Kolom M.U. Ginting: DUTA PANCASILA

0
145

M.U. GINTING 3Sudah menghina Pancasila, Zaskia malah jadi Duta Pancasila. Hebat, bukan? Ini juga adalah salah satu contoh ’paradoks’ atau yang di mailing list Karo kita sering bilang meninjau dari segi bertentangan atau dari segi kebalikan, atau ’kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan’. Semakin mantap dan semakin jelas bagi kita perumusan dialektis ini. Zaskia yang menghina Pancasila malah jadi Duta Pancasila!

Ada soal lainnya yang ingin saya sebutkan, yaitu soal keterbukaan yang biasa didefinisikan sebagai soal yang originalnya harus dari masyarakat itu sendiri. Bukan berasal dari luar, katanya. Pancasila itu apakah keterbukaan atau ketertutupan? Sekarang tentu kita bilang ’keterbukaan’, tetapi dalam era Orba dia jadi ’ketertutupan’, karena apapun ditutupi ketika itu. Siapa yang berani buka, bisa hilang tengah malam.

Bagaimana sekarang, Pancasila adalah keterbukaan atau ketertutupan. Kalau dikaitkan dengan masalah dunia kerahasiaan bank dan dunia pajak termasuk di Zaskia GotikIndonesia ini, tentu tak sesuai dengan Pancasila yang terbuka itu. Begitu juga kalau dikatakan ketertutupan yang katanya selalu berasal dari luar masyarakat itu, sedangkan keterbukaan selalu harus atas dasar keaslian (pemikiran) yang ada dalam masyarakat itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan agama Kristen dan Islam yang juga berasal dari luar? Agama Islam dibawa oleh pedagang Islam dari Arab atau India, dan agama Kristen dibawa oleh kaum kolonial dan yang semula malah dipakai supaya rakyat tak melawan kolonial seperti terjadi di Karo. 

Kalau agama asli dari masyarakat sendiri tentu bukan Islam atau Kristen. Agama Suku Karo, agama Suku Batak atau Suku Jawa atau Suku Bali semua ada aslinya yang lahir dalam masing-masing masyarakat itu sejak adanya manusia asli itu. Jadi, ’patut’ juga kalau rezim tertutup Soeharto pakai ketertutupan Pancasila itu, karena Ketuhanan yang Maha Esa dalam Pancasila itu seperti dalam Islam dan Kristen, aslinya bukan dari masyarakat asli Indonesia tetapi dari luar, agama import dari negeri lain.




Ini sekarang kita pakai keterbukaan dalam menganalisa soal apa saja, termasuk definisi Ketuhanan yang Maha Esa dalam filsafat Pancasila ini, apakah asli atau dari luar, yang akan menentukan keterbukaan dan ketertutupan menurut dasar definisinya. Bahwa era ini sudah menjadi era keterbukaan dan partisipasi publik, adalah kenyataan.

Dalam keterbukaan, kita akan selalu menemukan jalan, karena dari ide semua orang (publik), kepandaian dari banyak otak/ kepala. Banyak kepala akan selalu melahirkan keragaman yang tak terbatas, tidak bisa dilahirkan dalam satu kepala he he he . . . diskusi terbuka dan partisipasi publik sebanyak mungkin akan selalu melahirkan sesuatu kemajuan tertentu.




Leave a Reply