Namaku Nama Karo, Namanya Juga

2
585

Oleh: Robetmi Jumpakita Pinem (Taipei)

 

Guntar
Penulis (kiri) bersama Guntar Sinuraya (kanan)

Cara mudah mengingat serta mengenali seseorang adalah melalui nama. Setiap orang pasti memiliki nama. Ada yang memakai nama dari daerah, memakai nama-nama Barat, nama dari tokoh-tokoh di Kitab Suci, ada juga gabungan dari nama orangtua. Pastinya nama adalah sesuatu yang indah, harapan serta doa bagi siempunya nama.

Perkenalkan, nama saya Robetmi Jumpakita Pinem. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan S3 di National Taiwan University Of Science and Technology (NTUST) Taiwan. Orangtua tinggal di Benjire Kecamatan Tigabinanga. Kalau dulu, sewaktu baru masuk sekolah nama saya sering sekali membuat orang tertawa karena kata “Jumpakita” apalagi di awal perkenalan dengan orang lain. Tapi, saya sangat bersyukur dengan nama tersebut karena menjadi sebuah kebanggaan bagi saya memakai nama kedaerahan.

Sampai saat ini, ketika membicarakan nama orang Karo, saya sangat senang karena namanya yang khas, semisal Rudang, Mbako, Bangku, Tetangena, Ngalemisa, Pepayosa, Srimenda, Rehdamenta, Raskami, Rasita, Merek, Gunaken, Jendamolana, Sada Ukur, Riah, Mejuah-juah, Brema (bere-bere mamana) dan lain sebagainya.

Tapi, mungkin ada juga yang malu menggunakan nama-nama “berbau” kekaroan. karena dianggap kolot, kurang mengikuti jaman, dan lain-lain.

Berbanggalah kam karena nama kita adalah identitas kita. Di awal memasuki kuliah di Universitas Sumatera Utara tahun 2009, saya dipanggil Jumpa bukan Robetmi . saya bangga dengan nama itu.

Baru-baru ini, saya ikut mempromosikan budaya Indonesia dengan tarian Papua di salah satu kampus di Taiwan. Seandainya bisa mempromosikan tarian Karo seperti tari Lima Serangke atau Roti Manis di sini, saya akan sangat bangga.




Setelah saya selesai tampil mulailah kami saling berkenalan. Ternyata ada orang Karo yang lahir di Belanda. Saya kaget bukan kepalang bisa jumpa dengan orang Karo yang tinggal sangat jauh dari Tanah Karo. Namanya Guntar Sinuraya. Bapaknya berasal dari Bunuraya, ibunya dari Menado, menetap di Kabanjahe sebelum tinggal di Belanda.

Saat awal perkenalan, Guntar mengatakan orangtuanya dari Medan, tapi ternyata bukan di Medan, melainkan Kabanjahe. Lidah saya langsung refleks mengatakan: “Aku kalak Karo, Medan nari.”

Barulah kami saling sebut nama. “Guntar” jika kita dengarkan secara seksama, kita bisa tertawa karena artinya sama dengan “Kerusuhan” tapi, itulah cara untuk mengingat Tanah Karo Simalem. Dari nama dan merga yang kami sandang membuat kami semakin akrab. Walau berbeda kenegaraan. kami tetap kalak Karo yang bangga dengan budaya Karo.

Mejuah-juah untuk orang Karo di mana pun berada. Tetaplah kita memegang identitas diri kita sebagai kalak Karo. Jika bukan kita, siapa lagi yang bangga dengan budaya kita? Aku bangga jadi orang Karo. Salam rindu dari Taiwan untuk Tanah Karo Simalem.




2 COMMENTS

  1. “Walau berbeda kenegaraan. kami tetap kalak Karo yang bangga dengan budaya Karo.Berbanggalah kam karena nama kita adalah identitas kita.”

    Bagus sekali ini, kalau nama sajapun sudah bisa jadi identitas juga. Kalau nama tidak bahasa Karo, merga juga adalah tanda identitas yang sangat penting. Memperkuat identitas kekaroan merupakan tugas dan perjuangan penting sekarang ini bagi Karo, dan juga bagi semua suku dalam Bhineka Tunggal Ika.
    Maju terus anak-anak muda Karo!
    Bujur
    MUG

Leave a Reply