Sosial Media dan Gaya Hidup Baru di Karo

1
113

Oleh: Jhon Rocky (Kabanjahe)

 

Jhon RockyKecanggihan informasi Teknologi saat ini merubah peradaban dunia, masyarakat dibawa pada situasi yang paradoks. Di sisi lain, globalisasi informasi telah melahirkan kesadaran individu sebagai penghuni satu bumi. Sekat ruang dan waktu seakan tidak ada dengan kecanggihan teknologi. Globalisasi informasi merangsang munculnya aliansi regionalisme ekonomi juga kesadaran etnik serta pencarian jati diri dari berbagai komunitas.

Dalam realitas kehidupan, fenomena global juga memberikan dampak yang cukup luas terhadap prilaku masyarakat. Masyarakat Suku Karo yang dikenal kental dengan norma dan adat juga tak luput dari hempasan teknologi ini. Prilaku hidup orang-orang Karo yang dulu dikenal ramah dan suka bersosialisasi kini mulai terkikis digerus perkembangan zaman teknologi canggih.

teknologiHal ini dapat kita lihat di kede-kede kopi yang banyak terdapat di desa maupun di daerah perkotaan Karo. Pada masa dulu, kede kopi dipadati berbagai kalangan dengan banyak aroma cerita baik masalah politik, pertanian dan sebagainya. Tak jarang kede kopi juga sering dibuat sebagai sarana untuk bersenda gurau pada malam hari sebelum istirahat.

Seiring perkembangan teknologi informasi, hal-hal tersebut di atas sudah jarang sekali ditemui. Tersisa hanya keheningan. Para pengunjung yang ada di kedai kopi semuanya terdiam. Sibuk dengan android masing masing berselancar di dunia maya. Satu sama yang lainnya tidak bertegur sapa lagi (Adi mbarenda siiahken denga temanta gelah minem).

Semuanya diam membisu sampai mata lelah dan pulang ke rumah untuk beristirahat. Keganasan jejaring sosial ini juga merambah ke dalam acara-acara adat masyarakat Karo baik acara suka maupun duka. Para tamu undangan tidak lagi peduli pada rangkaian acara maupun cara-cara ngerungui dalam Adat Karo. Semuanya asyik berselfi ria dan berselancar di dunia maya.

Seharusnya masyarakat bersifat dinamis menyesuaikan diri dengan fenomena ini. Kita harus tetap mengedepankan aturan atau norma-norma adat kita sebagai masyarakat Karo. Sehingga, walaupun kita mengikuti derasnya perkembangan zaman, kita juga tetap menjunjung tinggi kultur khas budaya Karo yang kita banggakan selama ini.

Mejuah-juah!








1 COMMENT

  1. ”Globalisasi informasi merangsang munculnya aliansi regionalisme ekonomi juga kesadaran etnik serta pencarian jati diri dari berbagai komunitas.” (JR). Wow . . . ini dia kesimpulan analisa canggih soal globalisasi. Globalisasi sepertinya mendekatkan, tetapi juga bersamaan dengan itu ’menjauhkan’ karena orang semakin dekat ke regionalnya dan jati-dirinya. Paradoks juga he he he . . .
    Paradoks adalah gambaran hal-hal lyang berkebalikan atau bertentangan, dan itulah juga salah satu contoh kontrariksi atau proses dialektika. Proses hal-hal yang bertentangan yang bisa melahirkan perubahan atau pikiran baru.

    Menjauhkan dari yang lain karena kita lebih dekat ke jati diri kita dan regional kita. Mendekatkan karena bisa lebih mengerti orang lain yang jauh itu. Multikullturalisme yang menjauhkan kita dari jati diri kita sangat tidak terpakai sekarang, karena apa saja yang bisa menjauhkan diri kita dari budaya dan kultlur kita, yang menjauhkan diri kita dari JATI DIRI kita, tak mungkin lagi kita terima. Tetapi bisa jadi lebih dekat dengan orang lain siapa saja dalam pengertian saling memahami jati diri masing-masing dan bikin kita saling menghargai.

    Kedai kopi jadi ’sepi’ karena saling tak teguran lagi, masing-masing bergaul sendiri dengan teman mayanya . . . ya itu tadi, apapun ada positif negatifnya, termasuk perkembangan teknologi infromasi ini. Bagi kita yang sudah mengerti adanya positif dan negatifnya itu, tinggal menjaga supaya yang positif bisa berdominasi dalam diri kita maupun dalam pergaulan sosial. Kalau yang negatif tadi yang berdominasi, media sosial itu sudah jadi media asosial, karena tak ada lagi pergaulan sosial yang nyata dalam bersikap sesama kita seperti di kedai kopi itu.

    Dari segi lain teknologi informasi canggih itu ialah pembawa informasi aktual dan juga informasi canggih soal perkembangan pengetahuan dan kemajuan apa saja di dunia yang tadinya kita tak mungkin tahu kalau tak ada tenologi informasi itu. Dengan tenologi itu kita jadi sangat dekat dengan perubahan dan perkembangan, termasuk yang paling penting ialah soal pengetahuan dan perkembangannya di seluruh dunia. Dan inilah yang utama dalam memanfaatkan perubahan teknologi informasi itu.

    Tugas utama media sosial sebagai media terbesar di dunia sekarang ini ialah ikut menyebarkan dan meluaskan semua pembaruan itu ke seluruh lapisan masyarakat dan keseluruh pelosok dunia. Dan seluruh pelosok dunia juga sudah mungkin mendapatkan info itu. Itulah yang membikin perubahan, itulah yang mengubah pikiran dari jutaan manusia supaya tidak kektinggalan atau mengurangi sangat drastis ignorance manusia. Ignorance (kurang informasi dan kurang pengetahuan) adalah salah satu sebab utama yang digunakan oleh element tertentu misalnya untuk mengadu domba sesama rakyat, seperti terjadi belakangan membangkitkan komunisme yang sudah tak jamannya. Tetap karena ignorance itu, banyak juga dikalangan ”orang tua kita yang punya keterbatasan intelektual” jadi sangat terpengaruh oleh hasutan kebangkitan komunisme. Orang-orang ini akan selalu gampang digunakan oleh pemecah belah neolib di negeri kita yang masih punya kepentingan perpanjang perusahaan neolib Freeport Papua. Orang-orang neolib ini sudah bikin banyak usaha yang sangat menyolok demi perpanjangan Freeport, seperti kasus Setnov, saham 21T untuk dijadikan utang ke bankir neolib, lobi direktur yang kemudian dipecat, lobi Dubes AS ke Papua, teror Thahmrin untuk menakut-nakuti Jokowi yang malah bilang tak perlu takut sama teroris setelah teror Thamrin. Freeport malah semakin jauh nasibnya karena usaha-usaha gelap ini.

    Sekarang neolib malah menggerakkan hantu komunisme lewat agen-agennya di Indonesia. Bisa saja nanti menggerakkan demo bayaran sebanyak banyaknya, atau mengangkat beberapa orang ’mendirikan PKI di Kramat Raya’. Manover licik seperti ini sering dibuat oleh neolib. Terjadi di Indonesia 1965, di Grenada 1981, di Vietnan Selatan pada masanya hampir tiap minggu atau tiap bulan ada kudeta dengan tuduhan komunis atau kurang anti komunisnya. Terjadi juga dijaman Hitler dimana orang komunis dituduh bakar gedung Parlemen Reichstag. Dengan politik adu domba dan pembunuhan massal jutaan orang lagi sekarang ini, besar harapan kalau Freeport akan selamat, pikirnya. Tetapi apakah betul demikian? Tak mungkinlah sekarang ini orang Indonesia akan saling bunuh supaya Freeport selamat. Tak mungkin, walaupun masih banyak juga yang bisa tertipu muslihat neolib ini. Karena itu harus juga waspada dari gerak gerik pecah belah neolib sekarang ini. Kenyataan juga ialah bahwa jumlah ’orang tua kita’ yang punya ’keterbatasan intelektual’ (istilah Politikus PKB Maman Imanulhaq) masih banyak juga, termasuk yang bisa dikerahkan ketengah jalan (demo) dengan biaya murah bagi penghasutnya.

    Selama Freeport masih bernasib seperti telur di ujung tanduk, selama itu masih akan terus ada usaha adu domba dan tipu muslihat lainnya untuk memecah belah dan bikin perang sesama rakyat Indonesia. Penjelasan inilah yang dibutuhkan sekarang dan menggunakan media sosial. Dibutuhkan kekuatan gesit intelektual dan akademisi negeri ini untuk kasih pencerahan sebanyak mungkin dan sedalam mungkin. Jangan kalah oleh tipu muslihat intelektual neolib. Pakai pedoman: Kontradiksi pokok dunia sekarang ialah antara KEPENTINGAN NASIONAL kontra KEPENTINGAN INTERNASIONAL NEOLIB ’global hegemony’. Di Indonesia ada kepentingan langsung neolib sejak 1965 yaitu Freeport Papua. Dikalangan politisi perlu dialog dan debat yang berbobot dan akan bisa terlihat jelas bagi publik yang luas, siapa yang harus maju demi kepentingan nasional atau kepentingan neolib internasional. Kontradiksi dalam bentuk dialog, diskusi dan debat akan menghasilkan pencerahan yang tak ada bandingannya demi perubahan, artinya perubahan dan kemajuan dicapai tanpa harus membunuh 3 juta orang atau sekarang 15 juta orang ’pengikut komunis’ sekarang menurut ’statistik’ Kivlan Zen. Ayo siapa yang mau dihasut saling bunuh atau bantai 15 juta ’komunis’ untuk menyelamatkan Freeport?

    MUG

Leave a Reply