Celoteh Anak Sinabung

0
151

Sinabung 23

Oleh: Rikwan Sinulingga (Berastagi)

 

Kami tidak tahu apa yang terjadi… kami hanya melihat ada asap dari gunung dan berhamburan ke desa bahkan ke rumah kami. Mama berteriak: “Ada abu gunung!” Bapak ngedumel dengan nada kesal: “Sinabung meletus lagi, hancurlah tanaman kita.”

Aku hanya bingung…. saat awal kami melihat semburan asap dari mulut Gunung Sinabung, kami hanya berpikir: “Oh, seperti kembang api di saat tahun baruan. Indahnyaaa.”

Sepuluh menit kemudian desa kami memutih. Udara terasa sesak. Kami susah bernafas. Kami bingung dan takut harus bagaimana. Kami hanya bisa nurut perintah: “Masuk ke dalam rumah, nak! Pake masker, nak! Jangan keluar rumah lagi, ya.”

Yah, waktu kami bermain lewat sudah sampai tengah malam. Berharap pagi besok akan cerah seperti pagi hari biasanya. Namun, ketika pintu kami buka…. Wow…. desaku telah berubah memutih. Aroma udara jauh berbeda, sekolah tempat kami bermain juga sudah di cat abu-abu putih tak jelas. Kami enggan bermain tapi rasa kekanak-kanakan kami tetap muncul dan terus ingin bermain dan bermain.




Mama…. apakah besok pagi akan kembali seperti pagi hari sebelumnya? Papa, kapan debu ini akan pergi dari desa kita, dari sekolah kami? Kami hanya ingin bermain lagi.

Tapi jawab papa dan mama: “Hanya Tuhan yang tahu, nak!”

Ooh, jangankan Bupati, Wakil Bupati, anggota DPRD, Kepala Desa yang termasuk orang pintar dan orang hebat. Merekapun tak tahu apa yang diperbuat. Ternyata rumput yang bergoyang pun tak tahu!

Tuhan, aku ingin bermain lagi bersama teman-temanku. Kapan ini berakhir Tuhan? Kutunggu jawabanMu, ya Tuhan. Kalau bisa secepatnya, ya Tuhan… Aku mohon, plisss….













Leave a Reply