Sirulo TV: Mengunjungi Studio Seniman Leiden Marjolijn Groustra

0
191

Laporan ITA APULINA TARIGAN dari Leiden

 

Ita Apulina Tarigan 2Matahari bersinar cerah, ketika kami berjalan dari Leiden Central ke rumah illustrator Marjolijn Groustra dan suaminya Elbert Ploos van Amstel. Rumah mereka tepat di tepian Sungai Rhine. Di seberangnya terlihat kincir angin milik ayah pelukis Belanda ternama Rembrandt. Terlihat juga monumen yang diperuntukkan untuk Rembrandt.

Siang yang terik menjadi sejuk, karena Marjolijn menyuguhkan salad buah yang segar sekali. Setelah salad buah dan kopi, kamipun beranjak dari rumah mungil asri mereka ke studio tempat mereka bekerja. Membutuhkan waktu berjalan kaki sekitar 15 menit.

 

[one_fourth]Studio[/one_fourth]

Marjolein 2Jangan bayangkan studio mereka seperti milik seniman mapan atau seperti studio anak sekolahan. Bangunan studio ini adalah bekas gedung sekolah yang tidak dipakai lagi dan merupakan milik pemerintah. Di dalam gedung ada 20 seniman yang menempati dengan berbagai aktifitas seni. Mulai dari lukisan, tarian, musik hingga taichi dan qi gong.

Mereka mendapatkan gedung ini dengan cara kraker beweging. Mengenai kraker beweging dapat dilihat dalm tulisan Beatriz van der Goes (klik di SINI)

 


[one_fourth]Tolhom[/one_fourth]

Tolhom adalah sebuah karakter cerita bergambar yang dibuat oleh Marjolijn dan Elbert. Naskah dibuat oleh Marjolijn dan Elbert yang mengejawantahkan ke dalam gambar. Tolhom ini sudah mereka buat beberapa seri dan sekarang mereka hampir menyelesaikan serial terbaru dari Tolhom ini.

MarjoleinSeperti yang dikisahkan oleh Elbert, karakter dari Tolhom ini diinspirasi oleh gumbar, sebuah wadah penyimpan garam dari Karo. Marjolijn mengatakan ide itu muncul ketika dia sakit dan terbaring di tempat tidur. Dalam imajinasinya, dia melihat gumbar itu hidup dan meminta kepada Elbert agar dihidupkan sebagai sebuah karakter. Jadilah Tolhom si detektif anak yang aktif dan pintar.

Dalam cerita digambarkan setiap Tolhom akan memecahkan masalah dan perlu berpikir analitis, maka kepalanya akan menjadi kaki dan dia akan berputar dengan cepat sekali, seolah-olah sedang mengocok otaknya agar menjadi encer. Biasanya, setelah dia selesai berputar maka detektif kita ini akan mendapatkan pencerahan.

“Saya akan menceritakan sedikit jalan cerita di serial terbaru ini, yaitu tentang pemecahan masalah virus komputer. Virus komputer saat ini sudah menjadi wabah dunia, karena dimana saja orang memiliki komputer,” demikian Elbert menceritakan.

 


[one_fourth]Troll dan awal mula kehidupan[/one_fourth]

Di ruangan studio yang sama dengan Elbert, Marjolijn juga tengah menyelesaikan sebuah rangkaian gambar ilustrasi. Berjejer rapi berbagai rupa makhluk dongeng dari Swedia, yang dikenal dengan nama Troll. Mahkluk berukuran besar yang sering digambarkan dalam novel dan dongeng Eropah dengan karakter bodoh, jahat dan bengis. Tetapi, di tangan Marjolijn mereka berubah menjadi makhluk yang menarik dan sangat manusiawi. Bermain dengan gembira, bermalas-malasan, saling menggoda, nakal dan bahkan suka unjuk kelebihan yang dimiliki.

“Saya ingin menggambarkan mahkluk ini dari sudut pandang yang berbeda. Betapa alamiah dan bersahabatnya mereka dengan alam, bersukacita dan melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan. Akrab dengan batu-batuan, yang menurut saya adalah spirit of nature dari Swedia,” kata Marjolijn.




Di atas jejeran gambar Troll dengan berbagai aksi yang lucu, nakal dan atraktif tergantung sebuah lukisan dengan dominasi berwarna biru. Marjolijn menyebut lukisannya itu sebagai sebuah alternatif tentang konsep asal usul.

“Menurut saya, ada banyak teori tentang asal usul kehidupan ini, misalnya teori Big Bang. Teori-teori ini muncul sekaligus dengan kontradiksinya. Dengan lukisan ini, saya ingin memberikan alternatif lain tentang asal usul itu. Saya ingin mengatakan, bahwa gerakan-gerakan kecil yang diabaikan justru yang menjadi sumber kehidupan itu,” jelasnya.

Pikiran Marjolijn yang tertuang dalam lukisan ini menarik perhatian para ahli fisika, sehingga beberapa waktu lalu dalam sebuah konferensi fisika di Universitas Leiden, lukisan ini dipamerkan untuk menambah khasanah tentang asal usul kehidupan.


[one_fourth]Padi dan kerbau[/one_fourth]

Berikutnya, kami diajak memasuki studio ke dua yang digunakan oleh pasangan ini, masih dalam gedung yang sama. Dalam ruangan ini, Marjolijn menggunakan kanvas ukuran besar. Ruangan dipenuhi oleh lukisan tentang padi, baik di sawah atau di ladang.

Marjolijn terpikat kepada daun kering (bulung pola) yang diikat dengan berbagai macam bentuk. Daun kering yang dipola dengan berbagai bentuk ini dapat kita temui sejak padi ditanam, tidak hanya menjelang panen. Marjolijn mengatakan, ketika berkunjung ke Karo dia menggambarkan sketsa daun-daun ini dan akhirnya menuangkannya ke dalam lukisan sekarang.




“Menurut saya, daun-daun yang dipancangkan ini tidak sekedar menakut-nakuti burung, tetapi juga menjaga padi dari sejak tumbuh hingga berbuah. Barangkali petani-petani sekarang hanya mengikuti kebiasaan pendahulu, tidak tahu lagi apa maknanya. Bagi saya pribadi, saya melihat sesuatu lain dari daun-daun ini,” tuturnya.

Dalam ruangan itu tersisa satu lukisan Marjolijn yang terinpirasi oleh rumah Karo dan kerbau. Dia selalu melihat hubungan spiritual antara kerbau dan rumah adat. Sebelumnya, ada beberapa lukisannya tentang kerbau dan rumah adat, tetapi kini sudah terjual semua.

***

Rasanya waktu singkat sekali, padahal kami hampir menghabiskan setengah hari berbincang dengan Marjolijn dan suaminya. Inspirasi tentang kesenian tidak mesti dari tempat yang jauh dan berangan-angan tinggi, tetapi justru timbulnya dari dalam diri. Berkesenian juga tidak menjadi jaminan mapan secara ekonomi, tetapi mereka berdua menunjukkan berkesenian dengan hati dan idealisme justru membawa hidup lebih bertujuan, terutama tujuan untuk alam dan kemanusiaan.

Video-video selanjutnya dapat diklik link di bawah ini:

Part 3

Part 4

Part 5

Part 6




Leave a Reply