Kolom Sada Arih Sinulingga: PELURUSAN SEJARAH

1
123

SADA ARIH 5Mengubah persepsi publik kiranya tidaklah mudah, karena telah terjadi pembenaran akibat yang biasa atau sering diucapkan. Menyebut Suku Karo sebagai Suku Batak Karo menjadikan banyak orang Karo merasa sebagai bagian dari Batak. Demikian juga halnya oleh kaum lain di luar orang Karo tanpa memahami yang sebenarnya.

Sapaan Horas kepada Orang Karo sebenarnya sebuah kekeliruan karena sapaan untuk orang Karo adalah Mejuah-juah. Namun, sering sekali terjadi pembiaran. Dianggap tidak begitu penting. Sehingga pada akhirnya, jati diri orang Karo bahkan Suku Karo menjadi lemah. Pada saatnya akan tenggelam dari bumi ini.

Apa yang dilakukan seorang aktor peraih IMA 2016, Tanta J. Ginting, seakan menghentak hati jutaan publik di Tanah Air ini.

Tanta J. Ginting 3
Tanta J. Ginting

Tanta, dengan berani telah meluruskan sesuatu yang salah selama ini. Dia tidak main- main terhadap pelurusan ini karena apa yang diyakininya adalah bahwa Karo Bukan Batak. Berbeda dengan Batak, bukan tanpa alasan.

Di berbagai kesempatan di layar kaca, Tanta selalu menunjukkan kekaroannya. Menunjukkan jati dirinya sebagai seorang Karo.

Selain Tanta, kini ada juga Mpuh Sembiring. Seorang magician (penyunglap) yang mulai naik daun dan sering tampil di layar kaca. Anak muda ini juga memakai atribut kekaroan. Seperti, memakai uis beka buluh (kain khas Suku Karo) di pundak atau di kepalanya. Padahal, dia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Budaya Betawi, ibunya seorang Betawi.

Namun, dia tunjukkan jatidiri sebagai seorang Karo karena ayahnya seorang Karo yang bermerga Sembiring Gurukinayan. Dia bahkan sekarang sedang mendalami dan mempelajari Ndikkar Karo (seni bela diri dari Karo) yang mulai hampir hilang. Kecintaannya kepada Suku Karo, dengan memahami bahwa Suku Karo beda dengan Batak.

Selain itu ada juga Dermawan Karosekali, seorang Kapolsek di jajaran Polda Metro Jaya. Di saat bersama dengan publik dalam tugasnya, sering kali atasan dan koleganya menyapa beliau dengan kata Horas. Mereka menganggapnya sebagai Batak selaku orang yang berasal dari Medan.

Namun, Pak Dermawan tidak canggung untuk menyatakan dirinya agar disapa dengan Mejuah-juah bukan Horas. Ternyata cara ini berbuah dengan cepat, karena masyarakat umum telah memahami perbedaan Karo dengan Batak. Terlebih sifat dan tekanan suara beliau yang datar dan lembut bukan seperti orang Batak pada umumnya bersuara keras.




Bahkan, Pak Dermawan dipanggil “Pak Karo” oleh koleganya sesuai dengan merganya yang Karosekali.

Ketiga orang yang saya sebutkan ini melakukannya dengan nyata. Tidak saja sekedar berkoar-koar di medsos, kata sebagian orang memberi komentar menantang di group Jamburta Merga Silima (JMS). Kebetulan juga, ketiga orang ini merupakan member JMS, orangnya benar-benar ada. Bukan akun palsu yang tidak bertanggungjawab.

Saya berkeyakinan, banyak diantara kita telah melakukan hal-hal seperti ini di berbagai kesempatan sehari-hari. Tugas kita adalah melakukannya terus menerus di setiap kesempatan agar pelurusan jati diri suku Karo adalah Karo Bukan Batak, membuahkan hasil untuk ke arah yang lebih positif terhadap masa depan Suku Karo.

Simbisa KBB harus terus bertambah dan lebih berani serta penuh percaya diri menyuarakan pelurusan ini.

Mejuah-juah kita kerina.








1 COMMENT

  1. Mejuah juah.. nungkun teku .. Adi si lahir arah keluarga nande Na kalak batak enca ge bapana kalak karo . Uga ? KBB???

Leave a Reply