Kicik-kicik, Ramuan Penting Herbal Kuning Karo

0
286

Oleh : Salmen Kembaren

 

SALMEN FOTOMasuk ke dalam kategori semak bagi masyarakat umum tidak lantas menjadikan kicik-kicik bernilai semak juga. Pengetahuan pengobatan tradisional Karo menempatkannya sejajar dengan anggota keluarga kerajaan. Ia biasanya tumbuh di tempat-tempat yang memiliki kelerengan dari landai sampai curam.

Kicik-kicik masuk ke dalam suku fabaceae atau polong-polongan, yang terlihat dari bentuk buah dan bunganya. Namun, perlu kiranya diteliti lebih jauh oleh ahli botani mengenai spesies dan sub spesies tumbuhan ini juga tentunya kandungan unsur kimia yang terkandung di dalamnya.

kicik-kicik 2Suku polong-polongan atau Fabaceae dikenal sebagai suku tumbuhan dikotil yang terpenting dan terbesar. Banyak tumbuhan budidaya penting termasuk dalam suku ini, dengan bermacam-macam kegunaan: biji, buah (polong), bunga, kulit kayu, batang, daun, umbi hingga akarnya digunakan manusia. Bahan makanan, minuman, bumbu masak, zat pewarna, pupuk hijau, pakan ternak, bahan pengobatan, hingga racun dihasilkan oleh anggota-anggotanya.

Semua tumbuhan anggota suku ini memiliki satu kesamaan yakni buahnya berupa polong.

Anggota suku ini juga dikenal karena kemampuannya mengikat (fiksasi) nitrogen langsung dari udara (tidak melalui cairan tanah) karena bersimbiosis dengan bakteri tertentu pada akar atau batangnya. Jaringan yang mengandung bakteri simbiotik ini biasanya menggelembung dan membentuk bintil-bintil. Setiap jenis biasanya bersimbiosis pula dengan jenis bakteri yang khas pula.

Bagi kebanyakan masyarakat kita tumbuhan dan tanaman polong-polongan digunakan terutama sebagai makanan, pakan ternak dan bahan bangunan. Bagi masyarakat Karo, terutama penerus dan pecinta  obat tradisional, tumbuhan liar ini begitu penting perannya.




Kicik-kicik terutama digunakan dalam pembuatan tawar, baik berbentuk kuning maupun kesaya. Bagian dari tumbuhan ini yang digunakan adalah daun, bunga dan buahnya. Tumbuhan yang satu ini belum termasuk tumbuhan yang langka, karena masih cukup melimpah di daerah-daerah yang masih memiliki hutan. Bagian tumbuhan yang dipakai tersebut dicuci terlebih dahulu kemudian diolah bersama bahan kuning atau kesaya lainnya.


[one_fourth]Referensi[/one_fourth]

Sembiring, Salmen. 2012. Pengetahuan dan Pemanfaatan Obat Tradisional Karo. Skripsi: Tidak Dipublikasikan.








Leave a Reply