Kolom Darwono Tuan Guru: PARLEMEN IBLIS

0
128

Darwono Tuan GuruPada awal tahu 80, terkait dengan abad kebangkitan Islam II, banyak penceramah mengutip puisi M Iqbal sebagai berikut.

Tak ada tempat berhenti di jalan ini

sikap lamban berarti mati,

siapa yang bergerak,

merekalah yang tampil ke muka

siapa berhenti sedetikpun,

pasti tergilas

 

Puisi itu dicuplik terutama dalam memberikan motivasi untuk bergerak dalam gerakan membangun diri sehingga dapat unggul dan berprestasi. Senada dengan pusi itu, puisi penulis dalam judul “Akhir Sebuah I’tikaf’ mengandung sebait berikut.

tak ada kata tunggu dalam berpacu

lengah sedetik kita terhimpit,

tunggu sebentar kita terlempar

Parlemen Iblis 2Puisi akhir sebuah itikaf sendiri tercipta pada akhir program pengajian i’tikaf Ramadhan ke 2 (PIR II) pondok pesantren Budi Mulia (Yogyakarta), yang diikuti oleh aktivis Lembaga Dakwah Kampus se Indonesia. Beberapa aktivis yang mengikuti pengajian itikaf ke 2 itu diantaranya adalah Erwin Muslim (sekarang anggota DPR RI dari PDIP), Awalil Rizki (Barisan Nusantara), dan Arief Afandi (mantan Wakil Walikota Surabaya), Saat Suharto (CEO BMT). Di barisan akhawat terdapat nama-nama Cici Farcha Assegaf, Yayah Hizbiyah, Yulia Ilmawati, dll. Para aktivis ini menginspirasi penulis yang waktu itu menjadi “pemandu” (Master of Training) sehingga tercipta puisi “Pesan Akhir Pengajian Itikaf” ke 2 itu yang berjudul Akhir Sebuah I’tikaf.

Satu pesan dari puisi Iqbal yang sering dikupas oleh para intelektual Islam Yogyakarta waktu itu adalah tentang makna puisi Parlemen Iblis. Dalam catatan otak saya, isi dari puisi itu adalah keresahan para iblis seluruh alam raya akan kebangkitan keagaman kaum muda. Sidang parlemen para iblis itu berisi bagaimana melumpuhkan kekuatan kaum muslimin yang sering menggangga program utama iblis menyesatkan manusia.

Ketika diberikan jawaban untuk melumpuhkan para ulama, pimpinan sidang parlemen iblis menyatakan bahwa para ulama telah tergadaikan dengan kekuasaan. Mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan program-program syaitan, bahkan sudah menjadi bagian dari jaringannya.

Sebuah kesepakatan dari keputusan sidang parlemen iblis itu adalah bahwa musuh utama dari masyarakat iblis adalam kaum muda, remaja yang masih bersih dan memiliki komitmen kagamaan yang kokoh, yang selalu bangun dini hari untuk bermunajat dan mendapat kekuatan dari Allah untuk menguasai dunia dan seisinya, karena mereka selalu shalat dua raka’at sebelum subuh yang nilainya lebih dari dunia dan seisinya.




Oleh karena itu, parlemen iblis kemudian merancang program utama bagaimana, menyumbat telinga para remaja, pemuda untuk tidak mendengar adzan subuh, dengan menggunakan berbagai cara, yang terpenting para remaja/ pemuda tidak bisa shalat sebelum subuh.

Nah, jika sekarang kita bisa melihat berbagai acara, program berbagai tayangan yang   sangat menarik hingga larut malam bahkan dini hari yang menjadikan para muda-mudi terlena, bahkan hingga lepas subuhnya, merupakan bagian dari program iblis, hasil keputusan sidang Parlemen Iblis sebagaimana makna puisi M Iqbal tersebut.

Ada baiknya pada Hari Puisi Nasional ini, kita renungkan makna puisi M Iqbal Parlemen Iblis dalam memperbaiki kondisi bangsa ke depan, terutama terkait dengan generasi penerus bangsa.








Leave a Reply