Landek Pagar: Memanggil Musim Hujan di Karo

0
253

Oleh: Darul Kamal Lingga Gayo (Tigabinanga)

 

DarulLandek pagar boleh dibilang menari bersama antara sembuyak, senina, kalimbubu, dan anak beru. Ritual ini dilakukan di Tigabinanga dalam rangka memulai sebuah hajatan atau meminta musim hujan segera tiba, syukuran atas hasil panen atau sebelum berangkat berperang. Sang dukun (guru) biasanya membacakan mantra dan berkomunikasi dengan yang dikeramatkan atau disebut Nini Pagar.

Sebelum ke Nini Pagar, prosesi dimulai dari Nini Galoh (keramat tumbuhan obat) yang terletak di Desa Kuala. Gendang selok (musik kesurupan) ditabuh. Hadirin semuanya turut menari bersama. Beberapa diantaranya kemudian kerasukan. Matanya berbinar merah, menari, melompat, dan berlari. Terlihat garang.

landek pagar
Sesajen yang diletakkan di atas altar.

Lalu, sang dukun bertanya apa maunya dan apa upahnya untuk keluar dari tubuh si penari. Gendang terus ditabuh bertalu-talu. Dari tempat keramat Nini Galuh beranjak ke tempat keramat Nini Pagar sambil menari. Di tempat Nini Pagar, ritual kembali dilaksanakan.

Guru mbelin (Dukun Besar) akan kemasukan Nini Pagar dan memberi wejangan kepada hadirin.

Pemasangan bendera putih (panji) dalam bahasa Karo), dan altar persembahan dimulai oleh anak beru sebayang. Diletakkanlah rokok, kelobot jagung, sirih, pisang emas, kelapa muda, cimpa, gula merah, dsb. di atas altar. Setelah itu ersudip (berharap/ memohon) di depan altar menghadap ke Deleng Sibuaten dengan mengangkat tangan mengepit daun sirih berisi kapas diolesi baja (minyak kayu).

Ersudip dimulai dari sembuyak, senina, kalimbubu dan anak beru.




Setiap habis ersudip, maka diteteskanlah minyak baja ke sebuah mangkuk porselin sambil berkata: “Udan ko wari!”

Setelah itu baru sang dukun menaruh daun sirih ke dalam wadah yang berisi air sambil berdialog dengan Nini Keramat sembari mengamati daun sirih yang di atas air (ramalan).

landek pagar 2
Keramat Nini Pagar dan altar yang diarahkan ke Gunung Sibuaten. gunung tertinggi di Sumatera Utara, terletak di Dataran Tinggi Karo.

Enggo diher udan nda maka palu gendang ena,” demikianlah diteriakkan untuk menyatakan bahwa musim hujan telah menjelang/ mendekat.

Menarilah mereka membentuk lingkaran, dari tempo lambat ke tempo cepat. Mulailah dukun menyiram air ke atas langit sambil berteriak “udan ko wari …. udan ko wari” (turunlah engkau hari huja,n, turunlah engkau hari hujabn). Peserta lainnya menirukan ucapan yang sama.

Siram menyiram berlanjut sampai hujan turun atau selama empat hari berturut-turut.

Demikianlah ritual memanggil musim hujan menjelang (ndilo wari udan) yang dilaksanakan beberapa hari lalu [Kamis 31/3] di Tigabinanga (Karo Barat) karena musim kemarau yang berlangsung sudah terlalu lama sehingga mengganggu daur pertanian masyarakat.




Leave a Reply