Kerajaan Urung Senembah (Bagian I): Dari Tepi Karo Gunung Hingga Selat Malaka

1
607

Oleh: Jebta B. Sitepu (Namorambe)

 

jebta 3Sumatera Utara memiliki banyak sekali sejarah yang sudah tercatat dan yang belum tercatat. Salah satu yang tercatat adalah sejarah Merga Barus yang mendiami Senembah dan akhirnya membentuk kerajaan Urung Senembah. Wilayahnya mulai dari Gunung Barus (Dataran Tinggi Karo) hinga Selat Malaka antara Sungai Berumai dan Sungai Seruai. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai Kerajaan Urung Senembah keturunan dari Zuriat Simbelang Pinggel (Sikuping Lebar), nenek moyang merga Barus.

Di Bagian I ini, saya akan menuliskan Sejarah Kerajaan Urung Senembah berdasarkan wawancara dengan Wan Chaidir Barus (Ketua/ Pemangku Adat/ Raja Kerajaan Urung Senembah Patumbak dan Raja Kerajaan Urung Senembah Serdang Tanjung Muda) di kediamannya; Jl. Pertahanan no.120 Dusun IV Patumbak (Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang).

 

1. Kerajaan Urung Senembah

Kerajaan ini dibangun oleh orang Karo dari merga Barus setelah terjadinya perkawinan antara cucu Simbelang Pinggel dari merga Barus Siberas dengan putri Radja Piraus Sebayak Tadukan Raga. Kerajaan ini memiliki wewenang memilih, menentukan, dan mengesahkan 2 kesultanan sekaligus; yaitu Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang.

Wilayah Kerajaan Urung Senembah meliputi Sungai Beruai hingga Sungai Belumai. Dari pegunungan hingga ke laut, lebih luas bila dibandingkan dengan Urung Serbanaman merga Surbakti, Urung 12 Kuta merga Sembiring, Urung Sukapiring merga Sembiring. 4 wilayah ini dikenal dengan Raja Empat Suku Kesultanan Deli.

Adapun Raja-raja Urung Senembah adalah sebagai berikut:

Wan Chaidir Barus
Wan Chaidir Barus

1. Raja Si Pultak Barus Siberas Sutan Mangedar Alam Harimau Putih (1580 -1620).

Si Pultak Barus adalah Anak dari Empung Barus Simbelang Pinggel dari Barus Siberas yang berasal dari Peken Tebu. Ia diangkat menjadi Raja Senembah di wilayah Pesisir Timur karena keberhasilan Simbelang Pinggel membunuh harimau putih yang meneror warga Taduken Raga. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada jaman kehancuran Kerajaan Haru yang ditaklukkan Imperium Aceh di bawah kendali Sultan Saidi Mukammil sekitar Tahun 1580, jauh sebelum munculnya Gocah Pahlawan sebagai pendiri Kesultanan Deli.

Ketika Kerajaan Haru/ Karo melakukan perlawanan kepada Kerajaan Aceh tahun 1591, Kerajaan Senembah bersama Kalimbubu, Senina, Sembuyak, Anak Beru (sangkep nggeluh) dan sibayak-sibayak diperkirakan juga turut membantu Kerajaan Haru/ Karo untuk lepas dari Kerajaan Aceh. Ketika Kerajaan Aceh berhasil menaklukkan Haru tahun 1612, Sutan Mangedar Alam enggan menghadap Sultan Aceh.

Namun, Sutan Mangedar Alam Harimau Putih mengutus anaknya Taharim Barus untuk menghadap serta meminta pengakuan wilayah. Karena keperkasaan dan kegagahan Taharim Barus, akhirnya dia dinikahkan dengan putri dari Radja Ujong Tamiang (sekarang masuk wilayah NAD Aceh) yang bernama Putri Saleha serta mendapatkan pengakuan wilayah (Barat Sungai Batuan; Timur Kayu Ageng dan Sungai Bialai; Utara Selat Malaka; Selatan Puncak Bukit Barisan) dan diberikan gelar Gajah Menta serta dikaruniai senjata Keris Beruk Berayun.

Taharim Gajah Menta mendapat pangkat Kejuruan Senembah dan menjadi raja di Kejuruan Senembah setelah Sutan Mangedar Alam Harimau Putih wafat sekitar tahun 1620 dan dikebumikan di Taduken Raga.

2. Taharim Gajah Menta Barus (1620 – 1665)

Taharim Gajah Menta Barus meneruskan kepemimpinan ayahnya. Pada saat di bawah kendali Taharim Barus Kerajaan Urung Senembah sangat diperhitungkan oleh Kerajaan Aceh. Dalam waktu singkat, penduduk Urung Senembah bertambah padat dan wilayahnya semakin luas. Seluruh keluarga yang berasal dari Peken Tebu dan Barus Jahe diminta untuk membuka perkampungan di Senembah dengan pusat Kerajaan berada di tepi Sungai Belumai diantara Kampung Senembah dan Kampung Tanjung sekitar 5 Km ke hulu Kampung Taduken Raga.

“Di sekitar Taduken Raga itu, terdapat batu besar yang disebut Batu Kejuruan. Tak jauh dari situ ada juga Lubuk Mandarsah. Namun, sekarang sudah tidak terurus dan telah menjadi lahan garapan PTPN II,” kata Wan Chaidir Barus.




Setelah Kerajaan Haru bisa dikendalikan, Sultan Aceh mengangkat Gocah Pahlawan menjadi kepala perwakilan di wilayah yang dikenal dengan sebutan Deli. Bahkan, Taharim Gajah Menta juga merupakan salah satu raja yang ikut mengangkat Gocah Pahlawan.

Taharim Barus wafat sekitar tahun 1665 serta memiliki 3 orang putra; yaitu Meuraksa Barus, Bedah Sari Barus (Sawit Deli) dan Megat Deli Barus.

3. Meuraksa Barus

Sebelum menjadi raja, ia pernah membuka wilayah di daerah Semeimei/ Meneh di Namo Galuh. Nama Meneh melekat kepadanya dan orang-orang memanggilnya Meneh. Ketika Ayahnya wafat , Ia kembali ke Tadukan Raga Untuk diangkat menjadi Raja.

Saat Gocah Pahlawan wafat tahun 1669, Meuraksa Baruslah yang mengangkat Parunggit (Putra Gocah Pahlawan) untuk menggantikan kedudukan Gocah Pahlawan.

Namun, tidak berselang lama sejak pengangkatan tersebut, Pa Runggit ingin menciptakan kerajaan sendiri serta menyatakan keluar dari Kesultanan Aceh. Pa Runggit menyerang wilayah kekuasaan 4 Suku. Sasaran Pa Runggit adalah Urung 12 Kuta dan Urung Sukapiring.

Saat Pa Runggit menyerang Urung Sukapiring, Kejuruan Senembah datang membantu Urung Sukapiring. Dikarenakan Urung Sukapiring merupakan Anakberu dari Urung Senembah (Raja Sukapiring adalah Suami Raja Serah, Putri Batar atau cucu Meuraksa. Pada peperangan ini, Batar tewas dan membuat hubungan Senembah – Deli tidak pernah akur lagi.

sultan dan raja urung
Para Sibayak dan kepala-kepala perbapan urung.

Tiba-tiba pasukan Aceh datang menangkap Pa Runggit karena telah dianggap berkhianat. Meuraksa Barus yang ikut dalam penangkapan tersebut mendapatkan penghargaan dari Sultan Aceh berupa Gelar Kejuruan Belimbing Betuah pada tahun 1671. Akhirnya, Meuraksa Barus melepas Kejuruan Senembah kepada adiknya Bedah Sari Barus karena Meuraksa sudah memiliki Kejuruan sendiri di Namo Galuh. Meuraksa Barus wafat tahun 1690.

 

4. Bedah Sari Barus

Bedah Sari Barus menggantikan posisi abangnya sebagai raja di Senembah Taduken Raga. Pada saat kepemimpinan Bedah Sari Barus, Pa Runggit kembali menyusun pasukan Kavaleri berkuda. Namun, ini diketahui oleh Bedah Sari Barus. Oleh karena itu, Bedah Sari meminta bantuan Meuraksa untuk memperkuat pertahanan Senembah Taduken Raga dan memerintahkan putranya yang bernama Mersah Barus untuk membuat benteng di Sigara-gara.

Putra Bedah Sari yang lain, yang bernama Ombah Barus, diminta membuka perkampungan di Patumbak Hilir (Dekat Sungai Percut). Pa Runggit pun marah dan mencari berbagai cara untuk mengalahkan Senembah. Akhirnya Pa Runggit menemukan cara dengan mengangkat Ombah Barus sebagai Raja Kejuruan Metar Bilad yang dianggap oleh Pa Runggit sebagai perwakilan Senembah di Kesultanan Deli. Ombah Barus jugalah yang mengangkat Panglima Pa Derap sebagai pengganti Pa Runggit yang wafat tahun 1698.

“Pengangkatan ini adalah tindakan melanggar Qanun dan tidak Sah. Raja sebenarnya adalah Sawit Deli. Hukum Qanun, Deli tidak berhak mengangkat raja karena di sistem adat Karo pengangkatan hanya dilakukan oleh sidang kepala perbapan, Sibayak dan Luhak (Runggu),” lanjut Wan Chaidir.

Setelah Kejuruan Metar berdiri, Senembah terpecah 2; Senembah Taduken Raga dan Senembah Metar. Di bawah kendali Sawit Deli Barus, Senembah melakukan penyerangan kea Panglima Pa Derap. Akibatnya, Panglima Pa Derap memindahkan pemerintahaannya ke daerah Pulo Brayan. Permusuhan ini terus berlanjut. Sawit Deli Barus wafat 1720 dan digantikan putranya Pintosari Barus.

Head cover:

Sebuah masjid di Patumbak (Urung Seembah) yang bergaya arsitektur Karo. Foto: BASTANTA P. SEMBIRING

BERSAMBUNG








1 COMMENT

  1. Ternyata bulang Barus Siberas yang mengawali Senembah ini….aku sebagai keturunan barus siberas baru tahu ini…. adi mulih kari ku medan perlu kuakap i jumpai bulang tah bapa enda Wan Chaidir Barus…. bujur ya Jepta Sitepu. Aku Pintu Besi nari – deher Periaria/Penen….

Leave a Reply