Bijaklah Dalam Membela Kebajikan

0
161

Oleh: Pdt. Kazpabeni E.E. Ginting (Jambi)

 

KazpabeniKalau tidak salah, kemarin adalah hari merdekanya generasi anak SMA yang melewati UN. Saya teringat 8 tahun lalu, saya tidak ikut corat-coret ketika selesai UN SMA. Alasannya, saya takut malu kalau tidak lulus. Tapi, bukan berarti waktu itu saya apatis terhadap euphoria. Mengapa saya takut tidak lulus? Itu lain lagi ceritanya karena sebenarnya yang ingin saya tulis bukan mengenai saya.

Kemarin, sedang ramai pemberitaan bahkan menjadi viral di media sosial tentang seorang siswi yang menggertak seorang Polwan dengan mengatakan ia anak seorang jendral. Sudah tidak perlu lagilah saya menuliskan nama mereka karena sudah terlalu banyak yang menulis nama mereka di medsos lengkap dengan cercaan dan cemoohan.

Saya langsung berasumsi bahwa masyarakat kita adalah ‘masyarakat sekam’ yang mudah sekali terbakar. Saya kembali ingat bagaimana orang-orang mencaci-maki pembunuh seorang anak bernama Angeline di Bali beberapa waktu silam. Saya katakan waktu itu (juga melalui facebook), kita mencaci seolah-olah kita tidak pernah menyakiti hati atau mental anak kita, orangtua kita atau saudara sesama kita. Hendaknya komentar saya ini pada waktu itu juga masih relevan dengan konteks yang berbeda dalam hubungannya dengan kasus siswi SMA ini.

Sonya 6Saya teringat dalam satu kesempatan, kami para vikaris yang magang di Posko Zentrum Kabanjahe, membawa adik-adik korban erupsi (semuanya perempuan) mengikuti lomba vocal group antar anak Sinabung di lapangan Asrama Kodim Berastagi. Adik-adik ini sangat gigih berlatih nyanyi dan koreografinya hingga pada saat hari perlombaan saya baru tahu, ternyata mereka mengenakan kostum ‘rabit datas’ dari ide kakak-kakak vicarisnya.

Maka tampillah mereka pada saat itu, dan saya pun bangga sekali naik ke panggung untuk mengiringi dengan gitar, padahal kemampuan gitar saya nilainya 2,5 (dalam skala 1-10). Tanpa diduga, terjadi accident di atas panggung. Abit datas mereka longgar karena bergerak aktif dalam koreografinya sehingga tidak maksimal lagi karena mereka menahan kain sarung yang hampir jatuh dengan tangannya yang seharusnya lentik menari.

Wajah adik-adik itu pun semakin merah padam dan hampir menangis karena disoraki oleh penonton dengan “huuuuuuuu”. Jelas sekali ingatan saya, suara yang menyoraki mereka hampir 100% suara ibu-ibu (pernanden).

Saya kecewa sekali pada saat itu. Kecewa bukan karena kami tampil tidak maksimal. Tapi kecewa karena adik-adik perempuan kami ini malah disoraki oleh ibu-ibu yang notabene adalah perempuan dan berbudaya.




Beginilah gambaran masyarakat kita. Kita lebih senang menjadi pencemooh ketimbang menjadi orang yang bijaksana. Ketika melihat sesuatu yang tidak baik dalam pandangan kita, kita lebih memilih untuk menghina daripada memperbaiki situasi atau bahkan mengevaluasi diri. Seolah-olah melihat ketidakbenaran tiba-tiba tumbuh dan terkembang sayap di punggung kita seperti malaikat (ini juga yang saya tulis di fb ketika kasus pembunuhan Angeline).

Tulisan saya ini bukannya mau mengajak kita menutup mata terhadap kesalahan. Tapi mau mengajak kita untuk menjadikan “introspeksi diri” menjadi reaksi diri kita terhadap segala gejala-gejala di sekitar kita.

Beberapa hari lalu saya posting satu pendapat tokoh (Murray) bahwa ucapan yang tajam adalah sikap angkuh yang jahat. Sebelum menulis ini saya membaca berita bahwa orangtua siswi SMA yang memarahi Polwan ini meninggal dunia karena mendengar bahwa anaknya dihujat masyarakat.

Betapa piciknya pikiran kita jika kita katakan lagi: “Bapaknya meninggal karena kepikiran ulah anaknya”.

Bijaklah dalam membela kebajikan.




Leave a Reply