Sirulo TV: Leiden, Kota Tua Penuh Puisi

0
201

Laporan ITA APULINA TARIGAN dari Leiden (Nederland)

 

Ita ApulinaKemarin [Kamis 28/4], kami berkunjung ke Leiden Universiteit. Setelah turun di Leiden Central, berjalan kaki melewati benteng kota. Membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit dari Central hingga ke Lipsius, Pusat Fasilitas dan Sarana Universitas Leiden. Sebelum mencapai Lipsius, kami melewati sebuah gedung tua tidak terawat dan jelas terpampang tulisan KITLV. Saya sempat mengerutkan kening, masakan KITLV yang legendaris gedungnya cuma seperti ini? Kalah dengan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Di hall kami bertemu dengan Dr. Clara Brakel, pakar tari Jawa yang baru saja menyelesaikan bukunya mengenai Suku Pakpak. Suasana langsung hangat setelah diterpa angin keras dingin di luar. Secangkir cappuccino dan kukis jadi lebih enak menemani perbincangan di kantin mahasiswa yan ramai.

Leiden 2
Pieterskerk

Clara memberikan buku yang ditulisnya tentang Story Telling Masyarakat Pakpak dan CD yang memuat cerita-cerita Pakpak dari penutur Pakpak. Informasi dari Clara akhirnya menjawab keheranan saya tentang gedung KITLV yang tidak terawat. Kata Clara, seluruh koleksi KITLV kini di bawah naungan  UB (Perpustakaan Umum), sehingga perawatan dan penempatannya ditentukan oleh UB.

Setelah membuat janji pertemuan berikutnya, kamipun berpisah dan saya hendak mengekplorasi Leiden Universiteit ini.

Keluar dari Lipsius, sebuah banner biru terang berkibar. Tertulis nama Johan Huizinga. Johan Huizinga terkenal dengan teori Homo Ludens-nya, manusia adalah mahkluk yang bermain dan namanya diabadikan untuk gedung Fakultas Humaniora di Universiteit Leiden.

Keluar masuk gang kecil, universitas ini ternyata berbaur dengan rumah-rumah penduduk. Gedung yang mereka pakai adalah bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak Abad 10. Demikian juga rumah-rumah penduduk sekitarnya. Menyusuri gang ada banyak sekali pamflet yang berisi bermacam-macam gerakan mahasiswa. Ada Pendukung Kemerdekaan Tibet, Penentang Privatisasi Air dan isu-isu lainnya terkait dengan kemanusiaan dan lingkungan.

Leiden 4
Sebuah gang di engah Kota Leiden, dekat toko buku-buku antik.

Kami terus berjalan keluar masuk gang. Jalan berbatu dengan angin kencang, tetapi lumayan ada sinar matahari. Kami sampai di sebuah gedung besar di depan Broodjes Café. Iseng saya baca informasinya. Ternyata gedung besar megah ini aslinya adalah penjara sejak Abad 12. Di masa itu eksekusi narapidana dilakukan di halaman penjara. Di seberang penjara, ada sebuah gedung bekas sekolah Latin, dimana dulu Rembrandt pertama sekali mendapatkan pelajaran menulis dan melukis di tahun 1616-1620. Di dinding luar Broodjes Café kami menemukan sebuah puisi berbahasa Arab dan dibuat terjemahannya berbahasa Inggris. Di situ ada keterangan bahwa puisi ini dibuat untuk memperingati 400 tahun Bahasa dan Budaya Arab telah dipelajari di Leiden Universiteit.

Di balik penjara kami bertemu gedung yang jauh lebih besar, megah dan tinggi. Gedung Gereja Pieterskerk, Gereja Santo Petrus. Didirikan di Abad 12, merupakan gereja pertama di Kota Leiden. Sebelumnya, gereja ini punya menara setinggi 100 m, tetapi runtuh pada suatu malam di Abad 15 dan tidak pernah dibangun kembali.




Di sekitar gereja juga banyak rumah penduduk, café dan penjual souvenir. Ada satu toko yang sangat menarik di depan gereja, sebuah toko buku tua. Banyak buku antik serta unik dipajang dan dijual di sini. Mata saya terpaku pada sebuah buku berukuran tidak kurang dari 70 cm x 50 cm tentang cara membaca hieroglif.

Berjalan kaki keluar masuk gang Leiden terus kami lanjutkan. Dinding-dinding berpuisi kami temukan di berbagai tempat. Selain puisi di Broodjes Café, kami masih menemukan sebuah lagi puisi Arab di sekitar Harleemstraat, pusat perbelanjaan tradisional Leiden. Kami juga menemukan Pablo Neruda di gang sempit yang ramai, karena dekat dengan gedung pusat kota.

Perjalanan menyusuri Leiden masih panjang, akan disambung di lain waktu. Sebuah puisi penyemangat buat siapa saja yang ingin berkelana, berikut saya salinkan puisi berbahasa Arab dengan terjemahan berbahasa Inggris:

Travel Safely!

 

“Where are you going, in such a hurry?”

Leiden 3
Puisi di dinding sebuah cafe mahasiswa (juga untuk wisatawan) di pusat Kota Leiden

The desert-thorn asked the wind.

 

“My heart’s is tormented here-

don’t you want to get away

From this dusty desert?”

 

“It’s all I long for, but

what can I do, with my feet tied like this….”

 

“Where are you going in such a hurry?”

 

Wherever it may be, except here, where I am.”

 

“Travel safely the! But my friend, I beg you,

When you have passed safely from this brutal wasteland,

And reach blossoms, and the rain,

Greet them for me.”

(M.R. Shafi’i – Kadkani)








Leave a Reply