Sering Tangkap Lepas, Kapolres Diminta Mengevaluasi Kinerja Kapolsek Biru-biru

0
251

imanuel sitepu 3IMANUEL SITEPU. BIRU-BIRU. Sejak menjabat sebagai Kapolsek Biru-biru, AKP Benyamin Partogi Pakhpahan sering melakukan tangkap lepas. Oleh karena itu, masyarakat setempat mendesak Kapolres Deliserang AKBP Robert Da Costa segera mengevaluasi jabatan Kapolsek yang diemban oleh AKP Benyamin Partogi Pakhapan.


Dari data yang berhasil dikumpulkan oleh Sora Sirulo, AKP Benyamin Pakhpahan telah melepaskan sedikitnya 8 tersangka yang terlibat dalam 4 kasus pidana.

Terkini, tersangka Masa Perangin-angin yang merupakan dalang perusakan tanaman sawit milik keluarga almarhun Mimpin Tarigan berhasil diamankan Polsek Biru-biru bersama 2 rekannya, Dison Pranginangin dan Dana Tarigan [Jumat 13/5: Sore]. Akan tetapi, malam harinya, Masa Peranginangin yang merupakan kepala desa terpilih Desa Ajibaho (Kecamatan Biru-biru) ini akhirnya dilepas. Sementara, kedua rekannya masih mendekam di dalam sel.

Partogi
AKP Benyamin Partogi Pakhpahan

Kenyataan bahwa tersangka Masa Pranginangin tidak diinapkan di balik jeruji besi Polsek Biru-biru telah menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat Desa Ajibaho. Kebijakan yang dibuat Kapolsek Biru-biru AKP Benyamin Pakhpahan pun menjadi pergunjingan hangat. Isu yang berkembang di masyarakat [Senin 16/5}, dilepasnya tersangka Masa Pranginangin karena disinyalir tersangka telah memberi segepok uang kepada pihak Polsek Biru-biru.

Namun, penilaian buruk kinerja pihak kepolisian disanggah oleh Kapolsek AKP Benyamin Pakhapahan. Saat dikonfrimasi wartawan melalui selularnya [Senin 16/5: sekira 15.00 wib], Benyamin Pakhpahan mengaku melepaskan tersangka karena belum memiliki unsur dan mengatakan tidak semua pelaku tindak pidana harus ditahan.

Seringnya Kapolsek Biru-biru melakukan tangkap lepas, bukan lagi rahasia umum. Tersangka Nyn (24) warga Dusun 1 Desa Sidomuliyo (Kecamatan Biru-biru) berhasil ditangkap oleh Unit Reskrim Polsek Biru-biru [Rabu 23 September 2015 silam] karena ikut terlibat dalam pencurian di gerei Indomaret. Mirisnya, sepekan mendekam di dalam sel, ayah anak 1 ini kemudian dilepas, disebut-sebut karena tersangka adalah kibus Polisi.

Hal tersebut juga terjadi terhadap tersangka AP (15) warga Gg. Rahayu A, Desa Sidodadi (Kecamatan Biru-biru) bersama temannya RG (15) warga Pasar 9 Dusun 1 Madiyo, Desa Sidodadi (Kecamatan Biru-biru) yang terlibat dalam pencurian Honda Beat BK 3453 ACE milik Rizki Anggara (23) warga Gg. Citarum, Desa Candi Rejo (Kecamatan Biru-biru) [Senin 6 Juli 2015: sekira 06.45 wib]. Meski telah tertangkap [Rabu 2 September 2015], sepekan lebih mendekam dalam sel, keduanya kemudian dikeluarkan dengan alasan kedua buruh bangunan ini masih tergolong anak di bawah umur.




Padahal, dalam  dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA), telah diatur, bagi anak yang masih berumur 8 sampai 12 tahun yang tersangkut dalam kasus pelanggaran hukum, hanya dapat tindakan dikembalikan kepada orangtuanya, ditempatkan kepada dinas sosial, atau diserahkan kepada negara. Sedangkan terhadap anak yang telah mencapai umur di atas 12 sampai 18 tahun dijatuhkan hukum pidana.

Sistem tangkap lepas tampaknya sudah membudaya di Polsek Biru-biru sejak dijabat oleh Kapolsek AKP Benyamin Pakhpahan. Sebanyak 4 tersangka, RJN (21),BG (22), AUM (23) ketiganya warga Desa Mbarue (Kecamatan Biru-biru) ditambah SS (24) warga Dusun 3 Simpang Ranting, Desa Namotualang, yang ditangkap Sabtu 8 Agustus 2015 sekira jam 21.00 wib yang terlibat dalam kasus pencurian bibit asam gelugur milik korban Tenang Barus (34) warga Dusun 3 Simpang Ranting, Desa Namo Tualang, juga dikabarkan telah dilepas oleh Polsek Biru-biru.

Padahal, dalam laporannya ke Polisi, korban mengaku merugi hingga Rp. 3 juta (Tidak masuk perma). Pasalnya, keempat pecandu sabu tersebut telah berulangkali mencuri bibit gelugur milik korban. Sebagai bukti pendukung pada saat membuat laporan ke Polisi kala itu, korban sempat membawa surat perjanjian yang dibuat di tingkat desa, dimana dalam surat perjanjian tersebut, para pelaku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanya.

Akan tetapi, keempat tersangka kembali mengulangi, sehingga korban melaporkannya ke Polsek Biru-biru. Lebih mirisnya lagi, tersangka RJN, BG, dan AUM sempat tidur di dalam sel tahanan Polsek Biru-biru selama sekira seminggu. Sementara SS, yang ikut terlibat dalam pencurian, setelah hampir sebulan mendekam di dalam sel, akhirnya juga dilepas. Diduga setelah ditebus pihak keluarga.








Leave a Reply