Kolom M.U. Ginting: MEMBONGKAR KUBURAN

0
163

M.U. GintingMenarik mengikuti tingkat-tingkat perubahan dan perkembangan pikiran di kalangan orang-orang Indonesia terutama dari golongan ’kanan’ penentang golongan ’kiri’ (kanan dan kiri di sini saya maksudkan dalam pengertian ’klasik’ atau sudah ketinggalan jaman). Begitu runtuh Orba Soeharto, langsung muncul tuntutan penghapusan peraturan TAP MPRS XXV 1966. Ini tak jalan karena tak digubris oleh pemerintahan yang menggantikan Orba. Muncul usaha penggalian kuburan massal, juga digagalkan oleh penentang penggalian kuburan dari organisasi tertentu yang masih banyak jumlahnya.

Muncul usaha perhitungan angka kematian, yang masih bersimpang siur sampai sekarang. Panglima pembantaian sendiri dalam pengakuannya di sidang DPR 1989, angka tewas 3 juta orang. Yang lain bantah 500.000 atau tak sebanyak itulah.

Ketika Josua Oppenheimer bikin film ’jagal’ banyak juga yang sangat terkejut atau merasa dikibuli oleh Joshua karena tak mengerti tujuannya sejak semula. Dan Joshua malah munculkan lagi film baru ’silent’ dari orang-orang pihak keluarga korban pembantaian. Kedua film ini jadi tema dunia dan ditunjukkan dalam festifal film bongkar makam 2berbagai negeri di Eropah. Pihak pembantai atau pihak penentang abad baru KETERBUKAAN tetap masih bertahan untuk menutup kejadian sejarah masa lalu, artinya mempertahankan dunia KETERTUTUPAN

Sekarang Menko Luhut diminta Jokowi cari kuburan dan gali kuburannya dan hitung jumlah tengkoraknya atau tulang-tulangnya. Ini namanya membuka KETERTUTUPAN  hehehe . . .  dan sudah tak ada yang protes secara terbuka. Artinya, para penentang lama bongkar kuburan itu masih menutupi apa yang dianggap benar.

Dari segi lain, apakah kebenaran akan terungkap dengan membuka kuburan? Yang sangat jelas ialah bahwa kebenaran sejarah kontradiksi itu tidak ada dokumennya di kuburan. Jadi di mana?

Ketika Reagan menginvasi Grenada alasannya adalah karena beberapa mahasiswa AS terbunuh di Grenada. Tetapi kan bukan itu sebab utamanya. Sebab utamanya ialah karena Grenada yang sudah didominasi oleh sosialisme Kuba itu sudah tertutup bagi perusahaan besar neolib AS: “It was not open to having its economy dominated by U.S. corporate interests”.




Atau seperti ditulis oleh Laurence Davidson dalam bukunya Privatizing America ’s National Interest dengan ungkapan: “The islands economy was not dominated by US corporate power”. Penghalang utama untuk masuknya corporate ini ketika itu ialah Soekarnonya Grenada Maurice Bishop. Bedanya ialah Bishop dibunuh, sedangkan Soekarno dibiarkan ‘hidup’. Dan perusahaan corporate neolib langsung masuk ke Grenada seperti Freeport di Papua.

Itulah KONTRADIKSI POKOKNYA. Yang lain-lainnya hanya bersifat sampingan atau dalam istilah terkenal sekarang PENGALIHAN ISU. Semua negeri berkembang dunia terutama yang kaya SDA harus mempelajari politik pengalihan isu neolib seperti angka kematian 1965, kuburan massal dsb. Walaupun soal-soal ini juga perlu diangkat ke atas meja untuk mengumpulkan data autentis, tetapi yang paling perlu diangkat dan dipelajari ialah kontradiksi pokoknya tadi, yang sekarang kita namakan juga dengan pertentangan dua kepentingan: kepentingan nasional kontra kepentingan internasional ’global hegemony’ neolib.

Ini yang harus diutamakan sesuai dengan perubahan dan perkembangan kontradiksi pokok dunia, dan perubahan tingkat kesedaran manusia dunia.








Leave a Reply