Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Unjuk Gigi, Pilih Tito Karnavian Jadi Calon Kapolri, Internal Polri Berguncang

0
192

Asaaro LahaguPenunjukkan Tito Karnavian menjadi calon tunggal Kapolri mengguncang internal Polri. Sebelumnya Dewan Kebijakan dan Kepangkatan Tinggi (Wajankti) Kepolisian RI tak memasukkan namanya dalam daftar usulan calon Kapolri. Itu artinya dalam internal Polri, Tito bukanlah sosok utama yang berhak menjadi orang nomor satu di Kepolisian. Alasannya  Tito masih dianggap junior dan belum saatnya memimpin institusi sebesar Polri. Ini jelas ada pertarungan diam-diam di internal Polri. Senioritas dan jenjang karir masih dipuja dan bukan kinerja.

Sebelumnya, media, partai, anggota DPR terus menjagokan Budi Gunawan dan Budi Waseso sebagai calon Kapolri. Tekanan-tekanan kepada Jokowi agar memilih salah satu duo Budi itu terus menerus bergema. PDIP jelas sangat berkepentingan menjadikan Budi Gunawan menjadi Kapolri. Jika Jokowi enggan memilih Budi Gunawan, maka skenario keduanya adalah PDIP menginginkan Jokowi memilih Budi Waseso yang dikenal sangat dekat dengan Budi Gunawan. Jika dua Budi menjabat sebagai Trunojo 1 dan 2, panggilan untuk Kapolri dan Wakapolri, maka dapat dipastikan kepentingan PDIP tetap terjaga ke depannya.

Di internal Polri, para pendukung Budi Gunawan plus Budi Waseso terus berharap agar salah satu dari duo Budi itu menjadi Kapolri. Maka ketika Jokowi berencana memperpanjang jabatan Badrodin Haiti sebagai Kapolri, penolakan di internal Polri menguat. Pun para anggota DPR terutama dari PDIP terus membentuk opini bahwa perpanjangan jabatan Badrodin itu tidak sesui dengan roh internal Polri. Tujuannya tidak lain adalah agar Duo Budi terus memegang pucuk pimpinan Polri.

tito 2
Sumber: The Jakarta Post

Akan tetapi Presiden Jokowi bukanlah anak bawang kemarin sore. Berkat konsolidasi strategisnya yang dilakukan sejak Juni 2015, kini Jokowi benar-benar the real president. Kekuatan yang ada di belakang Jokowi, jauh lebih hebat dari kekuatan partai manapun di republik ini. TNI jelas ada di belakang Jokowi. BIN, menjadi kekuatan senyap yang siap melumat musuh-musuh Presiden Jokowi. Golkar, PPP, PKB, PAN, Nasdem, Hanura siap mendukung apapun pilihan Presiden Jokowi. Kekuatan lima partai ini sudah cukup melawan keinginan PDIP. Sementara itu Gerinda, PKS dan Demokrat hanya pengikut maunya Golkar.

Bagi Jokowi, Tito Karnavian adalah masa depan Polri. Segudang prestasi dan kehebatan Tito adalah buktinya. Bintang terang yang telah dilihat Jokowi dalam diri Tito Karnavian, semakin menarik perhatian Jokowi. Pengangkatan Tito menjadi Kapolda Metro Jaya sejak 12 Juni 2015 yang sebetulnya tidak diinginkan sebagian elit Polri, namun lewat dukungan Jokowi, Tito pun menjadi Kapolda Metro Jaya. Selanjutnya demi menata jalan menuju kursi Kapolri, Jokowi pun mengangkat Tito menjadi Kepala Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Itulah jalan mulus menjadi calon Kapolri.

Skenario Jokowi pun terus berjalan. Walaupun Wajankti tidak memasukkan nama Tito dalam daftar usulan calon Kapolri, tetapi lewat Kompolnas, nama Tito pun tercantum. Hari ini [Rabu 15/6], Jokowi benar-benar unjuk gigi. Jokowi menggunakan hak prerogatifnya dan secara  resmi mengajukan Tito Karnavian menjadi calon tunggal Kapolri kepada DPR. Usulan itu telah dibenarkan oleh Ketua DPR, Ade Komaruddin, dan juru bicara kepresidenan, Johan Budi.




Praktis, ketika nama Tito tiba-tiba muncul, internal Polri langsung bergoncang silent (diam-diam). Bergoncang tetapi tidak gaduh di muka publik. Ada pergolakan di bawah laut tetapi tidak tampak di permukaan. Jelas penunjukkan Tito membuat kesempatan duo Budi menjadi Kapolri semakin menipis. Namun tidak ada pilihan lain bagi para elit Polri selain mendukung keputusan Jokowi. Kekuatan di belakang Jokowi berbicara.

Maka tak heran Kapolri Badrodin Haiti, Budi Waseso secara cepat mengeluarkan pernyataan di depan publik bawa mereka mendukung Tito Karnavian menjadi Kapolri. Pun sebagian besar anggota DPR di Senayan sudah mulai memuji Tito sebagai sosok Top yang pas di Trunojoyo 1. Bisa dipastikan Tito akan segera dilantik menjadi Kapolri dengan dukungan penuh DPR.

Lalu mengapa Tito Karnavian dipilih Jokowi menjadi calon tunggal Kapolri dan mengabaikan duo Budi? Pertama, Jokowi menginginkan reformasi cepat di Kepolisian. Sosok tegas, berani, cerdas ada dalam diri Tito. Jika Jokowi menginginkan sosok para polisi baru di eranya, mendukung pemberantasan korupsi, terorisme, kriminal dan memberantas mafia peradilan di Indonesia, maka dibutuhkan sosok Kapolri yang bersih, tegas. Dan itu ada dalam diri Tito Karnavian.

Ke dua, Jokowi tidak memilih duo Budi agar segala kebijakannya ke depan tidak disandera PDIP lewat Kapolri. Publik paham bahwa sebelumnya nama Budi Gunawan menjadi sosok polemik di tengah masyarakat ketika dia ditetapkan tersangka oleh KPK. Sementara itu nama Budi Waseso tidak kalah gaduhnya ketika kerap melakukan gebrakan yakni menggeledah berbagai institusi untuk mencari para koruptor. Sekarang, posisi Budi Waseso justru sangat cocok sebagai Kepala Badan Penanggulan Narkoba (BNN). Dengan memilih Tito Karnavian, bisa dipastikan segala kebijakan Jokowi mendapat dukungan penuh dari institusi Polri.




Ke tiga, keinginan Jokowi yang tetap mendukung Ahok untuk tetap menjadi dalam Pilkada 2017 mendatang. Jokowi ingin agar program kerja Ahok berkesinambungan di DKI Jakarta yang sekaligus ikon keberhasilan pemerintahan Jokowi ke depan. Sebelumnya hubungan antara Ahok dan Tito semasa menjadi Kapolda Jaya, sangat bersinergi untuk memberantas para mafia, koruptor, terorisme dan ormas-ormas anti pancasilais. Jelas, jika Tito memegang pucuk pimpinan Polri, maka penyusupan di internal Polri untuk menjegal Ahok dapat dikendalikan. Pun keberingasan ormas-ormas rasisme dan intoleran dapat dipadamkan lewat ketegasan Tito.

Ke empat, Jokowi sangat membutuhkan bantuan Polri dalam menyukseskan program infrastrukturnya di berbagai daerah. Jokowi ingin agar setiap Kapolda, Kapolres dapat dipilih oleh Kapolri dengan tepat untuk menyuksesakan pembangunan insfrastruktur masifnya. Selain itu, untuk mensukseskan program Tax Amnesty (pengampunan pajak), yang undang-undangnya akan segera disahkan DPR, maka Jokowi membutuhkan dukungan penuh Polri untuk bersinergi dengan para penegak hukum lain tanpa menonjolkan ego institusinya masing-masing.

Jadi, penunjukkan Tito Karnavian menjadi calon tunggal Kapolri adalah unjuk gigi kekuatan Jokowi sebagai Presiden. Penunjukkan itu jelas mengguncang silent internal Polri, namun karena mereka tidak kuasa menolak, akhirnya semuanya akan mendukung Tito Karnavian menjadi Kapolri. Pun pasca Golkar merapat kepada Jokowi, praktis kekuatan di DPR termasuk PDIP tidak lagi bisa mendikte Jokowi. Selamat kepada Tito Karnavian menjadi calon tunggal Kapolri.




Leave a Reply