online yang bisa diakses oleh siapa saja, maka berita yang ditutupi akan dengan mudah dibongkar. Gebrakan membahana Ahok terus-menerus didengar oleh Megawati yang justru bertentangan dari para pembisiknya.

Ahok 33
Ketika rumah adat Karo ambruk, yang biasanya ada patung kepala kerbau di puncak atapnya, ke manakah bocah ini mencari ibunya?

Kecerdikan Ahok yang sudah paham permainan dan tetap melontarkan pernyataan bahwa hubungan dia dengan Mega baik-baik saja dan bahkan Mega ibarat ibu dan kakak kandungnya, membuat Mega dilanda kegundahan, kekalutan dan kebingungan. Pertanyaan-pertanyaan besar pun muncul di benak Mega.

Jika Ahok masih merasa dekat dengan saya, lalu mengapa Ahok maju dari jalur independen, terus membina hubungan dengan Nasdem dan Hanura? Apakah Ahok masih menghormati saya? Apakah Ahok masih tunduk kepada saya? Jika ia tidak lagi menghormati saya dan ingin menendang saya, mengapa Ahok datang langsung melaporkan bahwa dia mau maju dari Jalur Independen? Mengapa Ahok tidak pernah melawan saya lewat media dan malah memandang saya sebagai ibu sekaligus kakak kandungnya? Apakah Ahok ini sosok remang-remang alias tidak jelas?

Megawati sebetulnya mengharapkan Ahok terus tunduk kepadanya dan menjilatnya. Namun Ahok tidak melakukan hal itu. Ahok tahu batasan jilatan yang sebenarnya. Di waktu bersamaan juga, Megawati tidak takut jika Ahok meninggalkannya. Bagi Megawati jika Ahok memang sudah tidak lagi sepaham dan seirama dengannya dan PDIP, maka Ahok harus bersikap jantan. Ahok harus menantang Mega, melawannya, mengkritiknya dan mengejeknya secara frontal di hadapan publik. Ahok harus jantan mengumumkan di depan publik, bahwa dia tidak membutuhkan PDIP, tidak membutuhkan Megawati.

Akan tetapi, apa yang diharapkan Megawati tidak dilakukan oleh Ahok. Ahok justru memakai taktik zigzag dalam menghadapi Megawati dan PDIP. Ia  berbelok ke kiri, berbelok ke kanan, ke kiri, terus ke kanan. Ia menari nan berliuk-liuk di hadapan Mega. Ahok menari berzigzag dengan cantiknya.

Ketika Ahok berizgzag dan berdiri di dua kaki, satu kaki di independen, namun satu kaki di samping Mega, maka Mega tak tahan untuk melontarkan kata ‘yang jantan’ kepada Ahok. Artinya jika Ahok memang jantan, maka tantanglah daku, lawanlah daku, kritik aku, gebukin aku dan jangan memanggil aku sebagai ibu atau kakakmu dan menebar pernyataan ‘gue orangnya bu Mega’. Jangan membuat aku dilanda kegalauan, PDIP-ku terus merana dan dibully oleh wong cilik, pasukan cybermu. Nah Ahok ‘yang jantan’ tunjukkan kepada Mega.



1 COMMENT

  1. Berlainan dengan elit PDIP, Djarot wk gub DKI mengatakan hari ini dalam interview dengan CNN bahwa ‘Ahok hampir tak punya kekurangan’ kata Djarot. Pernyataan Djarot ini pastilah tidak mengurangi merananya elit PDIP dalam menghadapi Ahok, atau?
    Semula Ahok ingin merangkul Djarot, tetapi dukungan PDIP tak kunjung datang. Akhirnya Ahok tunjuk Heru sebagai calon wk dalam pilgub 2017. Djarot harus pilih perahu yang mau ditumpangi, tetapi kestiaannya kepada partai dan Mega terutama jadi bahan pertimbangan utama, Ahok sudah menetapkan tak pilih Djarot. Mungkin juga ini meringankan sedikit bagi Djarot, mudah-mudahan. Djarot orang jujur, dan secara jujur juga menjelaskan bagaimana partai-partai berubah sejak reformasi, dari 48 partai sejak semula sekarang hanya sedikit saja jumlahnya. Djarot masih sungkan juga mengatakan bahwa partai-partai sudah mendekati hari senjanya bersama pemimpin-pemimpinnya juga.

    MUG

Leave a Reply