Kolom M.U. Ginting: Abu Sayyaf

0
142

M.U. GintingPenyergapan atas tentara Filipina oleh kelompok Abu Sayyaf menewaskan18 tentara mati dan 53 orang luka, sedangkan di pihak Abu Sayyaf mati 5 orang, terjadi di desa Baguindan, Basilan.

“Pasukan kami sedang akan menyerbu mereka. Di perjalanan kami disergap,” kata Kolonel Benedict Manquiquis, juru bicara militer wilayah Basilan kepada stasiun radio DZRH, seperti dilansir oleh BBC [Minggu 10/4]. Serangan penyergapan ini adalah dalam rangka pembebasan 18 warga asing yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Di dalamnya termasuk 10 pelaut Indonesia itu yang dikabarkan minta uang tebusan sebesar 50 juta peso (Rp 14,2 miliar) dengan batas waktu 8 April lalu.

 

Sandiwaranya:

Babak 1: menciptakan kharakter (pemain)

Diciptakanlah Abu Sayyaf atau di daerah lain namanya Bin Ladin, dan nanti nasib Abu Sayyaf akan mengikuti nasib Bin Ladin yang tentu saja sudah ditentukan, dan bukan yang terpenting juga. Abu Sayyaf  dipersenjatai atau disuruh beli senjata. Hasilnya untuk penjual senjata atau industri senjata atau terror-based industry. Kalau dipersenjatai, uangnya dari pajak rakyat, kalau disuruh beli senjata, pembeli harus cari duitnya sendiri tipe uang tebusan, atau seperti ISIS merampok sumber minyak lebih dulu.  

 

Babak 2: pemikiran strategis

Indonesia perlu dilibatkan/ disibukkan dalam “global war on terrorism” (Chossudovsky) mengingat Freeport yang masih terombang-ambing, dan kestrategisan Indonesia dalam banyak hal seperti ’menyemangati’ siapa yang paling canggih dan abu sayyaf 2’hebat’ dalam kesiagan militernya antara negeri-negeri Asia Tenggara, termasuk membandingkan dengan China. Perlombaan kecanggihan ini sangat menguntungkan ’war-based economy’ atau itulah tujuan utamanya.

Terlihat juga permintaan militer Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam pembebasan sandera 10 orang itu, seakan-akan Indonesia lebih canggih dalam persenjataan atau taktik perangnya yang sering dikabarkan lebih efektif.  

 

Babak 3:

Pelayaran rutin kapal pengangkut batubara dari Kalsel ke Filipina dimanfaatkan Abu Sayyaf cari sandera orang Indonesia.

Pasukan Abu Sayyaf punya sandera a.l. 10 orang Indonesia. Tentara Filipina yang punya kerjasama erat dengan tentara pemerintah AS (ingat bahwa pemerintahan AS sudah dimiliki oleh element financial centers sejak era Andrew Jackson menurut presiden Roosevelt) dan tentara ini bisa cepat dapat info dimana sandera ditahan. Mereka siap menyerang si Abu lewat jalan yang sudah disiapkan Abu dan di sana baginya tinggal bantai saja.

Ada 18 mati pasukan ’elit’ Filipina diantaranya 4 orang dipenggal lehernya. Ini tipe penghadangan atau sergapan yang jitu untuk mempersiapkan perang lanjutannya, balas dendam dari kekalahan total tentara pemerintah Filipina. Sebaliknya pasukan Abu dapat beli senjata lebih modern. Pasukan Filipina jelas makin butuh senjata lebih canggih dan merekrut lebih banyak dijadikan pasukan ’elit’ mengalahkan semua musuh.

Peristiwa serangan penghadangan atau penyergapan seperti di Basilan ini juga sering terjadi di negara lain di jaman lalu. Ketika tentara kolonial dihadang dan dihabiskan di tengah jalan oleh pasukan gerilya Indonesia, tak jarang juga terjadi di Karo dalam perjuangan Kemerdekaan. Kalau mau lihat lebih jauh dan lebih populer di kalangan TPRT (Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok) di bawah Mao Tse Tung menghadang dan menghabiskan banyak tentara Koumintang Chang Kai Shek dalam tiap perjalanan/ penghadangan.

Dulu di jaman kolonial gampang bikin serangan seperti ini karena terutama tentara kolonial tidak mengenal kondisi/ peta lapangan dan penduduk juga tidak memihak kolonial karena sedang bangkit mau merdeka, perjuangan kemerdekaan sedang meluas. Di Tiongkok juga begitu, kebangkitan PKT (Partai Komunis Tiongkok) dan gerakan pembebasan Mao sedang bangkit. Kuomintang sepenuhnya dibantu dan di bawah kolonial AS sudah tak populer di kalangan rakyat banyak. Itulah situasi nasional dan internasional ketika kematian total pasukan yang sedang dihadang/ disergap pada jaman lalu itu.

abu sayyaf 3Mengapa masih bisa terjadi sergapan panghadangan yang mematikan itu di era sekarang seperti di Basilan Filipina itu? Kan sudah tak ada perjuangan Kemerdekaan maupun perang penjajahan atau penjajahan secara fisik?

Di atas sudah terjelaskan sedikit situasi nasional dan internasional ketika tentara kolonial atau tentara Kuomintang dihadang dan disergap mati di tengah jalan, ketika mau menuju suatu tempat tertentu. Situasi nasionalnya ialah perjuangan Kemerdekaan, situasi internasionalnya ialah kaum kolonial yang masih ingin bercokol di negeri-negeri jajahan. Ini sudah tak ada sekarang, yang ada ialah perjuangan dari ’war-based economy’ untuk jual senjata.

Perang sudah tak ada, tetapi harus diciptakan pasar untuk penjualan senjata canggih dan perkembangannya, demi tujuan utamanya, ’global hegemony’. Yang terpenting di sini ialah element ’teror-based industry’ atau ’war-based economy’ yang dikuasai oleh ’financial element centers’ AS yang sekarang disebut juga neolib, yang juga mengatur politik militer AS dan pemilik pemerintahan AS sejak era Andrew Jackson.

Untuk mempertemukan tentara Filipina yang NB erat hubungan dan kerjasamanya dengan tentara AS, pertemuan fatal dengan pasukan sang Abu itu sudah tentu bisa diatur secara tepat, hanya tinggal menentukan jamnya saja. Dan pembantaian sudah jadi fakta karena100% death trap.  

“It is what Eisenhower described as the “misplaced power” of the military-industrial complex – power that makes public opposition and even thousands of dead soldiers immaterial. War may be hell for some but it is heaven for others in a war-dependent economy,” kata prof Jonathan Turley, bisa dilihat di SINI.

 

Sekiranya pasukan/ serdadu lapangan tentara Filipina mengetahui ini semua . . .. tentu mereka masih bisa pulang hidup dan sehat menemui keluarganya setelah operasi itu.




Tetapi tidaklah gampang untuk mengetahui seluk beluk perang (politiknya) secara internasional. Untuk mengetahui ini, perlu pengetahuan soal KONTRADIKSI POKOK DUNIA, terutama dari segi kepentingan dan dari segi kepemimpinan, leadership di tiap negeri. Abad lalu, kontradiksi pokok dunia adalah antara Blok Timur dan Blok Barat, semua kita sudah tahu, dan juga tahu ketika adanya kontradiksi itu di abad lalu. Kepentingan dan leadership dari kedua belah pihak jelas terlihat bagi semua. Tetapi tidaklah sejelas itu sekarang ini.

Kontradiksi besar sekarang ialah antara kepentingan nasional tiap negeri dengan kepentingan internasional neolib ’global hegemony’ (Chossudovsky). Leadership di tiap negeri juga begitu, apakah mewakili kepentingan nasional atau kepentingan internasional neolib itu. Pemikirannya lebih sederhana, misalnya seperti pro-kontra Freeport.

Di tiap negeri ada 2 macam leadership ini yang mewakili 2 macam kepentingan itu pula. Ditiap negeri terlihat manifestasi kedua macam kepemimpinan ini juga. Di Indonesia di bawah leadership Jokowi-JK terlihat  rakyatnya sangat beruntung, dan semakin terlihat dimana leadership kepentingan nasional sedang tumbuh dan berkembang dan semakin menunjukkan dominasinya setelah setengah abad didominasi oleh kepentingan luar, kepentingan internasional neolib.

Kita bisa juga menyaksikan bahwa di negeri-negeri tetangga sekeliling kita belumlah terlihat 2 macam kepentingan, dan 2 macam leadership ini sejelas seperti di Indonesia . Itulah pula kelebihan Indonesia , syukur, syukur, syukurlah  . . .








Leave a Reply