Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Akan Clean, Balik Serang BPK di Sumber Waras dan Fakta Pendukung vs Penentang Ahok

1
111

Asaaro LahaguAhok akan menjadi tersangka di Sumber Waras? Tunggu dulu. Justru sebaliknya Ahok akan clean di Sumber Waras. Ahok diperiksa selama 12 jam dengan 50 pertanyaan oleh KPK (12/4/2016). Pemanggilan Ahok oleh KPK membuat para lawan Ahok bersorak. Mereka yakin bahwa sebentar lagi Ahok akan menjadi tersangka KPK. Benarkah demikian?

Pertanyaan para penyidik KPK kepada Ahok, pasti tidak lari dari kronologis pembelian lahan, dasar hukumnya, bukti-bukti yang dibutuhkan dan fakta-fakta di lapangan. Berdasarkan jawaban Ahok dan dokumen-dokumen yang dibawanya itu, KPK kemudian akan membandingkan dengan hasil audit BPK. Dari sini kemudian KPK akan melihat  pihak mana yang memiliki bukti paling valid dan pihak mana yang selama ini hanya menebar fitnah dan tendensius.

Selama ini sumber data para penentang Ahok yang kerap memaksa KPK menetapkan Ahok sebagai tersangka Sumber Waras adalah dari BPK. Catat, 100% data penentang Ahok itu dari BPK. Data Lulung, Sanusi di DPRD diambil bulat-bulat dari BPK. Data dari aktivis Ratna Sarumpaet diambil dari BPK. Pun para advokat, Fadli Zon, Ahmad Dhani mengambil data dari BPK. Lalu apa yang menarik dari kasus Sumber Waras itu?

Pertama, untuk melihat obyektivitas sebuah kasus, kita harus mempunyai beberapa data pembanding. Lalu data pembanding itu kita uji, validasi dan mencocokkan dengan fakta. Nah, para penentang Ahok di Sumber Waras hanya mempunyai data sepihak dari BPK. Mereka sama sekali tidak punya data valid dari Pemprov DKI yang jelas disimpan Ahok. Lalu apakah kebenaran bisa diuji jika data hanya dari satu pihak?

Ahok 42Pantas KPK tertawa dan senyum-senyum melihat ulah para penentang Ahok yang memaksa KPK agar menjadikan Ahok sebagai tersangka di Sumber Waras itu. Pernyataan KPK yang mengatakan bahwa belum ada bukti valid keterlibatan Ahok di Sumber Waras, membuat lawan Ahok kebakaran jenggot. Jelas para penentang Ahok terkejut luar biasa atas pernyataan KPK itu. Bahkan aktivis Ratna Sarumpaet melontarkan pernyataan ngaco bahwa Ahok telah membeli KPK. Pun Wakil DPR sekelas Fadli Zon, logikanya mulai berkarat dengan mengatakan bahwa KPK lama sebetulnya telah mempunyai bukti keterlibatan Ahok. Ah, yang benar saja.

Ke dua, para penentang Ahok sangat percaya 100% kepada lembaga sekaliber BPK. Catat, para penentang Ahok amat percaya kepada BPK sebagai lembaga suci nan bersih. Karena itu secara otomatis data yang dikeluarkan BPK pun dipercaya 100%. Ini jelas membodohi publik. BPK itu juga tidak lepas dari kepentingan. Ingat kepala BPK DKI Jakarta Efdinal (sudah dicopot oleh BKP RI), karena ketahuan ia memiliki konflik kepentingan atas hasil audit yang dia keluarkan. Efdinal ketahuan ingin menjual lahan sengketa di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur kepada Pemprov DKI. Namun Ahok menolak membelinya.

Fakta lain tentang kebobrokan BPK adalah korupsi luar biasa mantan BPK Hadi Purnomo. Ingat harta Hadi Purnomo meluber ke mana-mana. Hartanya hampir mencapai 39 miliar Rupiah. Dari mana saja harta sebanyak itu? Hadi kemudian terbukti korupsi oleh KPK. Pun Ketua BPK sekarang Harry Azhar (juga pengusaha) tercantum namanya di Panama Paper. Dia juga ikut mengemplak pajak dan menyembunyikan hartanya di luar negeri. Jika demikian, apakah anda pantas mempercayai BPK sebagai lembaga suci nan bersih? Think smart again.

Ke tiga, pemeriksaan terhadap Ahok semalam lamanya 12 jam. Bagi penentang Ahok, pemeriksaan dengan durasi selama itu bisa diartikan bahwa Ahok dicecar KPK dengan 50 pertanyaan. Artinya apa? Bagi para lawan Ahok, itu berarti Ahok akan dijadikan sebagai tersangka. Lama pemeriksaan bisa diartikan sebagai sinyal terlibat. Nah ini tentunya logika tercela dan cacat. Jelas, durasi lamanya pemeriksaan tidak selalu identik dengan asumsi bahwa seseorang yang dipanggil sebagai saksi akan dijadikan sebagai tersangka.

Ingat, data yang dibawa Ahok sebundel. Itu berarti data itu akan dicocokkan oleh KPK dengan data yang telah diserahkan oleh BPK. Tentu saja untuk mencocokkannya butuh waktu yang lama. Nah di situ ketahuan bahwa banyak data dari BPK Ahok 44ngaco sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ahok. Catat, sebelum KPK memeriksa data yang dibawa Ahok, KPK sudah mengatakan Ahok tidak terbukti korupsi di Sumber Waras. Nah apalagi dengan data yang dibawa Ahok, maka ngaconya BPK yang tendensius semakin terang-benderang. Lalu apa artinya pemeriksaan selama 12 jam itu?

Dengan pemeriksaan selama 12 jam itu, maka KPK akan mengambil kesimpulan akhir. Logikanya, jika Ahok terindikasi korupsi, maka KPK sudah memeriksanya sebelum mengeluarkan pernyataan bahwa Ahok tidak terlibat. Maka di sini letak ngaconya BPK. Ketika data dan hasil audit BPK diperiksa seksama oleh KPK  maka terlihat ketidaksinkronan hasil audit itu antara yang satu dengan yang lain. Itulah sebabnya KPK mengeluarkan pernyataan bahwa belum ada bukti keterlibatan Ahok.

Lalu mengapa KPK baru sekarang memanggil Ahok? Mengapa bukan beberapa bulan yang lalu? Jelas pemanggilan Ahok hanya untuk menyenangkan para penentang Ahok sekaligus mendapat konfirmasi dari Ahok melalu data-data yang dibawanya. Dengan pemanggilan Ahok itu plus data yang dibawanya, maka KPK akan membuat kesimpulan akhir bahwa Ahok clean di Sumber Waras. Dengan demikian, polemik terkait pembelian lahan Sumber Waras itu akan berakhir. Ingat, sudah terlalu lama energi dihabiskan oleh berbagai pihak terkait Sumber Waras.

Nah, langkah selanjutnya adalah KPK akan balik memeriksa BPK. Siapa-siapa oknum BPK yang selama ini ikut membuat audit akal-akalan alias ngaco. KPK akan memeriksa oknum BPK yang selama ini ikut bermain dalam mengeluarkan audit. Jika demikian maka BPK balik tersudut dan kena batunya. Ingat, BPK sangat kental aroma suap-menyuap dari setiap kepala daerah agar mereka mendapat predikat penggunaan anggaran Wajar Tanpa Pengecualian. Ingat, dari celah itulah Hadi Purnomo, mantan Ketua BPK, mengumpulkan hartanya yang meluber itu.

Terakhir kasus reklamasi Teluk Jakarta. Lagi-lagi para penentang Ahok amat yakin bahwa Ahok ikut bermain dengan pengusaha terkait reklamasi itu. Benarkah demikian? Ahok mempunyai karakter batu cadas. Ahok justru dekat dengan pengusaha agar duit mereka bisa dia ‘palak’ untuk membangun Jakarta. Ahok jelas memanfaatkan pengusaha untuk ikut membangun Jakarta. Masih ingat bagaimana pengusaha memaki-maki Ahok karena Ahok menaikan UMR Jakarta berkali-kali lipat itu? Atau bisa dijelaskan mengapa Ahok menuliskan kalimat disposisi ‘gila’ pada draft perubahan yang diajukan Muhammad Taufik itu? Think smart again. Penentang Ahok mencurigai Ahok, justru KPK mencurigai DPRD DKI Jakarta.




Lalu mari kita lihat fakta selanjutnya apakah kasus Sumber Waras, kasus reklamasi Teluk Jakarta membuat kepercayaan masyarakat Jakarta hilang drastis kepada Ahok? Mari kita lihat faktanya.

Jika Ahok dicap sebagai gubernur kasar, sombong, otoriter, raja gusur, munafik, terlibat korupsi dan seterusnya, logikanya adalah dukungan kepada Ahok untuk maju Pilgub menyusut atau berkurang dan bahkan bisa tidak ada lagi. Namun mari kita lihat kenyataan di lapangan. Kenyataannya pengumpulan KTP untuk Ahok per 13/4 sudah mencapai 560.000 (baca di SINI)

Bila kita bandingkan dengan data dari Petisi Tangkap Ahok yang digagas oleh Dr. Kholis Audah per 13/4 yang, sampai tulisan ini diturunkan, hanya berjumlah 2.695 pendukung (baca di SINI). Petisi Tangkap Ahok itu pun dalam satu jam bahkan tidak bertambah sama sekali. Bandingkan dengan data pendukung Ahok lewat pemberian foto copy KTP yang terus bertambah ribuan dalam hitungan jam.

Untuk mendukung Ahok lewat fotocopy KTP cukup ribut. Anda harus sediakan waktu mengisi formulir dan pergi ke mall-mall atau harus ke markas Teman Ahok di Pejaten. Namun tetap saja ada banyak orang yang berduyun-duyun memberikan dukungannya kepada Ahok. Itu berarti tetap saja banyak orang yang mendukung Ahok.

Lalu bagaimana dengan Petisi Tangkap Ahok? Jelas jika warga Jakarta mau, tidak susah meng-klik di website untuk mendukung petisi itu? Dan faktanya, ternyata penentang Ahok adalah orang-orang yang itu-itu saja, para pejabat yang itu-itu saja. Para demonstrasi yang menentang Ahok pun adalah orang-orang yang itu-itu saja. Jika dibandingkan dengan pendukung vs penentang Ahok maka terungkap bahwa pendukung Ahok ternyata 100 kali lipat lebih banyak dari para penentang Ahok. Jadi itulah faktanya, sekurang-kurangnya hingga hari ini.








1 COMMENT

  1. “Lalu apakah kebenaran bisa diuji jika data hanya dari satu pihak?” tulis AL di kolomnya.

    Ini dia pertanyaan yang MUTLAK harus ada untuk menguji KEBENARAN. Data atau pernyataan apa saja harus diuji dari segi-segi yang bertentangan. Jangan dulu memutuskan kebenaran satu persoalan kalau baru ditinjau dari satu pihak saja. Kalau ditinjau dari banyak segi atau paling mantap dari segi-segi bertentangan atau sudut pandang yang bertentangan atau berkebalikan maka ada pembanding. Persoalannya akan berubah dan berkembang lebih luas dan lebih mendalam, artinya juga lebih ilmiah, dpl lebih mendekati kebenaran. Proses mendekati persoalan berangsur akan lebih objektif dan berangsur akan lebih meninggalkan perasaan dan nafsu untuk menang.

    Bahwa kebenaran yang bakal muncul dari ‘debat’ Ahok kontra penentangnya pastilah akan menguntungkan semua, terutama penduduk/rakyat Jakarta. Kebenaran yang akan lahir dari ‘huru-hara’ ini pastilah akan memenangkan semua, kecuali beberapa orang akan selalu merasa kalah. Ini tak bisa dihindarkan juga. Dalam sejarah kuno dan kitab-kitab kuno yang terkenal itu, Judas selalu merasa kalah, dan sampai sekarang. Dan dalam kitab kuno itu orang ini juga harus selalu ada disamping Jesus. Barangkali itulah data pembanding tadi dalam era kuno he he he . . .

    MUG

Leave a Reply