Kolom M.U. Ginting: 3 Ex Teroris Tentang Terorisme Sekarang

0
93

M.U. GintingBanyak informasi penting bagi pelajaran dan pembelajaran publik Indonesia dari ex teroris ini. Terutama kita bisa membandingkan latar belakang dan ciri khusus tingkat kesedaran mereka pada jamannya, dan perubahannya sekarang terutama setelah adanya ISIS yang mereka (3 orang ini) anggap sudah keluar dari tujuan semula, ’di luar ketentuan Islam’ katanya.

Memang ada tingkat perubahan pengetahuan bagi teroris lama yang pada mulanya memang berkeyakinan berjuang demi cita-cita suci Islam. Ketika direkrut tingkat kesedaran dan pengetahuan orang-orang ini sepertinya masih mirip dengan tingkatnya pemberontak Kartosoewirjo (DI/ TII) di Jawa Barat pada permulaan Merdeka dulu.

 

Jumu, ex panglima jihad Maluku:

“Kelompok Poso memang yang paling aktif melakukan fa’i. Mereka adalah kelompok NII yang sekarang sudah berbaiat kepada ISIS. Mereka benar-benar menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan,” imbuh Jumu, ex panglima jihad Maluku itu. Kelompok Santoso sudah diyakini sama seperti ISIS melakukan segala cara demi tujuannya, yang jelas bertentangan dengan cita-cita Islam atau sudah berada ’di luar ketentuan Islam’.

 

Ali Imron ex pembom Bali:

Melihat perekrutan dari pengajian, NU atau Muhamadiyah. Pengajian diselewengkan mengkafirkan kelompok lain.

“Kalau ekslusifnya Salafi itu kan hanya urusan bidah. Tetapi kalau yang itu pemikirannya mengkafirkan kelompok lain, itu tanda-tanda teroris,” katanya.

LabanaMereka biasanya juga menjaga hubungan, tidak akan mau bersalaman dengan orang lain, sesama laki-laki sekali pun. Karena dianggap kafir. Akhir-akhir ini kita juga bisa menyaksikan perubahan yang jelas dalam dua organisasi Islam ini (NU, Muhamadiyah) yang menentang terorisme. Muhamadiyah terlihat dalam soal Siyono yang dengan bukti-bukti yang nyata menunjukkan kebohongan publik dari pihak polisi/ Densus.

Kemungkinan merekrut teroris dari pengajian dua organisasi ini sudah lebih susah bagi perekrut teroris.

 

Umar Patek, terpidana kasus Bom Bali I:

Mengungkapkan, pola rekrutmen teroris dilakukan dengan apapun yang bisa disentuh. Pendekatan kovensional dilakukan lewat pengajian, tetapi juga memanfaatkan media sosial yang lebih instan.

“Indonesia tidak termasuk negara yang harus diperangi. Jihad yang saya pelajari, itu mempertahankan negeri muslim, contoh Palestina yang diserang orang Israel, datang ke sana. Indonesia tidak termasuk itu,” imbuhnya.

Sudah ada pemikiran licik dari perekrutnya kalau menentang Indonesia yang mayoritas Islam bakal bikin persoalan. Berlainan dengan Filipina yang Katolik, Islam melawan pemerintah sangat masuk akal. Buktinya sampai sekarAng Filipina dijadikan pasar besar senjata di Asia Tenggara. Banyak grup pembeli senjata di Filipina, 3 pemberontak Islam, satu pemberontak komunis yang walaupun sudah jauh berkurang (dari 20 ribu pasukannya tahun 1980 menyusut jadi sekitar 4 ribuan sekarang). Tentara Filipina sendiri yang terus tambah orang karena banyak mati dijebak (death trap) dan harus selalu mempermodern persenjataannya.

War may be hell for some but it is heaven for others in a war-dependent economy,” kata Prof Jonathan Turley (bisa dilihat di SINI).

Dari uraian di atas jelas bahwa Filipina adalah negeri pemasaran senjata yang sangat ideal bagi terror-based industry atau war-based economy di Asia Tenggara dan bahkan di seluruh Asia . Selebihnya ialah di Afrika model Bokhu Haram, dan di Amerika Latin telah berubah jadi perang narkoba yang juga sangat butuh senjata dan serdadu pembawa senjata, jadi pasar senjata. Di Indonesia ada Santoso, tetapi dari segi pemikiran strategis itu sangat tidak menguntungkan jadi pemasaran senjata. Karena itu juga Santoso kemungkinan akan dibiarkan lenyap, tak menguntungkan lagi bagi strategi pasar senjata itu.




Selain itu, pengaruh besar pikiran Jokowi-JK bahwa terorisme tak ada kaitannya dengan Islam dan teroris tak perlu ditakuti, sangat mengganggu pemasaran senjata neolib ini. Presiden Indonesia adalah satu-satunya pemimpin dunia yang berani mengucapkan kata-kata begitu, bahkan telah memancing Obama untuk mengatakan sebaliknya.

“Dengan bom nuklir sebesar buah apel saja kalau di tangan teroris, bisa membinasakan ratusan ribu orang,” kata Obama dalam konferensi terorisme di Washington permulaan April lalu.

Maksudnya mengingatkan Jokowi jangan sekali-kalai bilang kalau teroris tak perlu ditakuti! Memang setelah pidato Obama itu, buru-buru semua negeri Eropah bikin persiapan tinggi menghadapi terorisme. 

Pengaruh kata-kata Jokowi-JK itu hebat sekali memang. Terlihat juga dari perubahan nama terorisme menjadi ’neo terorisme’ (diucapkan oleh Polri dalam kasus Siyono) atau ’extrimisme kekerasan’ (diucapkan oleh Ban Ki Moon di Jeneva). Nama baru ini labana 2disesuaikan dengan teror yang tak dikaitkan lagi dengan agama Islam. Kaitannya dengan agama Islam sudah tak laku, seperti kita lihat dari pengakuan 3 teroris di atas itu juga.

Tetapi ’awas, masih perlu ditakuti’ kata pencipta terorisme ini lewat mulut Obama sebagai perwakilan negara adidaya dunia AS. Harus dicatat lagi kata-kata Presiden Roosevelt siapa pemilik pemerintahan AS. Dikatakan oleh Roosevelt 1933: “The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.”

Obama hanya mengatakan apa yang dia harus katakan.  Andrew Jackson berkuasa dari 1829-1833. Jadi elemen finans ini sudah jadi pemilik pemerintahan AS sejak 100 tahun sebelum Roosevelt. Sudah lama. Presiden AS lainnya yang juga berani menyinggung soal ini ialah Presiden Eisenhower 1961 ketika dia mau berhenti, dalam pidato perpisahannya. Sensitif memang. Obama kelihatannya punya dilema psikologis bernama emotional dissonance, harus mengatakan yang tak masuk akalnya sendiri. Atau masuk akalnya kah?

Sementara pelaku teroris lainnya, Ali Gufron mengungkapkan untuk mencari seorang ‘pengantin’ bom bunuh diri bukan sesuatu yang sulit. Karena memang dasar pemahaman agama yang terlalu dangkal, katanya.

“Saya hanya butuh waktu dua jam untuk menyiapkan pengantin,” tutupnya.

Apa yang dibongkar oleh Ali Gufron ini sesuai dengan analisa yang sudah sering kita ungkapkan di milis ini, bahwa sangat gampang merekrut ’orang-orang naif’ untuk bunuh diri. Ali Gufron ternyata hanya butuh waktu 2 jam untuk menyiapkan ’pengantin’ bom bunuh diri. Tipe anggota lainnya yang juga sangat gampang direkrut ialah ’orang-orang kriminal 100%’  yang sangat senang dengan pekerjaan teroris ini, karena diberi kekuasaan sangat besar termasuk bebas membunuh siapa saja cukup dengan alasan ’kafir’ dan juga dengan janji duit banyak dan budak sex wanita ’kafir’.

Ini adalah idaman paling tinggi bagi seorang kriminal 100%. Merekrut orang-orang ini pasti lebih gampang lagi dibandingkan dengan merekrut pengantin bom bunuh diri yang membutuhkan waktu 2 jam. Untuk rekrut tipe ini cukup beberapa menit saja!

Dua dari trio di atas dikirim ke ’Akademi Militer’ Pakistan (UP), dan AI ke Afganistan latihan berbagai peledak. Sayangnya dua orang ini tak membuka siapa yang mengirim ke LN dan atas biaya siapa. Atau mereka ini tidak tahu sampai sekarang bahwa di belakang semua ini adalah pedagang senjata dari ’terror-based industry’ yang menurut Paus Fransiskus ’kasih makan keluarganya dengan duit berlumuran darah’.








Leave a Reply