Kolom Usaha B. Barus: Menyapa Sinabung di Suatu Pagi

0
114

Oleh: Usaha B. Barus (Kabanjahe)

 

usaha 9Dahulu, Sibayak lebih terkenal darimu di dalam dan luar Taneh Karo. Mungkin kamu iri, ya? Sekarang, engkau batuk dan memuntahkan isi perutmu. Belum berkesudahan.

Semua mata tertuju padamu. Semua penghuni di kakimu lari ketakutan. Yang tidak bisa lari, mati hangus sia-sia.

Lahan tanaman kami hancur kau porak porandakan. Kampung-kampung kami tinggal kenangan. Amarahmu belum usai, ya?

Kami terpencar mengungsi. Jadi buruh di ladang orang lain. Banyak juga berganti profesi. Ada yang mendapat relokasi ke Siosar. Ada yang menggarap ke Sagan Taneh. Namun, tak sedikit yang bertahan di bawah bayang-bayang angkaramu. Bukan karena apa pun. Tapi, karena terpaksa.

Relawan, bantuan serta dukungan moril dan materil di awal amarahmu datang mengalir tanpa pamrih. Tulus bagaikan bening embun pagi. Namun, pada musim Pilkada beberapa waktu yang lalu, relawan-relawan baru berdatangan. Donatur-donatur bermunculan.




Bahkan, pemerhati tentang korbanmu berteriak-teriak. Bermoduskan pencitraan, seakan mereka yang paling perduli. Seakan mereka adalah pahlawan. Selama ini ke mana mereka?

Sekarang, setelah Pilkada usai, ke mana mereka?

Wuihhh…. apakah kamu tidak muak? Getaranmu masih berpacu dengan desah nafas kami. Harapan, harapan dan harapan terus kami nanti walau dalam mimpi. Namun, di saat kami buntung masih saja ada yang mencari untung. Ah … semua akan baik adanya. Tapi, kapan?

Kopiku sudah dingin, akan tetap kureguk walaupun terasa kurang nikmat.








Leave a Reply