Kolom Darwono Tuan Guru: UJIAN NASIONAL DAN PENGUASAAN KONSEP DASAR ILMU

0
115

Darwono 2Hampir di semua sekolah, untuk menghadapi Ujian Nasional, diselenggarakan penambahan jam pelajaran bagi kelas akhir, terutama ditujukan untuk latihana soal-soal (metoda drill). Bahkan tidak jarang jadwal utama dan mata peljaran yang di-UN-kan diisi penuh dengan latihan soal sehingga pembelajaran di sekolah tidak ubahnya dengan pengajaran di Bimbingan Belajar atau tepatnya Bimbingan Test. Siswa mutlak hanya dibimbing untuk menghadapi test, yang dalam hal ini Ujian Nasional.

Seperti terkuak pada Evaluasi Pendampingan Kurikulum 2013 di salah satu kluster di Jakarta, sebagaian besar guru mata pelajaran Ujian Nasional kelas 12 SMA, “menarik” silabus semester genap ke semester ganjil. Mereka menghaapkan pada semester genap guru dapat fokus membimbing peserta didik dengan latihan-latihan soal untuk menghadapi Ujian Nasonal. Dengan proses ini maka jelas pendekatan saintifik yang seharusnya diterapkan pada kurikulum 2013 tidak dilaksanakan, sehigga tujuan dari perubahan kurikulum pun jauh dari capaian. Adagium “kurikulumnya apa saja, ngjarnya ya begitu juga” hampir menjadi kondisi umum di sekolah-sekolah Indonesia.

Perubahan Pembelajaran Sekolah menjadi Pengajaran Bimbel, itupun berjalan tanpa proses yang benar. Makna bimbingan yang semestinya mengandung makna memberi Ujian Nasional 2arahan yang benar akan sampai tujuan, memahami sangkan paraning dumadi, mau kemana dan harus bagaimana tidak dilakukan dengan proses analisis kebutuhan bimbingan yang seharusnya. Penyelenggaraan Bimbingan tidak didasari pada pemahaman potensi dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Pelaksanaan bimbingan pun hampir copy paste dari adagium di atas “pesertanya siapa saja, bimbingannya ya itu juga” , dalam artian paket-paket modul bimbingannya sama untuk semua peserta, tanpa melihat problematika spesifik peserta bimbingannya.

Sebuah proses analisis mandiri dilakukan oleh seluruh siswa kelas 12 IPA di sekolah penulis, pada Medio Oktober, setelah melakukan try out Ujian Nasional pertama sesuai Kisi-kisi UN 2016 BNSP untuk mata plajaran Biologi. Melalui penelusuran masalah dengan menggunakan “Fish Bone Diagram”, diperoleh simpulan pada hampir semua kelompok diskusi siswa bahwa masalah penguasaan konsep dasar yang kurang. Sudah barang tentu dengan penguasaan konsep yang kurang, maka kecenderungan melakukan spekulasi dalam menjawab soal sangat tinggi. Ini bisa dilihat dari hasil try out yang fluktuatif dan tidak konsisten.




Berdasar pengalaman sebagai pendidik, penulis dapat mengambil benang merah hubungan antara hasil try out dan capaian nilai Ujian Nasional, bahwa mereka yang menunjukan konsistensi dan peningkatan periodik memperoleh capaian hasil UN yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan hasil try out yang fluktuatif. Pemindaan di kelas pada mereka yang hasil try outnya fluktuatif, menunjukan tingkat spekulatif yang memprihatinkan, sebab ketika diberikan pertanyaan pelacak, pada umumnya mereka gagal paham.

Salah satu metoda untuk meningkatkan penguasaan peserta didik pada konsep/ teori dasar adalah dengan methoda Resitasi. Siswa diberi tugas mempelajari dan membuat catatan (resume) dengan bahasa sendiri akan konsep dasar berbagai bahan kajian (kontden) Biologi. Pembuatan resume ini dibatasi agar terfokus pada kisi UN 2016 dari BNSP, termasuk kategori ranah berfikirnya.

Pada UN 2016 ini ada 3 katagori ranah kognisi untuk mata pelaajaran Biologi yakni:

1. pengertian dan pemahaman

2. aplikasi atau penerapan

3. penalaran yang berdasar pada data experimen/ uji laboratorik.

Di samping bertujuan meningkatkan penguasaan konsep dasar Biologi, membuat catatan memberikan manfaat sesuai apa yang dilansir oleh Lifehac.




Lifehack menulis sebagai berikut:

Adalah hal-hal menakjubkan yang akan terjadi pada otak Anda ketika menulis setiap hari, yakni menjadi lebih terorganisir. Peningkatan kosa kata dan meningkatkan kreativitas.”

Pertama, menjadi lebih terorganisir ketika Anda mencintai menulis. Anda akan terbiasa untuk mengerjakan sesuatu lebih terorganisir dan akan lebih efisien. Karena setiap hari Anda akan menulis daftar agenda yang akan dilakukan harian, mingguan atau bulanan. Melakukan hal ini akan membantu mempertahankan jam sakral dan menit kreativitas Anda. Kemampuan mengorganisir adalah bagian penting dari kepemimpinan, oleh karena ini menulis/ membuat resume dapat memupuk jiwa kepemimpinan

Ke dua, mendapat banyak kosakata yang berarti meningkatkan kecerdasan verbal. Kosakata yang pernah peserta didik baca atau dengar akan menghilang jika tidak pernah digunakan dalam sehari-hari. Membiasakan diri menulis setiap hari akan memberikan kesempatan pada diri peserta didik untuk menggunakan kosakata-kosakata yang dimiliki, dan bahkan menambahnya dengan pengetahuan kosakata yang baru.

Ujian Nasional 3Poinnya, tidak boleh malas membuka kamus atau mencatat kosakata baru. Melalui cara ini kemampuan bahasa (kecerdasan verbal) akan meningkat. Karena kecerdasan verbal adalah bagian dari intelegensia secara keseluruhan, maka hal ini berati akan meningkan kecerdasan secara umum. Terkait dengan hal ini, maka pembuatan laporan praktikum sesuai standar karya ilmiah juga termasuk di dalamnya. Oleh karena itu, jangan terfokus pembuatan laporan dengan menggunakan LKS belaka.

Meningkatkan kreativitas jika peserta didik terbiasa menuliskan ide-ide ke dalam sebuah buku catatan. Maka, bisa saja suatu hari akan terkejut melihat ada 100 daftar ide yang telah dituliskan. Apalagi jika ide-ide tersebut satu per satu telah terwujud menjadi sebuah paragraf, cerita pendek, esai, atau barangkali sebuah buku. Secara tidak sadar, peserta telah mengasah kreativitas dan akan membantu melancarkan karier.

Di samping manfaat menulis yang disampaikan oleh Lifehaack itu, perlu ditambahkan di sini melalui metoda resitasi dengan intinya membuat resume juga akan menumbuhkan karakter sabar, teliti, dan mandiri. Sayangnya, dengan berbagai kemudahan mendapatkan bahan ajar, metode ini sangat jarang diterapkan oleh guru. Padahal, seperti pengalaman kita saat sekolah, dimana kita harus mencatat materi pelajaran dari papan tulis, pada saat itu paling tidak kita sudah 3 kali mendalami materi, yakni; membaca materi, menuliskan, kemudian mengulangi membacanya dalam rangka koreksi catatan.




Leave a Reply