Kolom Sada Arih Sinulingga: Taneh Karo Tano Batak

2
123

SADA ARIH 5Konon ceritanya, berangkatlah seorang pemuda Batak dari kampungnya ke Taneh Karo setelah ia mendengar khabar Taneh Karo adalah suatu daerah yang subur; sehingga banyak padi, buah dan sayur serta banyak ternak. Hatinya berbisik, biarlah di Taneh Karo aku coba peruntungan daripada di kampung ini hidup miskin terus-menerus, makan pun susah pikirnya.

Di Taneh Karo pasti banyak yang bisa kukerjakan; berladang atau beternak membantu orang yang bersedia jadi tumpangan.

Sekedar bisa berteduh dan cukup makan sudah suatu yang diimpikannnya. Sampailah ia di sebuah kampung di Taneh Karo. Bertemulah ia dengan orang -orang kampung dan mencoba bertanya siapa pengulu atau simantek kuta/pendiri kampung tersebut. Setelah ia dapatkan, ia coba bertemu dengan diantar penduduk yang ditemuinya.

Memang sudah menjadi kebiasaan jika hendak selamat, yang pertama harus melapor ke rumah pengulu dan, jika sudah diijinkan tinggal, semua orang tidak akan mencurigainya bahkan mengusirnya.

Singkat cerita, setelah bertemu dan saling memperkenalkan diri dan memberitahu maksud kedatangannya, percayalah hati Pengulu Kampung bahwa pemuda ini orang baik-baik. Diterimalah ia di rumahnya untuk tinggal. Pemuda ini mengerjakan pekerjaan yang diminta oleh Pengulu; berladang, mengurus ternak adalah pekerjaannya sehari-hari.

sada arih sinulinggaIa sangat pandai mengambil hati pengulu. Selain rajin, ia juga hormat dan sering memuji-muji pengulu yang telah mengangkatnya sebagai anak. Kepandaiannya mendekatkan diri ini persis seperti gerakan tortor Batak ,semua orang disembahnya terlebih dahulu. Makna itulah yang dipraktekkannya dalam perantauannya. Pintar mengambil saudara atau orangtua adalah kelebihannya.

Setelah bertahun-tahun, karena pemuda ini berprilaku baik, rajin bekerja maka terlintaslah pikiran pengulu bersama istrinya untuk berbalas budi pemuda ini. Dilihatnya pun sudah cukup dewasa maka diusulkanlah untuk dinikahkan saja di kampung itu.

Ditanyalah pemuda ini persetujuannya. Tentu ia sangat setuju, namun ia mengutarakan ketiadaan biaya dan orangtuanya juga jauh di Tanah Batak sana.

“Gak usah kamu risaukan, yang penting kamu mau nanti kami yang mencarikan dan menanggung segala biayanya,” kata pengulu bersama istrinya.

Berembuklah kemudian pengulu dan istrinya untuk memilihkan siapa yang cocok buat anak angkatnya yang dari Batak ini. Terjadi kemufakatan untuk memberi salah satu putri kalimbubunya. Dipanggilah dan ditanyailah kesediaannya sebelum disampaikan niatnya ini kepada kalimbubunya yang juga tinggal di kampung itu. Melalui proses berlangsunglah pernikahan ini.

Diangkatlah pemuda Batak tadi menjadi anak dari pengulu dan diberi hak menggunakan merganya. Pemberian merga ini disyahkan melalui runggun dengan hadirnya sangkep nggeluh. Setelah itu dilakukanlah serangkaian pesta adat perkawinan dengan meriah.

Sejak saat itu, semakin kuatlah kedudukannya dan semakin dihargai di kampung itu karena ia telah menjadi anak pengulu dan telah pula dinikahkan dengan permennya (anak kalimbubunya). Selain itu, dia juga diberi tanah untuk berladang. Karena ia bekerja keras dari hari ke hari makin kayalah dia di kampung itu. Beberapa kali juga sudah pulang ke kampungnya dengan membawa istrinya dan tentu berbagai oleh-oleh dari Taneh Karo.

Seiring perjalanan waktu, ia pun tidak mau lagi pulang ke Tanah Batak karena ia sudah merasa nyaman di kampung itu dan perasaanya pun sebenarnya agak malas pulang ke kampungnya karena setiap pulang ke sana harus banyak yang dibawa oleh-oleh. Pasti para kerabatnya pada menuntut apa yang dibawanya. Jika kembali ke Taneh Karo, apapun gak pernah dikasih oleh-oleh dari sana, padahal ia selalu membawa oleh-oleh dari Taneh Karo ke Tano Batak.

Jangankan oleh-oleh yang dibawanya dari sana, pakaiannya bahkan sandalnya pun diminta oleh saudara-saudaranya.




Pemuda ini pun mulai tidak suka sifat saudara-saudaranya di kampung sana. Kadang jika ia berkata kekesalannya sama istrinya ia bahkan berucap, eee …. eeh, dasar Tebba (toba). Istrinya hanya bisa menyabarkan sajalah. Ketidakpulangannya sejak sekian lama ini sampai ia meninggalpun tidak dikabari lagi ke kampungnya. Anak-anaknya pun tidak pernah tahu dimana kampung bapaknya.

Seiring waktu berjalan di Tanah Batak kerabatnya menyusun Tarombo keluarga mereka. Karena ini sudah beberapa generasi maka namanya pun sudah lupaMereka menyebutnya dengan merga yang didapatnya di Tanah Karo tadi di Tarombonya. Katakanlah Merga X.

Sejak saat itu tertulislah di tarombo mereka seperti itu. Atas dasar inilah kemudian para kerabatnya di Tanah Batak mengatakan bahwa Marga X berasal dari salah satu marga Suku Batak. Atas dasar itu pula mereka mengatakan semua marga yang tergabung ke Karo-Karo merupakan keturunan dari Punguan Siraja L, sebuah punguan marga yang berhimpun beberapa marga ke dalamnya dan menyatakan ke mana-mana bahwa orang Karo berasal dari Batak keturunan Siraja Batak.

Sejak itu pula lah maka setiap marga yang satu punguan ini asal bertemu dengan orang Karo mengatakan bahwa marganya masuk ke marga X di Suku Karo tapi jika bertemu di perantauan ia berkata marga X berasal dari Batak.








2 COMMENTS

  1. Cukup banyak kejadian begini dikampung-kampung Karo yang kedatangan (menetap) dari suku lain, umumnya orang muda kuat bekerja akhirnya menjadi suku Karo dan pakai merga Karo. Ada juga dari suku Pakpak terjadi sama halnya dengan orang Batak dalam artikel SAS. Belakangan banyak juga dari suku Jawa, Pujakesuma atau dari Jawa langsung. Keterbukaan dan keramahan orang Karo dimanfaatkan pula untuk membatakkan Karo, disini mungkin perlu ditingkatkan KEWASPADAAN Karo dalam ethnic competition. Soal kewaspadaan ini sudah ada perubahan sejalan dengan gerakan pencerahan KBB.
    Dalam berbagai pernyataannya aktor Tanta Ginting terakhir mencetuskan istilah ‘keunikan dan kekayaan’ yang tersirat dalam perbedaan (antara Karo dan Batak). Jadi sekarang agaknya sudah waktunya meluaskan diskusi tentang ‘kekayaan sendiri’ itu artinya perbedaan dan kekuatan yang tersimpan didalamnya, walaupun tentang asal-usul Karo dan Batak dalam penemuan ilmiah arkeologi itu belum semua membacanya. Karo tak mungkin dari Batak, karena Karo dan juga Gayo sudah ada di Sumatra 6000-7000 tahun sedangkan Batak(Toba) baru ada sejak 500-700 tahun lalu. Bedanya lebih dari 5000 tahun.
    MUG

Leave a Reply