Kolom M.U. Ginting: DIGILAS JAMAN

0
206

M.U. GINTING 3Fahri Hamzah dianggap bikin kesalahan serius ketika membela keras Setnov dalam kasusnya. Setnov kemudian dipecat dari Ketua DPR karena jelas bersalah. Hamzah terkesan jelas membela yang salah. Selanjutnya Hamzah terus-terusan menyalahkan Jokowi dalam semua peristiwa, seperti Hambalang dan Natuna.

“Jokowi jangan hanya ngomong, kerjakan,” katanya.

Soal gaduh menteri, dia berpendapat harus diselesaikan ’di dalam’ jangan diberitahu kepada publik. Tetapi kemudian ternyata rakyat puas dan berterimakasih karena dapat pelajaran penting dari ’gaduh menteri’ yang terbuka itu. Semua soal busuk terkuak dan bagi publik jadi jelas semua. Itulah keuntungan soal gaduh dibuka di atas meja publik. Bagi Fahri harus diselesaikan ’di dalam’. Politiknya tetap membodohi rakyat supaya tidak tahu persoalan sesungguhnya.

jaman 2Sekarang, publik tahu mengapa Blok Masela ditutupi dari publik pada mulanya. Jokowi sendiri akhirnya membukanya di media. Jokowi punya langgam kerja ’percayakan sama publik’ terutama soal-soal besar yang menyangkut kepentingan negara. Hamzah maunya diselesaikan ’di dalam’ tanpa sepengetahuan publik. Jaman sudah berubah, yaitu jaman keterbukaan dan partisipasi publik, Hamzah ketinggalan, Jokowi malah menggunakan jaman.

Sudah ternyata Jokowi yang benar, Hamzah dipecat oleh partainya sendiri. Itulah namanya ’digilas jaman’. Dalam hal ini, banyak juga ’teman-teman’ Hamzah digilas jaman. Bukan salah jaman ha ha ha ha . . .

Begitu juga soal ’rahasia’ Freeport yang mau diselesaikan oleh Setnov diam-diam dengan Direktur Freeport yang lama MS, yang setelah itu langsung dipecat, dan Setnov juga dipecat dari Ketua DPR. Fahri Hamzah membela keras Setnov. Dia menentang jaman, jaman yang rodanya suka menggilas orang-orang yang menghalang.

Cita-cita ’merapat’ ke pemerintah juga terkesan di PKS. Dalam hal ini tentu Hamzah jadi penghalang utama!

jaman 3Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan. Itulah hukum kontradiksi dan dialektika. Dalam hal ini, pertentangan-pertentangan yang muncul di masyarakat secara ‘alamiah’, artinya datang sendiri dalam pergolakan jaman itu. Bahwa orang-orang seperti Setnov, Hamzah, akan selalu ada. Kalau orang-orang ini tak ada bisa dibayangkan bagaimana sepinya dunia ini tanpa perubahan!

Kalau semuanya bersikap ‘monggo’ saja . . . ‘boring’ . . . seperti kebanyakan orang-orang introvert misalnya orang Karo.








Leave a Reply