Kolom Darwono Tuan Guru: BREBES PUSAT AGRIBISNIS NASIONAL

0
294

Darwono 2Membaca headline dari sebuah media online berjudul “Oleh-oleh dari Brebes: Jokowi Bawa Sekarung Daun Bawang Penuh Ulat” sungguh miris hati sebagai salah seorang warga Brebes. Dengan daun penuh ulat, dapat diprediksi bagaimana hasil panen nanti.

Panene bawange kuncar-kuncar,” demikian kira kira keluhan para petani bawang Brebes dalam bahasa setempat yang artinya “panen bawangnya kecil-kecil”.

Masyarakat Brebes memang seharusnya bersyukur, sebab Allah SWT telah menganugerahi “Angin Sikumbang” yang memberikan kondisi kondusif bagi wliyah Pantuira Barat Brebes  sangat menguntungkan sebagai sentra produksi bawang, bahkan menjadi salah satu sentra produksi bawang nasional. Brebes sebagai ikon bawang merah nasional, tentu saja produksi bawangnya sangat mempengaruhi harga bawang nasional apalagi kita tahu, harga bawang saat ini masih pada level yang tinggi. Dengan fakta yang disampaikan petani berupa oleh-oleh naun bawang penuh ulat itu, maka dapat diprediksi, menjelang Ramadhan dan lebaran harga bawang akan segera melangit.

Brebes
Jokowi saat diberi oleh-oleh sekarung daun bawang. Foto: Tribun Regional.

Kita memang belum tahu jenis ulat apa yang ada pada karung daun bawang yang dibawa presiden ke Jakarta.  Jika itu adalah ulat grayak (Spodoptera exigua)  yang sangat ditakuti masyarakat tani bawang, atau lainnya. Ulat bawang ini dapat menyerang tanaman sejak fase pertumbuhan awal (1-10 hst) sampai dengan fase pematangan umbi (51-65 hst). Ulat muda (instar 1) segera melubangi bagian ujung daun, lalu masuk ke dalam daun bawang. Ulat memakan permukaan daun bagian dalam, dan tinggal bagian epidermis luar. Daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih transparan, akhirnya daun terkulai.

Sebagai upaya pengendalian ulat Spodoptera sp. ini adalah Telur dan ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan; Pasang perangkap ngengat (feromonoid seks) ulat bawang 40 buah/ha; apabila intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman, dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif, misalnya Hostathion 40 EC, Cascade 50 EC, Atabron 50 EC atau Florbac. b. Hama trip (Thrips sp.) Gejala serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun. Penanganannya dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya Mesurol 50 WP atau Pegasus 500 EC.

Meskipun penggunaan insektisida cukup efektif, namun perlu pengawasan yang efektif pula. Sebab, Otto Sumarwoto, menemukan residu insektisida ini pada Crustase yang ada di persawahan bawang. Sementara penulis pada ahir tahun 80-an menemukan berbagai residu insektisida terutam Endosulfan pada telur bebek di Brebes yang dikembara di sawah sawah.  Keberadaan residu insektisida itu sesuai alur  rantai makanan. Oleh karenanya, sangat diperlukan pengembangan “pertanian Hijau”, pertanian organik untuk tanaman bawang, sebagai misal menggunakan musuh alami (predator) ulta grayak.




Namun sayangnya, sudah berpuluh-puluh tahun hal itu terjadi, masih juga terpakau pada insektisida, padahal daerah Brebes sangat potensial untuk dipertahankan sebagai daerah pertanian dalam makna luas (perikanan, pertanian berbagai tanaman, peternakan termasuk perkebunan). Hal ini terkait dengan wilayah Brebes sendiri yang terhampar dari daerah pesisir hingga dataran tinggi, dengan potensi-potensinya yang beragam, termasuk potensi khas Bumiayu yang berada didaerah cekungan, yang menghasilkan beras kualitas tersendiri meski dari varietas padi yang sama dengan daerah lain.

Sudah selayaknya Brebes dipertahankan menjadi daerah agraris komplek, dan tidak terpengaruh oleh godaan laju industrialisasi. Pengembangan Green Agriculture, perlu ditingkatkan terus-menerus sejalan dengan spirit go green di dunia Internasional. Penulis yakin, Brebes dapat menjadi Pusat Agribisnis Nasional (tidak sekedar bawang) yang mempu go International jika dikelola dengan tepat




Leave a Reply