Kolom Sada Arih Sinulingga: Desain Kolonial Kesukuan di Sumatera Timur

1
168

SADA ARIH 5Memahami sejarah masa lalu Suku Karo, kita tidak boleh lupa dengan adanya Rekonstruksi Penjajah. Rekonstruksi ini didesain sedemikian rupa agar semua kelompok bisa dipecah. Keluarga raja dipecah dengan merubah sistim demokrasi atau runggu. Caranya adalah dengan “dipatenkan” label anak tertua, anak yang di tengah, anak yang termuda. Jikalau tidak mendukung akan diganti.

Contohnya di Sibayak Lingga, sempat ada 2 raja. Pa Pelita dan Pa Mbelgah berebut jadi raja urung 12 Kuta Kabanjahe. Di Sunggal juga demikian.

Saya berkeyakinan Raja Senembah pun pasti ada keributan dalam intenal mereka untuk menjadi raja, kemudian di Kesultanan Deli. Di luar agama Islam, semua masyarakat dibatakkan.

Lucunya, antara Batak dan Karo didatangkan zending yang berbeda. Satu Lutheran satu Kalvinis, memang sengaja didesain semua. Tujuannya, agar terkotak-kotak. Saya juga telah mendapatkan bocoran cerita, jika ternyata telah masuk Kristen aliran Kharismatik di Taneh Karo pada masa penjajahan di Kampung Lepar Samura.

karo kerk
Bagian dalam (inerior) dari bangun gereja yang pertama di Karo yang pada masa itu (akhir 1800an dan awal 1900an) masih bernama Karo Kerk (Gereja Karo) sebelum dibentuk Gereja batak Karo Protestan (GBKP di Tahun 1941 atas pengaruh HKBP. Foto: ANTHONY DEPARI.

Selain itu, diarahkannya orang-orang Batak ke Taneh Karo juga merupakan taktik mereka untuk melunakkan orang Karo.

Kita harus tahu jika perlawanan rakyat Karo itu sungguh luar biasa. Dari Sunggal hingga Kutalimbaru bahu membahu dengan Nabung Surbakti (Perang Sunggal dan Tanduk Benua) kemudian ke Dataran Tinggi Karo. Jadi, wajarlah orang Karo ini memang luarbiasa pecahnya, karena memang menjadi sasaran penjajahan.

Sedangkan Batak, memang disekolahkan. Dikristenkan untuk dipersiapkan membantu kolonialisme. Mereka didesain sebagai suku terbelakang menjadi suku yang lebih atas dari yang lain. Ibarat Jepang pemimpin Asia, maka Toba (Batak) didesain sebgai pemimpin orang di luar Melayu. Menaklukkan orang Melayu, sudah mudah karena dengan melakukan konsesi dengan Sultan Deli membangun Istana Maimun, Masjid Raya pada tahun 1889 sudah boleh dikuasai semua tanah ulayat melalui hak erfach selama 75 tahun.




Di sini, Sunggal tidak menerima karena Deli melakukan kerjasama tanpa persetujuannya. Sedangkan sesungguhnya Kesultanan Deli bukan atasan Sunggal dan Urung lainnya. Makanya, dahulu mereka harus runggu untuk mengambil sebuah keputusan. Maksud saya, “perkauman” di sini sebagai Serikat. Saya tidak yakin dahulu Deli itu besar dan menguasai wilayah yang demikian luas. Tetapi campur tangan Belanda lah yang membuat Deli menjadi besar. Salah satunya dengan mendatangkan ulama Islam dari Jawa sebagaimana disampaikan oleh Juara R. Ginting di grup Jamburta Merga Silima.

Buktinya, di sekitar kampung-kampung yang bergabung di Kerajaan Gunung Merlawan tidak ada kampung yang Islam. Tapi semua memegang teguh adat Karo. Sibayak Gunung Merlawan tetap berciri Karo. Walau di wilayah ini juga terjadi tumpang tindih wilayah.

Sunggal Serbanyaman yang Islam, ini juga faktor campur tangan penjajahan. Daerah Sunggal ke atas diambil Belanda menanam tembakau saat itu dan perlawanan dari sinilah (Nabung Surbakti) akhirnya Belanda mendatangkan gereja ( NZG) ke Buluhawar.

Inikan adu domba juga. Orang Karo dari Sibolangit menerima Kristen. Makanya, jalan pun bisa dibangun dari Sembahe ke Dataran Tinggi Karo. Sebenarnya, dahulu rencanana dari daerah Pasar 10 Kutalimbaru.








1 COMMENT

  1. Sangat bagus artikel ini menambah pengetahuan dan informasi bagaimana kekuasaan kolonial memecah belah dan adu domba, terutama dalam rangka mematikan perlawanan Karo menentang kekuasaan Belanda dan penjajahannya. Di Sumatra bagian utara ini terkenal perlawanan gigih dari Aceh, Gayo, Alas dan Karo di Sumtim.
    MUG

Leave a Reply