SONYA DEPARI

2
295

Oleh: Penatar Perangin-angin (Jambi)

 

Penatar Perangin-anginSonya itu masih belia. Ibarat ayam netas baru pecah bulu. Terus, kalau melakukan pelanggaran lalulintas tentunya pake ilmu selamat. Persetan urusan nanti, mau ngandalkan jendral juga boleh. Yang penting selamat dulu. Bukankah kita juga demikian?

Secara remaja usia 17 an, aku dulu lebih dari si cantik Sonya. Namanya juga ilmu mujarab, aku anak petani. Kebetulan waktu itu Dandim Tanah Karo kalau tidak salah Letkol pangkatnya. Namanya saya lupa, tetapi semarga dengan saya. Ketika itu aku cabut kelas pergi dengan gerombolan nonton bokep di Singalor (nama salah satu warkop di Berastagi saat itu).

Sonya
Sonya Depari asal Kota Berastagi (Dataan Tinggi Karo) sedang berpose sebagai seorang foto model andalan Kota Medan.

Sialnya, pada saat bokep berlangsung, ruangan kena razia dari Koramil entah Kodim. Saya kurang memahami struktur militer pada saat itu. “Cilaka” dalam benakku, tetapi itulah, namanya muda, biar jarang masuk kelas aku harus pintar cari akal. Karena si loreng yang turun tangan, aku teringat obrolan kedai kopi kalau Dandim adalah merga Perangin-angin.

Bingo …. Ketika diciduk, aku langsung bilang kalau aku anak Dandim, dengan roman muka tanpa dosa. Setidaknya aku sudah berusaha, benar saja. Salah seorang dari mereka yang kebetulan senior atau berpangkat lebih tinggi langsung menghampiri saya dan berkata: “Untung kau capat bilang. Udah, pulang saja kau. Siapa tadi kawanmu?! Besok jangan lagi kau kulihat di sini, ya!”

“Iya, Pak,”  kataku sambil ambil langkah seribu bersama rekan seperjuangan.

Setidaknya, omong kosongku saat itu mujarab menyelamatkan kami. Perbedaannya pada peristiwa Sonya adalah media. Ketika media bisa meliput peristiwa tersebut, maka publik dari berbagai macam latar belakang memberi beragam komentar. Apakah minor atau mayor, tetapi setidaknya Sonya semakin tenar, smile emoticon andaikan saja di jaman saya ada media serupa. Mungkin Sonya belum ada apa-apanya dibanding saya. Wkkwkwkwk …

Perhatian saya hanya tertuju pada polisi yang berupaya menilang pelanggar Lalin. Kok pada jiper? Mau anak jendral, kek, anak menteri, kek? Atau anak malaikat sekalipun. Apa urusannya?




Justru hal itu jadi momen serangan balik bahwa semua orang sama di mata hukum. Sebenarnya, ini adalah momen yang mempertontonkan bahwa budaya interfensi dalam tubuh kepolisian masih sangat kental. Reformasi birokrasi yang digaung-gaungkan itu tidak menghasilkan apa-apa. Polisi belum mampu berdiri pada posisinya sebagai pelayan, pelindung dan penegak hukum. Kita tidak tahu mengapa budaya takut itu masih mewarnai pada pribadi polisi berpangkat rendah. Atau barangkali kultur model lama ini sengaja dipertahankan demi kepentingan bapak-bapak terhormat di atas?

Saya pun tidak jelas-jelas tahu, tetapi jika tidak …. mengapa Surat Tilang tidak dikeluarkan? Hanya merekalah yang tahu. Saya hanya tanda tanya saja, jika itu yang terus terjadi, maka Tuhan bukanlah apa-apa di dunia ini. Pangkat tinggi jauh di atas Tuhan itu sendiri. Faktanya, ketika saya ditilang dan saya mengaku anak Tuhan, tanpa saya ceritakan kalian sudah pasti tahu apa yang akan terjadi.

Sama dengan cerita kisah Sonya, ketika dia mengaku anak jendral, maka jaminan beres ada di tangan. Akan lain ceritanya jika sicantik Sonya ngakunya anak Tuhan.




2 COMMENTS

  1. Berita tentang sonya sangat memprihatinkan,mudah mudahan ini bisa jadi pelajaran bagaimana bersikap dan bertutur kata.
    Kasihan Brigjen Arman, dia harus minta maaf atas kelakuan keponakannya (running teks Kompas TV), tentunya ini mengusik wibawanya sebagai seorang perwira tinggi.

    • hemat saya,,apa yg di katakan sonya benar,,terlebih dia masih muda dan berfikirnya juga pendek,,jadi apa yg di katakan itu dlm keadaan kalut,,wajarlah dia bilang klo pak jendral itu adalah Bapaknya..lha,,kan benar..klo Pak Arman itu bapak Udanya ..? jadi kadang Media dan org awam hanya melihat dan menelan mentah apa yg di wacanakan…..klo adat istiadat karo emang benar Pak jendaral tersebut Bapaknya…apa ada yg salah…>?

Leave a Reply