Kolom Darwono Tuan Guru: PASTI BISA (Pembelajaran Berkarakter Nusantara)

0
223

Darwono Tuan GuruSebuah tayangan di salah satu TV nasional “Menjadi Indonesia” mengingatkan pada tulisan kami edisi 1 Oktober 2014. Di Bawah Judul Berindonesia dalam berbangsa kami menulis: “Satu hal yang terpenting adalah, pendidikan harus benar-benar menjadikan manusia utuh dengan kemanusiaannya. Output pendidikan Indonesia harus menjadi insan kamil, manusia Indonesia yang utuh dengan keindonesiaannya. Oleh karena itu, paradigma pendidfikan yang telah mengarah menjadi “baud dan mur” dari komponen-komponen mesin industrialisasi harus dirubah menjadi pendidikan yang mengarah pada keutuhan hakekat manusia sebagai Abdullah dan halifatullah.

Di sinilah tugas berat kita sebagai suatu bangsa. Namun, penulis yakin dengan karakteristik bangsa yang penuh gotongroyong, beban berat bangsa akan dapat dipikul bersama-sama.

Menjadi Indonesia melalui pendidikan bukan berarti disediakan materi khusus, Menjadi Indonesia dalam kurikulum pendidikan formal kita seperti materi Wawasan Nusantara dulu atau muatan moralnya melalui PMP (Pendidikan Moral Pancasila), tapi melainkan, lebih diintegrasikan dalam proses pembelajaran sebagai upaya pembudayaan langsung pembentukan karakter bangsa yang toleran, bijak, dan santun.

Penekanan pada karakter Nusantara yang demikian dilandasi oleh kenyataan munculnya berbagai tragedi bangsa yang diakibatkan oleh tidak diterapkannya karakter unggul bangsa Indonesia. Ini adalah akibat pendidikan cenderung menyeret pada euphoria kebebasan berpendapat dan bersikap, tidak sepenuhnya sejalan dengan pesan-pesan luhur para pendiri bangsa. Fenomenanya tampak pada outcome pendidikan kita yang justru lebih “liberal” dari mereka yang hidup di negara liberal.

pendidikan 1Untuk pembentukan karakter bangsa dengan pembudayaan melalui interaksi pembelajaran antara murid dengan murid, murid dengan guru, bahkan antara guru dengan guru, melalui tulisan ini kami paparkan konsep Pembelajaran Berkarakter Nusantara. Ada 7 pilarnya yakni: Proaktif, Antuasias, Saintifik, Toleran, Inspiratif, Bijak dan Santun yang diakronimkan menjadi Pembelajaran PASTI BISA.

Berikut garis besar prinsip-prinsip Pembelajaran PASTI BISA.

 

[one_fourth]1. Proaktif[/one_fourth]

Proaktifitas bukanlah sekedar aktif sebagaimana termaktub pada pendekatan siswa aktif (CBSA) maupun pada Pembelajaran aktif, komunikatif, efektif dan menyenangkan (Pakem). Proaktif, sebagaimana terminologi Steven R. Covey pada 7 Habits, mengandung makna berinisiatif, fokus, efektif, bertanggungjawab dan selalu meningkatkan kualitas diri.

Covey menjelaskan bahwa mengambil inisiatif bukan berarti mendesak, menjengkelkan, atau gresif yang tidak mengakui tanggungjawab kita untuk menciptakan sebuah pembelajaran terjadi. Seorang proaktif menjadikan cinta sebagai kata kerja mencinta, cinta pendidikan diwujudkan dalam mendidik dengan penuh tanggungjawab. Guru yang proaktif adalah mereka yang cerdik, digerakkan oleh nilai, membaca realitas dan tahu apa yang dibutuhkan.

Seorang proaktif memfokuskan keberhasilan pembelajaran pada wilayah yang dapat dipengaruhinya (Lingkaran Pengaruh). Guru mengupayakan pembelajaran dengan apa yang guru dapat lakukan untuk memperoleh hasil maksimal. Sifat dari energi guru yang demikian adalah eneri positif yang dapat memperluas dan memperbesar yang menyebabkan lingkaran pengarauhnya meningkat.

Manifestasi paling jelas dari proaktifitas seorang guru adalah kemampuan seorang guru untuk membuat dan memenuhi komitmen dan janji, komitmen yang kita buat pada diri sendiri dan orang lain dan integritas kita pada komitmen itu.

 


[one_fourth] 2. Antusias[/one_fourth]

Makna leksikal dari kata antusias adalah bergairah, bersemangat. Pengertiaan ini juga terkandung makna menyenangkan dalam makna yang internal. Berbeda dengan menyenangkan yang lebih terlihat pada aspek internal seperti suasana heboh, sorak sorai, dst.

Antusias lebih mencerminkan suasana jiwa, hati, fikiran yang tertarik, dan bersemangat untuk melakukan pembelajaran. Suasana bisa saja tenang, syahdu bahkan sepi, tetapi fikiran dan jiwa terus melakukan pembelajaran dengan penuh gairah.

 


[one_fourth]3. Saintifik[/one_fourth]

Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan penalaran induktif ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning).

pendidikan 2Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.

Metode Ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Proses pembelajaran harus dipandu dengan kaidah – kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah.

 


[one_fourth]4. Toleran[/one_fourth]

Toleransi adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Sikap toleransi sangat perlu dikembangkan karena manusai adalah makhluk sosial dan akan menciptakan adanya kerukunan hidup.

Dalam pendekatan pembelajaran PASTI BISA, toleran dimaknai sebagai mengharagi cara-cara yang berbeda dalam melakukan berbagai upaya pembelajaran. Sebagai contoh adalah memghormati cara penyelesaian yang bertbeda-beda dari sebuah hitungan matematik yang terpenting adalah tidak keluar dari kaidah-kaidah matematika.

Pembudayaan Toleransi dalam pembelajaran diharapkan mampu membangun toleransi dalam kehidupan nyata yang sangat diperlukan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbhineka dalam berbagai aspeknya. Apalagi realitasnya kita menghadapi tantangan disintegrasi bangsa yang tidak kecil.

 


[one_fourth]5. Inspiratif[/one_fourth]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Diknas, kata “inspirasi” adalah kata benda yang berarti “ilham”. Sedangkan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti:

1. petunjuk Tuhan yang timbul di hati

2. pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati; bisikan hati

3. sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb)

Adapun inspiratif adalah kata sifat yang bermakna mengilhami. Guru yang inspiratif adalah guru yang dapat memberikan “Ilham” di hati peserta didik sehingga peserta didik dapat berubah menjadi lebih baik.

pendidikan 3Hal penting yang harus dilakukan seorang guru adalah bagaimana senantiasa berusaha menemukan pemantik dan penyulut spirit inspiratif. Dengan usaha yang dilakukan secara terus menerus, penuh semangat, dan dilandasi oleh keyakinan yang kokoh, maka spirit inspiratif akan dapat tetap terjaga secara stabil.

Naik turunnya spirit inspiratif sebenarnya merupakan hal wajar dan manusiawi. Melalui berbagai pendekatan guru inspiratif selalu berusaha mencari pemantik perubahan setiap diri siswa dengan tepat. Dalam Pengalaman penulis, perubahan siswa kadang terpegang melalui berbagai interaksi guru-murid baik dalam pembelajaran di kelas, di luar kelas bahkan di luar pembelajaran formal. Pemantik perubahan siswa, pernah penulis tangkap justru saat dialog santai pasca berolahraga bersama (badminton).

 


[one_fourth]6. Bijak[/one_fourth]

Bijak adalah suatu cerminan sikap dan prilaku seseorang terhadap sesuatu yang ia lihat berdasarkan apa yang ada di pikirannya secara tepat dalam situasi dan kondisi seperti apapun serta bersifat objektif dan mampu mengambil makna/ pelajaran penting dari apa yang dilakukannya.

Dengan kata lain, orang bijak adalah orang yang mampu mengambil keputusan dengan tepat, baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa memihak secara adil dan objektif. Orang yang bijak biasa berinteraksi dengan bahasa yang umum atau bahasa yang dimengerti oleh semua kalangan. Ini bertujuan agar bahasa dan interaksinya mudah dimengerti dan direspons oleh berbagai kalangan.




Orang yang bijak memiliki ciri-ciri berkata secara ramah dan tenang, tidak pernah terburu-buru, dan selalu tegas. Orang yang bijak memiliki prilaku yang sangat berbeda dibanding dengan orang-orang biasanya. Hal ini dikarenakan prilakunya yang mempengaruhi kebanyakan orang atau secara objektif prilakunya mempengaruhi orang lain, tindakannya yang membuat orang lain melihat secara berbeda. Karena itu, orang-orang bijak dikatakan sangat berkharisma.

Dengan demikian, dengan pendekatan bijak, seorang guru akan menempati ruang tersendiri di hati peserta didiknya. Situasi ini sangat menguntungkan dalam upaya mengembalikan posisi guru sebagai figur “yang digugu dan ditiru” sehingga proses Nation Character Building dapat dijalankan lebih efektif.

 


[one_fourth]7. Santun[/one_fourth]

Dalam meneguhkan jati diri bangsa, pembelajaran yang santun perlu dibudayakan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, santun diartikan sebagai (1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; (2) penuh rasa belas kasihan; suka menolong.

Dalam keseharian, kata santun disandingkan dengan kata sopan menjadi sopan santun. Pengertian sopan sendiri adalah (1) hormat dan takzim (akan, kepada); tertib menurut adat yang baik: (2) beradab; (3) baik kelakuannya (tidak lacur, tidak cabul).

Santun dalam proses pembelajaran adalah bagaimana interaksi guru dengan murid, dan murid dengan murid berpegang pada norma-norma sopan santun bangsa Indonesia. Dengan cara demikian maka jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah san santun tetap terpelihara.

Dari uraian singkat tentang pendekatan PASTI BISA di atas, dapat ditarik benang merah bahwa pendekatan PASTI BISA dalam proses pembelajaran merupakan pendekatan integratif antara pertama, Pendekatan Pakem, ke dua, pendekatan Ilmiah dan ke tiga adalah pengokohan jati diri bangsa yang toleran, bijak dan santun dalam proses belajar mengajar.








Leave a Reply