Sirulo TV Menjenguk Museum Etnologi, Leiden

0
114

Ita Apulina Tarigan 2ITA APULINA TARIGAN. LEIDEN. Kota tua Leiden selain terkenal karena universitasnya dan bangunan tua yang terjaga, juga adalah kota museum. Di kota ini, dimanapun dapat ditemukan museum tentang apa saja. Demikian juga dengan Sora Sirulo berkesempatan mengunjungi Museum Etnologi (Museum Volkenkunde) di Leiden. Kami diterima langsung oleh curator museum, Fransje Brinkgreve

Kami dibawa langsung ke gedung Research Centre for Material Culture. Di ruang kerjanya, Fransje mengatakan saat ini Museum Tropen, Museum Amsterdam dan Museum Volkenkunde sedang dalam proses merjer. Beliau juga menjelaskan, display museum saat ini untuk Indonesia sedang tidak ada menampilkan koleksi dari Karo.

“Walau begitu saya akan menunjukkan data base kami mengenai koleksi Karo, berupa museum 1barang dan foto serta dokumen. Saat ini Volkenkunde mempunyai koleksi kurang lebih 18 ribu terkait dengan Karo,” jelasnya.

Sambil menunjukkan data base, Fransje menampilkan beberapa koleksi yang tidak umum dan menarik yang menurutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Di ruang kerjanya, Fransje menghadiahkan kami 2 buah buku yang baru terbit berjudul: Living with Indonesian Art : The Frits Liefkes Collection (diterbitkan oleh Rijksmuseum Volkenkunde).

Dari gedung Research Centre for Material Culture, Bu Brinkgreve membawa kami ke gedung museum. Langsung menuju ruang koleksi Indonesia yang hari itu menampilkan kurang lebih 200 koleksi. Koleksi terdepan adalah patung-patung yang berasal dari Candi Singosari, Malang. Fransje menyebutkan koleksi ini adalah master piece. Patung Ganesha, Lembu Nandini, Khrisna, dll. terlihat sangat megah di bawah cahaya.

Setelahnya, kami mengunjungi koleksi perhiasan Nusantara yang terbuat dari emas. Koleksi-koleksi itu umumnya datang dari Jawa, Bali dan Lombok. Di sebelahnya adalah koleksi keris Nusantara dari Aceh hingga Maluku. Di display kami ditunjukkan oleh Fransje keris milik Teuku Umar dari Aceh dan keris Sultan Siak dari pantai Timur Sumatera.

Berikutnya adalah display dari Kalimantan. Salah satu koleksi menarik dari Kalimantan adalah sebilah bambu yang berukiran asal mula bumi dan isinya menurut orang Ngaju yang disumbangkan oleh dr. Arnoud H. Klokke. Salah satu keistimewaan dari bambu ini, menurut Fransje karena diperoleh oleh dr. Klokke bukan karena bertugas sebagai pegawai Hindia Belanda atau dalam rangka missi tetapi diberikan sebagai hadiah oleh orang Ngaju atas bantuan pengobatan dan pekerjaan di tengah-tengah Suku Ngaju.




Masih banyak koleksi menarik tentang Indonesia yang dapat kita lihat dan pelajari di museum ini. Satu hal menarik yang disampaikan oleh Fransje ketika kami melihat display koleksi dari Batak yang masih tercampur dengan koleksi dari Karo atau Simalungun, adalah perlunya penelitian kembali untuk mengenali benda-benda tersebut.

“Umumnya mereka yang menyumbangkan benda atau pemberian dari petugas-petugas Belanda di daerah kolonial tidak terlalu lengkap, sehingga sering keliru dalam pengelompokan,” jelasnya.

Selain koleksi yang luar biasa, kita juga bisa melihat bagaimana museum ini melakukan penataan dan sosialisasi untuk menjadi tempat berkunjung yang menarik. Ketika kami memasuki museum, seorang lelaki memainkan gitar bernada riang sambil memimpin serombongan anak TK yang kelihatanya gembira sekali melihat display museum yang diperuntukkan untuk anak-anak. Ada café yang tenang dengan ruang baca. Jangan khawatir dengan harga makanan dan minumannya, sungguh bersahabat.

Kebetulan pula yang bekerja di café itu adalah seorang pria Minangkabau yang pernah bermain ketteng-ketteng dengan Tartar Bintang di Buitenhof, Den Haag. Joes, namanya, langsung menyambut kami dengan ucapan MEJUAH-JUAH.









Leave a Reply