Kolom Sada Arih Sinulingga: Tarombo Batak Bagai Bisnis Multilevel

1
1058

SADA ARIH 5Mungkin banyak diantara kita pernah menggeluti atau ikut bisnis multilevel (MLM).
Coba perhatikan bagan-bagan Tarombo Batak, sepertinya sangat mirip cara kerjanya. Organisasinya rapi mulai dari atas sampai ke bawah. Dari atas membuka cabang beberapa orang, kemudian masing-masing orang mencari orang ke bawah seterusnya bercabang-cabang, anak cabang, ranting, anak ranting, baru yang terakhir ketemu daun.

Perhatikanlah sebuah pohon. Setiap batangnya semakin besar, makin meluas rindang pula di atasnya dan makin besar cabang-cabang, dan ranting-rantingnya. Maka yang makin besar tetap ada pada batangnya.

tarombo 2Bandingkan dengan Tarombo Siraja Batak. Jelas kelihatan Siraja Batak menjadi pusat tunggal (top). Kemudian membawahi beberapa orang selanjutnya yang bawahan membentuk cabang-cabang dan ranting-ranting marga. Entah dari bagian mana yang ia rasa cocok dimasukkannya pula beberapa marga yang ada pada suku Karo, Simalungun, Pakpak, dan Mandailing.

Atas dasar ini kemudian melahirkan istilah Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing dan Batak Pakpak. Batak Toba memiliki kedudukan yang paling tinggi, sedangkan suku-suku lain hanya sebagai cabang atau Sub Batak sehingga sering diklaim sub-sub Batak ini berasal dari Toba (Batak). Dengan masuknya cabang-cabang atau sub Batak ini, maka semuanya diakui mereka menjadi keturunan Si Raja Batak atau Karo menjadi bagian Batak.

Tapi kenyataannya, Siraja Batak adalah Orang Toba. Maka yang makin besar adalah salah satu diantaranya, yaitu Batak Toba. Ketika dengan yang lain disebutnya sama-sama sub Batak, tapi di kalangan internal mereka menyebut diri sebagai Suku bahkan sebagai Bangso Batak. Lalu kita ini, sub-sub lainnya dijadikan koloni karena Batak Toba sesungguhnya pemilik saham terbesar (mendominasi secara mutlak) dalam pohon Tarombo Batak.

taromboKarena Siraja Batak itu adalah berasal dari Toba sehingga apa pun yang diperbuat si Karo, si Pakpak, si Simalungun dan si Mandaling masuk ke Batak hasilnya. Sedangkan prestasi orang Batak yang menonjol, suku Karo tidak mendapat dapat apa-apa karena orang-orng di luar sana kenal suku Karo, yang dikenal cuma Suku Batak. Sekali lagi, Siraja Batak itu berasal dari Toba sehingga Batak adalah Toba karena Toba dan Batak objeknya satu.

Sebagai contoh, ketika ada prestasi seseorang Karo seperti Tanta J Ginting, Antoni Ginting sang pebulu tangkis dari Indonesia. Jika disebut sebagai putra Batak maka Suku Karo tidak akan mendapat apapun.  Yang harum adalah Batak. Itulah kelebihan Batak melalui Tarombo Siraja Batak yang dibuat bagannya sama persis kayak Multilevel Marketing (MLM). Dalam bisnis Multilevel, selalu digembor-gemborkan siapa yang rajin menjual produk atau mencari anggota maka ia akan menjadi besar .

Menurutku, itu hanya akal-akalan saja karena sesungguhnya yang menjadi besar adalah tetap siapa yang duluan atau siapa pemiliknya. Untuk itu, Suku Karo harus bisa keluar dari bayang-bayang Suku Batak ini. Kalau bisa berdiri sendiri mengapa harus menjadi sub suku lain yang sudah jelas merugikan kelompok Karo?

Seharusnya Suku Karo sejajar dengan suku-suku lainnya berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menyatakan Karo Bukan Batak.








1 COMMENT

  1. Wow ini dia penilaian dan analisa bagus dari SAS.
    Dan kemudian dari penyelidikan ilmiah terakhir secara DNA fosil arkeilogi nasional dan internasional ternyata Siraja Batak Sianjur Mula Mula hanyalah mitos belaka, bukan kenyataan. Karo dan Gayo sudah ada di Sumatra sejak 6000-7000 tahun lalu, sedangkan Batak/Toba baru ada sejak 500-700 tahun lalu. Jadi Tarombo bataknya jadi bubar dong he he he . . . atau juga mitos? Tidak ilmiah.

    MUG

Leave a Reply