Ahok Diserang Tempo, Kurawa Bela Ahok, KPK Tiarap

0
165

Asaaro LahaguBagi lawan Ahok, manufer Tempo jelas dipuji. Dugaan  lawan Ahok yang selama ini percaya bahwa Tempo adalah media yang condong pihak ke Ahok tidak benar dan kini telah berbalik untuk menunaikan fungsi esensinya, menguak kebenaran. Tempo sudah benar, sudah sadar dan sudah kembali ke wujud aslinya. Jika Ahok benar, dibela, namun jika salah, dicerca. Namun bagi para pendukung Ahok, alibi bahwa Tempo sudah mulai sadar, kembali netral, terus menyisakan pertanyaan.

Publik semakin penasaran ketika Ahok membantah temuan Tempo itu. Ahok yang sebelumnya cukup mesra dengan Media Tempo, namun kini sejak Tempo berbalik arah, Ahok menjadi alergi dan marah besar mendengar nama Tempo. Bahkan Ahok secara terang-terangan mencap Tempo telah memfitnah dirinya dan berencana menggugatnya di pengadilan (sampai sekarang belum dilaporkan). Jika Ahok marah kepada Tempo, jelas publik menafsirkannya sebagai  sesuatu hal yang wajar apalagi jika Ahok salah. Namun berbaliknya Tempo secara mendadak dan terus menerus mengulang-ulang kata ‘barter’ dan diskresi juga membuat publik bertanya ada apa yang sebenarnya yang sedang terjadi dengan media Tempo?

Penasaran publik itu dicoba dijawab di Twitter oleh sebuah akun bernama  @kurawa. Pemilik akun ini belakangan diketahui  Rudi Valinca, dan merupakan salah seorang pendukung Ahok. Ahok sendiri mengakui bahwa ia mengenal  Rudi sebagai salah seorang big fansnya. Tentu saja karena kicauan akun @kurawa yang kemudian penulis sebut Kurawa, hanya Twitter, tidak serta merta dipercayai. Namun sekurang-kurangnya penasaran publik terkait manufer Tempo yang mendadak itu, sedikitnya terjawab dengan baik. Logika yang dibangun oleh Kurawa dalam kicauannya terlihat logis, runtut dan disertai  dengan data-data. Kurawa sendiri bahkan berani menantang Tempo termasuk berlaga di pengadilan sekalipun.

Lalu apa saja skenario Tempo terhadap Ahok menurut Kurawa?

tempo 2Menurut Kurawa, Tempo sedang menuju kebangkrutan. Ekspansi usahanya yang agresif sejak tahun 2012 dengan tujuan membangun bisnis media paling besar di Indonesia tidak berjalan dengan baik. Laba bersihnya turun drastis. Pinjaman uang dari beberapa bank lalu diinvestasikan untuk modal kerja, ternyata tidak memberi keuntungan. Bahkan laporan awal keuangan Tempo pada tahun 2016, mengalami kerugian. Alhasil, utang cicilan dan bunga pinjaman Tempo kepada Bank yang jumlahnya mencapai 200 milyar Rupiah itu, mulai mencekik Tempo.

Keadaan gawat itu membuat pemilik Tempo, Gunawan Mohammad, yang Kurawa sebut sebagai The Goodmother, mulai melakukan strategi. Berkaca pada pengalaman pada Pilkada 2012 dimana Tempo mampu mereguk pemasukan dari iklan, maka menjelang Pilkada 2017, Tempo mulai mengulang kesuksesan itu. Caranya, lambungkan, puji, jilat, incumbent (Ahok) tinggi-tinggi dan terus beberkan propaganda positif terhadap Ahok sebagai pejabat gubenur incumbent. Lalu sedapat mungkin menjadi tim sukses incumbent. Tujuannya adalah mendapat kesempatan lebih besar untuk meraup iklan. Selain itu ada peluang sang incumbent akan membiayai program riset, survei dan seterusnya. Jika skenario itu berhasil, maka bisa menyelamatkan keuangan Tempo untuk sementara.

Akan tetapi skenario Tempo itu tidak berjalan dengan baik. Ahok, sang incumbent, tidak mengacuhkan gelagat Tempo dan proporsal risetnya. Bagi Ahok, jika anda mendukung saya, dukunglah tanpa embel-embel. Namun karena Tempo butuh ‘giji’ untuk mencegah dirinya dari kebangkrutan, selalu berpatokan pada ungkapan lama bahwa tidak ada makan siang gratis. Akibatnya, karena Ahok terus mengacuhkan Tempo, Tempo pun mulai menyerang Ahok dengan dan mencoleknya dengan tujuan agar memperhatikan Tempo. Koran Tempo pada tanggal 11 Mei 2016 pun mulai menyerang Ahok lewat Koran Tempo dengan headline: “Agung Podomoro Seret Ahok”. Hasilnya?

Bukannya Ahok menjadi takhluk atau bertekuk lutut. Ahok malah marah dan berbalik menentang Tempo yang telah memfitnah dirinya. Akibatnya, Tempo yang sudah setengah basah, sekarang all-out menjadi penentang Ahok. Jika tujuan pertama Tempo gagal, maka Tempo mulai mewujudkan Plan B-nya. Tempo akan mencoba memancing lawan Ahok untuk menggunakan jasaTempo dan memberinya ‘giji’ yang cukup untuk menyerang Ahok.




Itulah kurang lebih skenario yang sedang dijalankan oleh Tempo dan dicoba dijelaskan dengan gamblang oleh Kurawa. Menurut Kurawa, kicauan-kicauan yang dibeberkannya bukan fitnah atau hoax tetapi ia memiliki data dan fakta-fakta serta sumber-sumber yang valid.  Kurawa akan membuka sumber datanya jika Tempo juga membuka narasumbernya. Tentu saja Tempo tidak akan meladeni tantangan Kurawa yang dianggap hanya sekelas akun Twitter itu.

Lalu bagaimana sikap KPK terhadap perseteruan Ahok vs Tempo itu? Jika Kurawa dengan terang-terangan membela mati-matian Ahok, KPK terlihat sedang tiarap. Terkait isu kasus Sumber Waras yang sebelumnya memanas, kini pelan-pelan dingin tanpa kejelasan. Sampai sekarang KPK tidak juga menetapkan Ahok sebagai tersangka, pun juga tidak mengumumkan jika Ahok clear di Sumber Waras. KPK lebih memilih tiarap, dan membiarkan pendukung dan lawan Ahok terus berperang opini di media.

Soal barter yang terus dicuatkan oleh Tempo, Ketua KPK, Agus Rahardjo, hanya memberi pernyataan diplomatis bahwa persoalan barter itu akan terus diselidiki KPK serta mencari data dan fakta jika ada indikasi korupsi. Sementara terkait diskresi Ahok, KPK hanya melempar pernyataan bersayap bahwa diskresi Ahok itu pada dasarnya harus punya dasar hukum, tanpa menyatakan diskresi Ahok itu salah total. Posisi KPK ini untuk sementara kita namai tiarap, alias sedang mengintip untuk memutuskan apakah maju atau mundur atau bergerak ke samping.

Lalu bagaimana akhir perseteruan Ahok vs Tempo dan Tempo vs Kurawa? Mari kita tunggu kelanjutannya. Jadi untuk sementara, ketika Ahok yang sebelumnya dibela Tempo, dan sekarang diserang habis-habisan, pada saat itu publik terus bertanya. Di saat nalar kita bertanya-tanya, maka pada saat itu muncul Sang Kurawa mencoba mencerahkan nalar kita bersama. Lalu di saat publik mulai tercerahkan, KPK pun masih memilih tiarap, mungkin bingung alias ragu hehe.








Leave a Reply