Ada Apa Dengan Taneh Karo?

1
103

Oleh: Indrajaya Ginting

 

indrajaya gintingMungkin kata-kata awal pada judul di atas terkesan tidak asing. Memang saya mengambil dari judul sebuah film populer yang sekarang ada sekuelnya dan sampai artikel ini ditulis sudah membukukan jumlah penonton sebanyak lebih dari 3,6 juta dan masuk urutan film Indonesia terlaris ke-tiga sepanjang masa. Saya anggap tanpa menyebutkan judulnya kam sudah bisa menebaknya.

Memangnya ada apa dengan Taneh Karo?

Menurut saya, Taneh Karo sudah ada dalam posisi memprihatinkan dari banyak sisi. Taneh Karo sudah bukan lagi Taneh Karo yang terkenal dengan ungkapan “ingan cecio dingen cilinggem”. Tanah Karo sudah kehilangan “jile”nya tidak hanya dari segi fisik tapi juga dari segi “tendi”.

Apakah karena faktor erupsi Gunung Sinabung?

Tidak. Sinabung hanya menambah apa yang sudah ada. Jauh sebelum Sinabung terbangun dari tidur panjangnya dan akhirnya erupsi seperti tak kenal waktu, kita sudah lama terlalu terlena dengan apa yang kita punya. Kita sudah tidak menjaga, tidak memelihara bahkan tidak menghiraukan semua aset pemberian Sang Maha yang membuat Taneh Karo harusnya terdepan sebagai suku mandiri dan berwibawa.




Banyak yang terlalu jumawa, terlalu merasa bisa tetapi ironisnya tidak bertindak apa-apa. Kita menunjukkan reaksi negatif ketika orang lain melakukan terobosan dan membuat sesuatu yang baru. Kita blingsatan ketika hak kekayaan non dan intelektual kita diklaim oleh mereka-mereka yang memang sebenarnya tidak berhak, padahal sebelumnya kita tidak peduli sama sekali. Sudah saatnya kita berubah dan bergerak, jangan diam saja.

Taneh Karo dari segi fisik yang terlihat memang mengenaskan. Jeruk yang menjadi salah satu andalan Taneh Karo habis dirusak lalat buah. Pengelolaan tempat wisata acak adut. Pengguna narkoba usia sekolah yang bertambah banyak. Cafe remang-remang menjamur di beberapa tempat dan pengidap HIV/ AIDS termasuk yang tertinggi di Sumatera Utara. Penyakit sosial lain seperti judi tetap tidak bisa diberantas maksimal. Belum lagi ditambah efek erupsi Sinabung yang membuat perekonomian semakin sulit.

Jadi, ada apa dengan Taneh Karo? Apakah semua tanya pasti ada jawabnya? Mungkin ya tetapi sekarang saya belum menemukan jawaban yang memuaskan. Mungkin dibutuhkan sekuel layaknya film Ada Ada Dengan Cinta?




1 COMMENT

  1. ”Sudah saatnya kita berubah dan bergerak, jangan diam saja”. Betul inilah kuncinya.
    Perubahan di Karo (fisisk) selama ini telah dibikin atau dipaksakan oleh orang luar.
    Perubahan itu banyak yang negatif bagi Karo.
    Untuk mengubahnya lagi ke positif terpaksa Karo bergerak, ”jangan diam saja”.
    Karo introvert harus bisa berubah menjadi introvert yang bergerak, katakan apa
    yang harus dikatakan, dan bertindak secara praktis. Karo ’seratus tahun sinik’ diubah menjadi Karo Ngerana, bergerak dan bertindak. Hanya orang Karo yang bisa menyelamatkan Karo dan daerahnya.

    ”Enggo me melala gundari kalak beluhta ngeranaken persoalen-persoalen enda, persoalen sosial/politik si aktual gundari ibas zaman reformasi enda, termasuk ibas kalangen intelektuil kalak Karo sebagai man of ideas dalam mencari kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan masyarakatta. Enggo muat lalana si pang nuduhken dalan ras nuriken sora pusuhna, tentu ras ngikutken kerina kekurangen-kekuarangenna, tapi enda me sidalani, tugas kalak beluhta mereken ‘pencerahan dan harapan‘ (kata-kata dari Sutradara Ginting) man rayatta, man kalak Karo khususna ibas perjuangenta ngepkep perkembangen ras kemajuan. Enda pe sada kebanggaan me kuakap man banta kalak Karo.”

    Enda ku kutib bas tulisen ”KARO NGERANA” seratus tahun sinik https://groups.yahoo.com/neo/groups/tanahkaro/conversations/messages/893

    MUG

Leave a Reply