Kolom M.U. Ginting: NEGARA ISLAM DULU DAN SEKARANG

0
143

M.U. GintingDI/ TII Kartosoewirjo punya cita-cita mendirikan Negara Islam yang dianggap sangat ideal oleh sebagian besar masyarakat Islam Indonesia pada jamannya, setelah Indonesia mendapatkat  kemerdekaan. Bisa dikatakan, mempunyai dasar di dalam hati sanubari orang-orang Islam atau rakyat Islam Indonesia, mendirikan negara Islam yang dipercayai pasti akan lebih baik dari negara sekuler Soekarno.

Begitulah tingkat kesedaran ketika itu.

Sekarang, di era informasi dunia, tak ada lagi kesedaran dalam tingkat itu. Pengetahuan tentang keadaan sosial dunia, termasuk pengetahuan tentang politik dunia sudah jauh lebih tinggi.

Berlainan dengan DI/ TII Kartosoewirjo, kelompok Santoso yang sekarang disebut teroris, tak ada kaitannya dengan hati sanubari rakyat setempat. Tak ada kaitannya dengan agama Islam (JK) dan tak perlu ditakuti (Jokowi), tetapi erat kaitannya dengan pedagang senjata dunia, yang kasih makan keluarganya dengan duit berlumuran darah (Paus Fransiskus). Santoso dibentuk sebagai bagian dari ’teroris dunia’ demi tercapainya ’global hegemony’ (Chossudovsky) dari pihak neolib untuk cari keuntungan besar dari penjualan senjata atau bom canggih.

Di belakang teroris dunia itu ada tujuan tertentu tak terpisahkan dari Greed and NI 2Power atau global hegemony neolib itu.

Dengan adanya 3 macam pernyataan itu (Jokowi, JK dan Paus Fransiskus), ternyata pengaruhnya sangat besar ke seluruh publik dunia, sehingga pandangan dan penilaian masyarakat atas terorisme jadi berubah secara drastis. Karena itu juga, pemerakarsa teroris ini (neolib global hegemony) terpaksa mengganti nama terorisme dengan nama lain, seperti ’neo-terorisme’ yang baru saja disebutkan oleh Polri dalam soal Siyono, dan ’extrimisme’ atau ’extrimisme kekerasan’ yang disebutkan oleh Ban Ki Moon di Jeneva 7-8 April lalu.

Nama baru ini sudah dianggap sesuai dengan situasi sekarang. Pertama-tama adalah karena tak ada kaitannya dengan Islam seperti yang lama, tetapi melainkan dalam kaitannya dengan pernyataan Jokowi ’tak perlu ditakuti. Ke dua adalah soal kaitannya dengan dagang senjata (terror-based industry dan war-based economy) sangat susah untuk dihilangkan dari ingatan publik. 

Obama sudah berusaha melawan tendensi ketidaktakutan itu dengan mengatakan bahwa teroris bisa pakai bom nuklir sebesar buah apel saja, tetapi bisa mematikan ratusan ribu orang kata Obama di Wasihington dalam konferensi terorisme yang baru lalu. Maksudnya tentu untuk mengatakan bahwa teroris masih perlu ditakuti, bertentangan dengan penyataan Jokowi teroris tak perlu ditakuti.

Obama adalah perwakilan negara atau pemerintahan AS. Pemerintahan ini sudah sejak era presiden Andrew Jackson dimiliki oleh pemodal besar ‘finance centers’ yang sekarang kita namakan neolib ’the global hegemony’ (istilah Chossudovsky).




Presiden Roosevelt tahun 1933 bilang:  “The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.” Andrew Jackson adalah presiden ke 7 AS (1829-1837). Fenomena ini terlihat juga sangat jelas misalnya dari kepemilikan bank negara AS (FED), bukan milik negara tetapi dimiliki secara privat oleh gerombolan finance centers ini.

Kalau Obama bilang teroris bisa pakai bom nuklir, bisa diduga siapa yang menginginkan supaya Obama ngomongkan begitu. Tentu saja mereka adalah orang-orang atau grup orang-orang yang mau cari untung dengan penjualan senjata seperti kata Paus Fransiskus, yang memberi makan keluarganya dengan duit yang berlumuran darah. Omongan Obama pastilah titipan dari golongan ’terror-based industry’ atau ’war-based economy’.

Kalau Jokowi, atau JK atau Paus Fransiskus ngomong soal terorisme itu bisa dipastikan tak ada finans center di belakangnya yang menginginkan mereka ngomong seperti yang mereka sudah omongkan. Itulah bedanya omongan Obama dengan omongan tiga orang ini. Omongan ketiga orang ini adalah asli dari hati sanubarinya masing-masing dan sesuai dengan kenyataan yang mereka lihat sendiri.








Leave a Reply