Kolom Sada Arih Sinulingga: ASAL USUL ISTILAH JERING

1
338

SADA ARIH 5Di kalangan Suku Karo, sering sekali dikatakan Jering (Jengkol ) kepada Suku Batak. Entah sejak kapan penyematan “jering” ini, hampir tidak ada yang bisa memberi alasan mengapa mereka disebut “jering”. Kalangan Batak sendiri, tidak bisa memberi jawaban. Mereka umumnya tidak tahu mengapa disebut “Jering” oleh orang-orang Karo.

Interaksi antara Suku Batak dengan Suku Karo telah terjadi. Baik melalui perkawinan antar kedua suku, maupun karena perantauan orang-orang Batak ke Taneh Karo.

Suku Batak, jika merantau ke Taneh Karo pasti akan mencari ikatan persaudaraan dengan orang-orang dari Suku Karo. Mengangkat orangtua atau mengangkat saudara menjadi kewajiban setiap orang.

Suku Karo, terkenal terbuka sifatnya dan adat-istiadatnya mudah menerima pendatang. Pendatang akan diberikan salah satu dari beberapa merga Karo.

Alkisah, pada suatu hari, orang Batak yang telah mendapat merga dari Suku Karo pergi ke kampung lain di Taneh Karo untuk menghadiri pesta. Terjadilah perkenalan dan percakapan sengit di kedai kopi. Karena kebiasaan masyarakat Karo yang mudah bergaul, maka berbincanglah orang Batak tersebut dengan beberapa pria Karo yang ditemuinya di kedai kopi.

Percakapan semakin memanas, ketika orang Batak ini memonopoli pembicaraan dengan menceritakan Tarombo Batak. Suaranya yang keras ditambah sifatnya yang sok tau, seakan tidak terbantahkan atas apa pun yang dia katakan adalah kebenaran.
Dia selalu menekankan kepada semua orang yang ada di kedai kopi tersebut, jika orang Karo berasal dari Batak. Sama- sama keturunan Siraja Batak dari Pusuk Buhit di Sianjur Mula-mula, Pulau Samosir Danau Toba.




Walau sudah dilakukan berbagai argumentasi, baik dari perbedaan adat, budaya, bahasa yang berbeda oleh orang orang Karo, namun orang Batak tersebut ngotot tetap tidak ada bedanya.

Disampaikan lagi, orang Batak mengucapkan salam sapaan “Horas” sedangkan Orang Karo “Mejuah-juah”.  Tetapi, Orang Batak tersebut tetap mengatakan artinya sama. Karo sama dengan Batak, Karo itu bagian Batak.

Akibat keras kepala si Orang Batak tadilah, akhirnya ada salah satu orang Karo memberi pemahaman dengan mengibaratkan “Jering” (Jengkol) dengan “Parira” (Petai).

“Kutanya kam, apakah sama Jering dengan Parira ?” kata orang Karo yang satu ini.

Orang Batak itu terdiam lama.

Kemudian, dijawabnya: “Samanya itu, sama-sama bauk.”

Rau wajahnya tidak memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun.

Orang Karo yang duduk di meja sebelah yang sejak tadi mendengar percakapan mereka ini menyelutuk: “Dasar Jering! “

“Cuman cakapnya yang didengarnya,” kata mereka sambil berlalu dan mengajak yang lain pergi dari kedai kopi.

Sejak saat itu, setiap Orang Karo bertemu dengan Orang Batak yang stu itu atau dengan Orang Batak lain yang memiliki sifat keras kepala dan sikap menang sendiri, maka keluarlah kata “Jering “.








1 COMMENT

Leave a Reply