Suku Karo, Jangan Hanyut

1
226

Oleh: Syabila beru Ginting

 

SyabilaPerbincangan singkat bersama rekan kantor tadi tentang asal usul sukuku, suku Karo menjadi cambuk yang melecut naluri untuk lebih mengenal sukuku. Bagaimana tidak, beru Ginting di akhir namaku malah jadi bahan “bully” teman bermarga Simbolon di akhir namanya. Menurutnya, aku ini adalah Batak. beru Gintingku dan Simbolon itu sama, hanya beda penyebutan sesuai bahasa Karo.

Aku hanya mampu menjelaskan bahwa aku bukan Batak, tapi Suku Karo. Hanya sama-sama dari Provinsi Sumatera Utara, yang lebih mereka kenal dengan daerah Medan. tapi Karo, ya Karo, Batak ya Batak. Bahasa dan adat kita berbeda.

Tapi, teman saya itu terus ngotot bahwa Karo itu adalah bagian dari Suku Batak dan tak pernah lupa dengan passwordnya, Horas. Apalagi jika ada pesta pernikahan rekan Syabila 2kantor yang juga dari Suku Karo tapi tidak memperlihatkan kekaroan. Aduh, makin berasa di atas angin teman saya itu.

Berakhirnya waktu istirahat lah yang menyelamatkan kami dari pidato panjangnya. Saya rasa, dia lebih cocok jadi juru bicara dari pada web designer. Saya dan keluarga mengakui jika selama ini tidak begitu mendalami asal usul, adat dan kebudayaan suku kami yakni Suku Karo.

Aku lahir dan besar di Jawa. Ibuku Suku Aceh. Bapak hanya memberitahukan kami Suku Karo berasal dari Medan. Beliau hanya berpesan agar tidak menikah dengan yang satu merga. Adat istiadat serta bahasanya, belum dijelaskan secara detail.

Akhirnya lewat teman kuliahku dulu menyarankan aku bergabung dengan grup Suku Karo via Facebook, Jamburta Merga Silima. Senang rasanya mendapat banyak informasi tentang sejarah Ginting dan merga lain yang ada di Suku Karo. Saya juga jadi tahu banyak tentang adat istiadat, kuliner, tempat-tempat sejarah dan wisatanya. Saya tidak lagi gagap jika teman saya itu pamer tentang Medan dan sukunya serta membalas salam horasnya dengan Mejuah-juah.

Setiap hari berlalu, saya semakin menikmati perbincangan di grup itu. Kesopanan tutur bahasanya, keunikan tradisi masyarakat Karo yang diposting member grup membuatku betah di grup itu. Saya pun kerap berbagi cerita tentang perkembangan seputaran Tanah Karo kepada bapak dan ibu.

Intensitasku di grup itu semakin meningkat saat topik perbincangan mulai membahas Karo Bukan Batak. Karo punya sejarah yang jelas, bukan suku pengekor dan bukan bagian dari kekuasaan Kerajaan Batak, seperti yang dibanggakan teman saya itu.

Pro dan kontra kerap mewarnai setiap diskusi dan perbincangan. Tak mudah mentasbihkan Karo Bukan Batak. Bahkan, ke sesama Suku Karo sendiri telah terdoktrin bahwa Karo sama dengan Batak, ditambah lagi banyak perkawinan yang terjadi antara Suku Karo dengan Suku Batak, bahkan nama gereja yang menyematkan kata Batak di dalamnya menjadi topik yang panas.




Masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Tidak jarang emosi pun meluap di komentar yang menanggapi Karo Bukan Batak. Miris rasanya, terkadang malu dan gemes sendiri membaca kata-kata kasar, hujatan dan hinaan, antara sesama member.

Demikiankah aslinya sukuku? Dimana santun yang sempat kubanggakan ke temanku yang ” kasar” saat berkomunikasi? Tak hanya menghina, meremehkan komentar. Menghina fisik, pendidikan, jabatan, pengalaman sesama member yang saling perang komentar pun kerap terlihat.

Haruskah demikian? Tidakkah harusnya kita saling menghargai dan mendukung?Kalau pun ada diantara kita yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Karo memang bukan bagian dari Batak, ya santai saja. Begitu juga sebaliknya, pihak yang mendukung Karo Bukan Batak jangan terpancing emosi dan “membully” orang yang belum sepaham. Setidaknya, sudah ada bukti dan fakta yang akurat bahwa Karo adalah Karo bukan Batak, bukan Melayu, bukan Simalungun apalagi Jawa.

Wahai Karo sejati , mari bersama memajukan suku Karo.

Mejuah-juah.








1 COMMENT

  1. “Suku Karo jangan hanyut” bagus, terutama jangan hanyut dan tenggelam di lubuk zona aman. Semakin dalam semakin tak tertolong atau perlu aliran baru untuk jadikan lubuk berubah jadi aras (namo jadi aras).

    MUG

Leave a Reply