Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Resmi Menang di Sumber Waras, BPK Terpojok dan Cinta Maut Golkar

1
236

Asaaro LahaguAda dua peristiwa penting yang terjadi pada pertengahan bulan Juni 2016 ini. Kedua peristiwa itu mempunyai efek bagi kontestasi dan konstelasi politik di ibu kota. Pertama, pernyataan KPK yang mengatakan bahwa Ahok tidak terbukti korupsi dalam pembelian lahan di Sumber Waras. Kedua, pernyataan dukungan resmi Golkar kepada Ahok untuk maju pada Pilkada 2017 mendatang.

Pernyataan KPK bahwa Ahok clear di Sumber Waras, jelas menjadi pukulan telak bagi lawan-lawan Ahok. Skenario awal para petinggi BPK yang memang berlatar belakang politikus untuk menjegal Ahok dalam Pilkada DKI 2017 mendatang, tak berjalan mulus dan gagal total. Bahkan, karena pembelian lahan Sumber Waras yang sebetulnya tidak bermasalah namun justru terus-menerus digoreng, ditumis, dan kadang dipanggang oleh para lawan Ahok, termasuk BPK yang sarat tujuan politis, akhirnya berakhir dengan gosong. Dengan kata lain, hasil audit yang dikeluarkan BPK itu justru akhirnya berbalik menyerang BPK itu sendiri, membuka boroknya dan terpaksa diam ketika dicap ngaco oleh Ahok.

Tekanan bertubi-tubi para anggota DPRD DKI Jakarta yang didukung sebagian besar Komisi III DPR Senayan kepada KPK agar Ahok dijadikan tersangka, tidak membuahkan hasil. Harapan lawan Ahok untuk menyelamatkan muka BPK sekaligus menjegal Ahok dengan penetapan tersangka oleh KPK, justru berakhir dengan pedih-perih.  Pun tekanan berbagai LSM, aktivis pongah semacam Ratna Sarumpaet dan Cagub lucu-lucuan Ahmad Dhani, bukan saja tidak bergigi tetapi juga mengundang cemoohan berbagai pihak.

Pernyataan Ketua KPK, Agus Rahardjo, bahwa KPK tidak menemukan indikasi korupsi di Sumber Waras dalam rapat dengan DPR (Selasa 14 Juni 2016), memang ahok 52sesuai dengan fakta hukum. Hasil audit dan investigasi BPK yang telah disampaikan kepada KPK, dengan gamblang ditemukan banyak kejanggalan. Akibatnya, kesimpulan BPK yang mengatakan ada kerugian negara dalam kasus pembelian Sumber Waras, dapat dengan mudah dipatahkan dengan fakta-fakta di lapangan. Fakta-fakta di lapangan yang berbeda dengan temuan BPK inilah yang kemudian membuat KPK sulit menetapkan Ahok tersangka.

Pasca kemenangan Ahok di Sumber Waras, jelas kepercayaan publik kepada BPK jatuh ke titik nadir. Semua hasil-hasil audit BPK pada masa lalu pun mendapat pembenaran untuk diragukan. Dugaan publik bahwa selama ini BPK selalu bermain politik dalam memberi penilaian keuangan setiap pemerintah daerah, akhirnya terbukti.

Hasil-hasil audit yang telah dilakukan oleh BPK pada masa lalu dan juga pada masa depan (jika BPK gagal mereformasi diri), tidak lagi begitu diacuhkan oleh pemerintah daerah apalagi publik karena sarat dengan nuansa politik. Dan itu memang hukuman yang layak diterima institusi sebesar BPK. Apa yang telah ditanam maka akan juga dipanen. Itu adalah hukum alam. Ke depan, BPK sudah harus mengevalusi diri dan tidak tunduk lagi kepada intervensi partai politik.

Jika BPK terpojok, dan lawan-lawan Ahok gigit jari dan bahkan ada yang tidak waras lagi, tidak demikian halnya dengan Ahok. Pasca kemenangan di Sumber Waras itu, maka jelas posisi Ahok semakin kuat. Namanya yang sebelumnya sedikit diperguncingkan dan menimbulkan keraguan di benak banyak orang, kini berbalik arah. Publik Jakarta dan lebih-lebih para pendukung Ahok yang sebelumnya memang yakin bahwa Ahok memang tidak bersalah di Sumber Waras, kini semakin percaya dan mendukung Ahok.

Ahok jelas, masih yang terbaik di ibu kota. Karakter Ahok yang sangat tegas, kasar dan berteriang maling, brengsek kepada para maling, preman, pedagang liar, pemukiman liar, koruptor, dan para pelanggar aturan itu justru disukai publik. Ahok jelas tidak kasar dan galak kepada mereka yang baik dan taat aturan. Ahok justru hanya kasar dan galak kepada mereka yang tidak beradab dan munafik. Kepada mereka yang korup atau mencuri uang negara, maka kata yang paling pas adalah maling, brengsek dan kurang ajar.

Karakter tegas tanpa takut Ahok yang disertai dengan hasil kinerja yang bagus inilah yang membuat publik semakin simpati kepada Ahok. Publik tak henti-hentinya mengapresiasi hasil kerja Ahok dalam membenahi carut-marut ibu kota. Hasil-hasil survei pun membuktikan bahwa elektabilitas Ahok masih tetap yang tertinggi. Jumlah KTP yang sebentar lagi mencapai angka satu juta, adalah bukti tak terbantahkan. Sebelumnya tak ada politikus yang mampu mengumpulkan KTP sebanyak itu dalam waktu tiga bulan.

Tentu saja adanya dukungan masif publik kepada Ahok, membuat berbagai partai politik takut, kagum dan termangu. Jelas ketika Ahok menyatakan maju secara ahok 53independen, maka sebagian besar partai politik kelabakan dan kebakaran jenggot. Ahok pun dijadikan public enemy partai politik dan melakukan segala cara untuk menjegalnya. Kasus Sumber Waras, reklamasi, hak diskresi, hak angket, hak menyatakan pendapat, hingga Revisi UU Pilkada adalah bukti-bukti penjegalan Ahok. Namun, ketika Ahok masih kuat bertarung, beberapa partai politik pun berbalik arah.

Ada tiga karakter yang terlihat dari partai politik berhadapan dengan Ahok.

Pertama, mereka yang melihat dirinya ibarat gadis cantik yang mencintai Ahok dan bersikap pasif untuk dilamar. Namun ketika Ahok tidak kunjung datang melamar, partai-partai itu akhirnya berubah menjadi pembenci Ahok. Ya, benci tapi cinta. Cinta tetapi benci. Sikap seperti ini bisa dilihat dalam diri partai Gerinda, PKS, PPP, PAN, PKB dan Demokrat.

Ke dua, partai melihat dirinya ibarat gadis yang sangat cantik dan memang faktanya sangat cantik namun jual mahal untuk menyatakan cintanya kepada Ahok. Partai sejenis ini dari hari ke hari menunggu lamaran Ahok, sambil terus menggoda dan memakai perantara agar Ahok datang melamar. Ketika Ahok tidak kunjung datang, partai inipun mengancam akan jatuh hati ke lain lubuk dan akan meninggalkan Ahok. Celakanya, jatuh hati kepada lubuk lain itu tidak jelas. Sikap seperti ini bisa dilihat dalam diri PDIP yang terus menjaga gengsi untuk melamar sendiri Ahok.

Ke tiga, partai yang melihat dirinya gadis cantik dan memang juga faktanya cantik, agresif, berani, tanpa malu datang sendiri melamar Ahok. Mereka pun datang mengungkapkan cinta mautnya kepada Ahok yang disambut Ahok dengan tangan terbuka. Tujuannya jelas untuk meraih masa depan yang lebih cerah, memulihkan nama baik dan menebeng pada popularitas Ahok. Partai-partai seperti ini bisa dilihat dalam diri Nasdem, Hanura dan terakhir Golkar yang sudah menyatakan cinta mautnya kepada Ahok.




Cinta maut ketiga partai ini sangat kental dalam diri Golkar misalnya. Ketika Golkar terpuruk di era Aburizal Bakri karena tersandung kasus lumpur Lapindo, dililit kasus Papa Minta Saham dengan aktor, Setya Novanto, Ketua DPR yang juga dari Golkar, maka Golkar butuh pemulihan. Sikap realistis para elit Golkar semacam Yorris, Agung Laksono dan bahkan Ketua Golkar sendiri Setya Novanto, untuk mendukung Ahok adalah buktinya. Golkar akhirnya secara resmi telah menyatakan dukungan kepada Ahok. Dengan mendukung Ahok, maka Golkar dapat meraih simpati dari satu juta KTP yang dikumpulkan Teman Ahok. Inilah awal kampanye Golkar memulihkan nama baik.

Tentu dengan adanya dukungan dari Nasdem, Hanura dan Golkar dan raihan KTP sejuta oleh Teman Ahok, maka Ahok mempunyai tiga pilihan yang memungkinkan dia maju dalam Pilgub 2017 mendatang. Pertama, maju secara independen dengan bertarung pada verfikasi KPU dan didukung oleh ketiga partai di atas. Kedua, maju lewat partai Nasdem, Hanura dan Golkar yang mempunyai 24 kursi di DPRD DKI dan berkolaborasi dengan Teman Ahok. Ketiga, maju lewat PDIP berpasangan dengan Djarot lewat win-win solution dengan Teman Ahok di mana kuncinya pada Heru dan dukungan ‘sayang’ Megawati serta saran yang bersifat strategis dari Jokowi.

Sekarang kendali ada di tangan Ahok. Setiap keputusan yang dipilihnya pasti ada konsekuensinya termasuk cinta maut Golkar yang bisa berubah menjadi jebakan Batman. Bagi publik Jakarta dan para pendukung Ahok, yang penting dipahami adalah bahwa tidak penting apakah Ahok maju dari jalur independen atau dari jalur parpol. Yang paling penting adalah Ahok akan berhasil menjadi gubernur untuk periode kedua dan tetap independen ketika dia mengeluarkan kebijakan-kebijakannya. Artinya Ahok bisa saja maju dari jalur Parpol namun tetap independen menjalankan kebijakannya. Atau Ahok maju dari jalur independen, namun tetap juga independen dalam mengeluarkan kebijakan.

Selanjutnya, hal lain cukup paling penting adalah Ahok harus tetap menjaga namanya sebagai seorang petarung, tetap membuat pertarungan menarik, tak mudah menyerah dan didikte, terus membuat Parpol termangu, tetap cerdik seperti ular dan tulus seperti matahari. Bahwa nantinya Ahok akan zigzag di antara Teman Ahok dan Parpol, termasuk berdamai dengan parpol, hal itu harus dapat dipahami dalam konteks strategi meraih kemenangan gemilang. Dalam dunia politik, kadang strategi jalan memutar jauh lebih jitu ketimbang jalan berhadap-hadapan.








1 COMMENT

  1. ‘cinta maut Golkar’ . . . mendalam dan luas sekali pengrtian ini. Memang jelas bisa dilihat ‘belokan tajam’ Golkar ini sangat dibutuhkan demi kepentingan intern partainya. Menarik juga dinantikan ‘belokan tajam’ PDIP bagaimana bentuknya. Dalam PDIP ada aliran 1. ‘Mega sayang Ahok’ dan yang de 2. ‘Jokowi tak menginginkan Ahok independen’. Belokan tajam PDIP tergantung siapa yang menang dalam dua pernyataan pikiran diatas. Dan bagi PDIP memang sudah sempit waktunya.

    MUG

Leave a Reply