Kolom M.U. Ginting: BEGAL

0
114

M.U. GintingSikap tegas Pangdam Siliwangi dalam menghadapi geng motor Bandung perlu dan patut diapresiasi. Terlihat langsung hasilnya, karena itu bagus, terlihat buktinya.

“Kaderisasinya adalah keberanian untuk bertindak melawan hukum. Itu yang sebenarnya dialami hampir oleh semua geng motor ini,” pungkas Sosiolog dari Universitas Padjajaran, Budi Rajab (merdeka.com).

Cara kaderisasi seperti ini terlihat juga pada geng motor di Eropah, organisasinya yang terutama diarahkan ke peredaran dan perdagangan narkoba. Anggota baru paling diinginkan ialah yang berani bikin pembunuhan lebih dulu atau kejahatan lainnya yang setara.

Syaratnya jelas. Pertama, supaya bisa diterima di organisasi ialah bikin tindakan geng motor 2melawan hukum. Kan sudah jelas organisasi ini melawan hukum dan meresahkan masyarakat. Tak perlu ada toleransi bagi begal-begal yang terorganisasi ini. Mungkin di Bandung belum sampai ke narkoba, tetapi yang namanya organisasi yang syarat pertamanya pelanggaran hukum, pasti juga akan mengarah ke sana, atau ke pengorganisasian kejahatan lainnya. Pembentukan organisasi-organisasi begini jelas adalah untuk adu domba bikin perpecahan dalam masyarakat dan menciptakan suasana ketakutan di publik penduduk kota.

Sikap tegas Pangdam sangat perlu untuk tidak memelihara rasa cemas dan takut dalam masyarakat. Betul Pak! Rakyat perlu punya rasa percaya diri tanpa ketakutan dari pihak manapun, tanpa adanya ancaman yang selalu membayangi kehidupan rakyat biasa. Bedanya dengan demokrasi liberal Barat ialah, sangat tak mungkin seorang Pangdam bikin sikap tegas seperti di Indonesia. Itulah juga perbedaan penting demokrasi kita dengan demokrasi liberal Barat. Indonesia mengembangkan demokrasinya dan sifat musyawarahnya. Kita pakai keterbukaan dan partisipasi publik dalam semua soal penting masyarakat.




Soal geng motor adalah soal penting bagi masyarakat, masyarakat boleh ikut partisipasi dalam soal geng motor ini, karena yang diresahkan juga adalah masyarakat. Bisa juga rakyat beramai-ramai mengorganisasi diri ikut mencegah atau mengusir mereka dari daerah kediaman mereka. Rakyat berhak penuh dan sangat perlu sikap tegas dari aparat yang memihak rakyat.

Di Eropah, organisasi geng motor ini bisa hidup dan aman, karena sikap liberal dan atau neoliberalnya sudah masuk juga memanfaatkan penghancuran dengan narkoba. Kalau di Eropah organisasi ini bisa ’aman dan tenteram’ tentu tak perlu begitu di Indonesia. Negeri berkembang seperti Indonesia masih tetap harus mewaspadai perongrongan 3 serangkai ini sebagai musuh utama negara dan kekuasaan RI, yaitu narkoba, terorisme, korupsi. 

Narkoba sudah jadi darurat narkoba, terorisme sudah jelas adalah pemasaran senjata dari ’terror-based industry’ atau ’war­-based economy’, bikin fear mongering atau bikin fear factor di kalangan masyarakat banyak, supaya jadi takut dan gampang dikendalikan. Pangdam Siliwangi kelihatannya sudah memahami akibat fear mongering ini seperti menakut-nakuti dengan momok teror. Dan dalam soal korupsi bermaksud memiskinkan rakyat penduduk negeri ini, lantas menawarkan pinjaman bikin utang untuk mencekik negara (kekuasaan)








Leave a Reply