Pesta Tahunan Karo di Deliserdang, Kok Ada Tortor?

1
198

Oleh: Simson Ginting Sinisuka

 

Simson Ginting Sinisuka 2Beberapa bulan ke depan pesta tahunan Karo (kerja tahun) akan tiba di daerah Deliserdang (Karo Hilir). Mungkin kita pernah mendengar pesta rires (lemang) yang diadakan setiap tahun di Sibiru-biru (Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deliserdang). Di dalam acaranya ada disisipkan manortor (menari dalam bahasa Batak) padahal acara ini adalah tradisi Karo dan di daerah Karo pula. Istilah menari dalam bahasa Karo adalah landek, bukan manortor.

Dulu, Bang Sada Arih Sinulingga pernah mengatakan bahwa manortor dibuat akibat panitia kekurangan dana. Mereka mengambil kebijakan agar nande aron (penari gadis) bediri berjajar dan diiringi musik serta membuka telapak tangan sambil menerima cokong-cokong (sumbangan) dari penonton.

Entah mengapa, bentuk tangan dalam menari juga berubah. Nama tarian juga berubah menjadi tortor. Apakah setiap daerah di Deliserdang diadakan acara manortor itu berawal dari kekurangan dana?

Di daerah Kecamatan Tiga Juhar (Kabupaten Deliserdang) hingga Kabupaten Simalungun tiap tahun mengadakan pesta tahunan bernama rebu-rebu. Menurut orang-orang tua di daerah ini, rebu-rebu ini awalnya diadakan sebagai bentuk ucapan syukur karena sudah selesai masa panen serta tidak ada musibah yang melanda kampung tersebut.




Sehingga, saat pesta rebu-rebu semua msyarakat akan melakukan “mukul gule cibakut ras kaperas“. Setelah itu, diadakan pesta gendang (musik tradisional Karo) di kampung tersebut. Sampai sekarang tradisi itu tetap dilakukan.

Adanya tor-tor saat pesta tahunan rebu-rebu di Kecamatan Tiga Juhar hinga Kabupaten Simalungun karena msyarakat daerah tersebut tidak semua Suku Karo
sehingga disisipkanlah acara manortor. Walaupun dalam acara rebu-rebu sangat menonjol kebudayaan Karo.

Saya menyimpulkan, alasan di daerah Deliserdang ada istilah tor-tor berawal karena kekurangan dana serta perubahan bentuk tari adalah karena sifat masyarakat Karo yang sangat terbuka terhadap suku lain. Hanya saja, saya belum berani menyimpulkan apakah sifat toleran dari Suku Karo seperti ini adalah perwujudan kekuatan dari tradisinya atau justru merupakan kelemahannya.

Mejuah-juah!




1 COMMENT

  1. “Saya menyimpulkan, alasan di daerah Deliserdang ada istilah tor-tor berawal karena kekurangan dana serta perubahan bentuk tari adalah karena sifat masyarakat Karo yang sangat terbuka terhadap suku lain. Hanya saja, saya belum berani menyimpulkan apakah sifat toleran dari Suku Karo seperti ini adalah perwujudan kekuatan dari tradisinya atau justru merupakan kelemahannya”.

    Ini dia pertanyaan yang menggelitik. Yang lainnya ialah dari segi KEKUASAAN yang berada ditangan pendatang Batak! Umumnya tak ada sesuatu apapun terutama soal budaya dan kultur yang tak ada kaitannya dengan KEKUASAAN.

    MUG

Leave a Reply