Kolom Darwono Tuan Guru: Guru, Kambing Hitam Pendidikan

1
128

Darwono Tuan GuruDalam wacana Jawa, guru diartikan sebagai figur yang digugu (dipercaya) dan ditiru (menjadi teladan). Pada figur guru ada 2 unsur penting yakni trust dan uswah.  Namun, di balik makna itu, guru juga dianggap berperan sebagai figur glugu turu, batang pohon kelapa tidur,  sebagai titian, yang digunakan untuk menyeberang menuju tujuan perjalanan seseorang (siswa). Guru siap dijadikan titian, jembatan, yang siap diinjak-injak; yang penting siswa sampai tujuan pendidikannya.

Fenomena glugu turu itulah yang kini dialami guru. Guru dijadikan tumpuan keberhasilan pendidikan, kualitas pendidikan Indonesia rendah dikembalikan ke guru. Hasil ujian nasional rendah, guru yang didiskreditkan. Ada tawuran, pelanggaran moral siswa hingga peringkat pendidikan Indonesia rendah diantara bangsa-bangsa lain, guru juga yang jadi sasaran kritik. Namun demikian, ketika ada siswa berprestasai,  juara olimpiade apa saja,  peran guru nyaris tak pernah terdengar.

Kita dapat pastikan, bahwa peran guru tidak lebih dari kambing hitam berbagai kegagalan Pendidikan Nasional. Sebagai guru  yang banyak berinteraksi dengan temen-temen guru melalui berbagai media, saya bersyukur, bahwa guru-guru Indonesia yang saya pahami, memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasana sosial, dan kecerdasan emosional yang sangat tinggi, sehingga dijadikan kambing hitam pendidikan nasional untuk even apapun sahabat-sahabat guru Indonesia terus menjalani dedikasinya, mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan segala romantikanya.

kambing hitamSayangnya, kadang penulis melihat kritikan terhadap guru oleh para pengamat terlihat  kurang cermat , dengan  menggunakan generalisasi atau konklusi yang sangat invalid. Sebagai contoh, kritikan yang disampaikan oleh seorang pengamat yang mengatakan “gaji guru DKI sampai Rp. 18 juta, tetapi kualitasnya rendah dan menuirut data banyak yang tidak mengenal masalah  komputer”. Ini bukan saja sebuah generalisasi yang invalid, juga sebenarnya mengandung pelecehan terhadap guru DKI.

Generalisasi gaji guru DKI Rp. 18 juta/ bulan  itu sangat menyesatkan. Gaji sebegitu besar dapat data dari Hongkong? Mungkin ada yang gajinya sampai level itu, tapi tentu bukan untuk rata-rata (untuk dijadikan generalisasi). Guru  di sekolah negeri yang honor pun baru diusulkan sampai taraf Rp. 3 jutaan/ bulan  (itu kalau terealisasi). Belum lagi guru-guru di sekolah swasta DKI. Hanya beberapa sekolah swasta yang lumayan, tetapi lebihnya adalah sekolah-sekolah yang menjadi penampung anak-anak bangsa yang terafkir dari persaingan ke sekolah negeri. Dalam pengamatan kami  (juga diakui oleh wali murid), yang diterima di sekolah-sekolah negeri adalah mereka dari keluarga mampu, meski ada beberapa yang dari keluarga biasa.

Konsekuensinya sekolah-sekjolah swasta, menjadi penampung peserta didik yang kuarang mampu secara intelektual maupun ekonomi. Dengan demikian, daya bayar biaya sekolahpun sangat rendah. Sekali lagi, penulis sangat mengapresiasi temen-temen guru swasta yang memahami betul kondisi siswanya, sehingga guru-guru swasta tidak pernah terlibat dalam upaya menuntut gajinya naik. Mereka memahami jika mereka menuntut gajinya naik maka mau tidak mau imbasnya adalah “bayaran siswa harus naik’.

Berapa sih gaji guru swasta menengah ke bawah?  Sebenarnya jika data Dapodik memuat opsi gaji guru dari jam yang diampu, maka untuk mengetahui hal ini cukup tinggal diklik saja. Sayangnya hal itu belum terakomodir, seingga untuk keperluan kali ini, penulis mecoba menggunakan komparasi.

Di sekolah kami, yang berada di posisi menengah dengan SPP (Rp.750.000/ bulan), gaji rata-rata yang kami ketahui dari salah seorang pengelola adalah Rp. 1.500.000 kambing hitam 2(jauh di bea UMR), apalagi teman-teman yang mendidik di sekolah dengan SPP Rp. 250.000/ bulan. Jika dihitung proporsional maka akan jatuh pada angka rata-rata Rp. 500.000/ bulan. Ketika guru Biologi DKI berkumpul dalam rangka pelatihan, diskusi pendapatan guru DKI di sekolah swasta, ada guru yang mengajar full 1 minggu 40 Jam mengajar menerima gaji tiap bulan Rp. 900.000. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak guru DKI yang mencati tambahan dengan menjadi tutor di bimbel, ojek online, tukang sampah, jualan kuliner,  menajdi penonton bayaran, extras, dll.

Kami melihat, dari statement gaji saja pengamat tersebut sudah melakukan invalid dalam generalisasi,  apalagi ketika harus menguraikan penilaiannya yang lain yang cenderung multitafsir. Sebagi contoh, ketika kita berbicara mengenai kompetensi guru, maka kita akan dapat mengajukan kompetensi yang mana dan data dari mana. Sepanjang penulis menjadi guru di DKI belum pernah ada penilaian konfrehensif terhadap kompetensi guru yang memotret secara utuh kulaitas guru.

Menyimpulkan kompetensi guru dari data Uji Kompetensi Guru (UKG) sangatlah tidak representatif, sebab UKG hanya mengcover 2 dari 4 kompetensi guru. Jika ditelisik kualitas UKG dari sisi “penilaian pendidikan’, sungguh jauh asap dari api. Banyak kelemahan yang hasilnya tidak semestinya dijadikan paramater kualitas.

Oke, katakanlah jika hasil UKG valid, menurut data rata-rata 43, artinya 2 kompetensi nilai totalnya 86. Jika ditambah 2 kompetensi lain, kompetensi kepribadian dan sosial (sesuai Undang-undang) yang kita bisa lihat komitmen guru dalam menjalankan dedikasinya seperti telah dijelaskan di atas, katakanlah nilainga 95, maka 2 kompetensi itu nilainya adalah 190, plus 86 maka nilai kompetensi guru lengkap adalah 276. Rerata hampir mencapai 70% sebuah kompetensi total yang baik di tengah berbagai kekurangan.




Dalam hal penggunaan ICT, sepertinya sangat ngawur jika dikatakan guru DKI banyak yang tidak mengenal masalah komputer. Sebab, sejak tahun 2006 (KTSP) bahkan sebelumnya Kemendikbud sudah melakukan berbagai pelatihan ICT, bahkan dalam setiap pelatihanpun setiap guru harus membawa laptop, apalagi ketika memasuki musim sertifikasi. Dalam pengolahan nilai pun, guru-guru di DKI menggunakan SAS, kemudian ZIP. Jadi, jika ada yang tidak mengenal komputer paling mereka yang dalam kondisi khusus saja. Saya sendiri mengajar di 2 sekolah kelas menengah bawa saja semua gurunya familier dengan komputer. Sangat disayangkan jika seorang pengamat, menggunakan sumber “bisik-bisik” tetangga.

Artinya, kita harus menelisik berbagai aspek lain selain  faktor guru, yang mengakibatkan kualitas pendidikan kita rendah. Apalagi, dalam pardigma pendidikan yang tidak lagi memposisikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar, maka aspek lain juga perlu  dianalisis  secara cermat dan proporsional. Hal ini bukan berarti guru tidak perlu dikritik, tetapi jika mengkritik hendaklah memilah-milah, jangan menggeneralisasi sembarangan.

Tetapi, ya, mungkin karena dasarnya kita bangsa yang suka kambing guling, maka kambing hitamlah yang dicari dan guru, adalah kambing hitam yang tidak banyak tingkah. jadi banyak dijadikan sasaran. uintungmnya, guru indonesia adalah pribadi-pribadi berdedikasi, jadi dalam kondisi sesulit apapun guru-guru tidak beralih profesi. karena kami yakin, Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang berniat mencerdaskan bangsa.








1 COMMENT

  1. Saya adalah pensiunan guru dari Jakarta Internasional School dan juga designer dan pelatih utama guru-guru anggota iEARN/KNIU UNESCO dan Aspnet mulai dari tahun 2005 dibawah pimpinan Pak Arief Rahman/Ibu Hasnah Gasim . Pada pelatihan itulah ICT pertama diperkenalkan dalam pelatihan dan itu bukanlah berdasarkan kurrikulum KTSP tetapi berdasarkan metode mengajar dari “International Education and Resource Network” (IEARN). Dan sekolah yang gurunya dilatihpun adalah sekolah sekolah yang tergolong baik di Jakarta dan Bogor termasuk Lab School dll.
    Pada saat itu pulalah dikenal bahwa dua kementrian yang terkorup di pemerintahan adalah kementrian Agama dan Kementrian Pendidikan. Kalau guru-guru tidak maksimal kemampuannya memang benar tetapi itu adalah akibat korupsi dan Kolusi. Pernah sekali ketika melatih seorang administrator sekolah menceritakan bahwa ada donatur asing yang memberikan 500 komputer kesebuah kantor pendidikan dan itu harus dikembalikan oleh karena mereka-mereka yang berkepentingan lebih suka menerima duitnya saja dan lima ratus computer itu ditolak.
    Kalau mengenai gaji guru saya tidak tahu berapa jumlahnya tetapi adik saya yang mengajar di beberapa sekolah swasta sampai sekarang masih menerima total Rp 1.500.000/bulan . Ketika saya pension dari JIS gaji guru orang indonesia Cuma berkisar antara 10.000 sampai 21,000 rupiah. Jadi mungkin yang 18 juta tersebut adalah gaji guru-guru di sekolah Indonesia yang paling Top di Jakarta.
    Didalam setiap pelatihan saya berinteraksi langsung dengan para guru. Saya belum pernah menemukan guru yang yang lamban semuanya pintar bahkan kebanyakan dari mereka sudah hafal mata pelajarannya. Dengan maraknya penggunaan Power Point Presentation bahkan mereka sudah hafal dimana titik komanya. Saya pernah melatih guru-guru di Lhoksumawe. Sebelum pelatihan mereka sudah mengaku kepada saya bahwa mereka bodoh. Saya kemudian bertanya siapa yang mengatakan itu? Mereka menjawab para pakar dan pejabat. Lalu saya mengatakan akan saya akan buktikan bahwa Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru semua pintar-pintar. Dan memang terbukti! Karena saya memperkenalkan kepada mereka metode-metode student centered learning. Bagaimana tidak mudah ? Yang dibahas adalah ilmu yang mereka geluti setiap hari dikelas.
    Saya setuju di Jakarta guru-guru sudah menganal computer tetapi apakah mereka sudah biasa mengajar dengan computer dimana mereka semua bergabung didalam suatu wadah pada internet dan dapat berkomunikasi dari tempat lain selain ruangan kelas? Mungkin mereka bisa membuat blog dan memakai PPT. Paradigma guru-guru lah yang harus diubah kalau mengajar masih secara traditional saya yakin itu akan sulit. Untuk mengubahnya diperlukan pelatihan metode-metode pembelajaran yang tepat.

Leave a Reply