Kolom Darwono Tuan Guru: Membaca Al Quran dengan Irama Jawa, Why Not?

1
136

Darwono Tuan GuruRamadhan terus bergerak, dinamikanya telah membawa kita pada satu penggal waktu yang disebut sebagai Nuzulul Quran, hari turunnya Al Quran, yang setiap tahun kita peringati pada tanggal 17 Ramadhan. Menyambut peringatan Nuzulul Quran, tentu menjadi kontekstual ketika ta’lim ba’da shubuh yang diasuh oleh Doktor Ahmad Zahroni MA al Hafidz, membahas tentang cara membaca Al Quran. Berpangkal dari pertanyaan bagaimana Nabi dan Shahabat membaca Al Quran (dalam makna lagunya/ iramanya) ? Apakah seperti irama/lagu bacaan Al Quran yang selama ini kita dengarkan, sebut saja irama Arab? Ataukah dengan irama lain? Lantas, bagaimana jika kita membaca dengan irama Jawa misalnya, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu?

Quran 2Menurut doktor yang juga hafidz itu, tidak ada contoh bacaan (lisan) seperti kaset misalnya yang mengandung rekaman cara Nabi dan para sahabat membaca Al Quran. Sementara itu, sejauh penelusurannya bahwa hadits yang menyatakan kurang lebih “al quran dengan bahasa Arab dan bacalah dengan irama Arab” merupakan hadits dhaif, yang tentu saja tidak dapat digunakan untuk melarang orang yang membaca Al Quran dengan irama/ lagu lain. Yang terpenting tentu saja prinsip-prnsip membaca Al Quran seperti tartil, mahroj, maad, dan tajwidnya tepat.

Beberapa arahan tentang membaca Al Quran dapat disampaikan sebagai berikut :

وَرَتِّلِ الْقُرْﺁنَ تَرْتِيْلاً

“Bacalah Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya/ tartil.” (QS Al-Muzammil 4)

من لم يتغنّ بالقرآن فليس منّا

“Siapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, dia bukan dari golongan kita” (HR Abu Daud)

لقد اوتيت مزمارا من مزامير آل داود

Waktu Nabi saw mendengar bacaan sahabatnya, Abu Musa al-Asy’ary, beliau menyatakan kesannya; “Suaramu itu laksana seruling kaum Nabi Daud” (HR Muttafaqun ‘alaih)

سمعت النبيّ قرأ فى العشاء بالتّين والزيتون فما سمعت احدًا احسن صوتًا منه

“Saya mendengar Nabi SAW waktu shalat ‘Isya membaca surat “Wattiini wazzaituun” saya belum pernah mendengar orang yang suaranya semerdu itu.” (HR Muttafaqun ‘alaih)

Paling tidak ada dua hal yang perlu dilakukan dalam membaca Al Quran, yang pertama adalah tartil, dan yang ke dua adalah melagukan (seindah mungkin).

Terkait dengan hal itu, beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam membaca Al-Qur’an yaitu :

1. Mengucapkan huruf dengan benar, baik huruf hidup/ berharokat

2. Membaca syakal dengan benar.

3. Bacaan Panjang dan Pendek dengan benar.

4. Bacaan Idzhaar, Idghoom, Iqlaab dan Ikhfaa’ dengan benar.

5. Cara Waqof dan Ibtida’ yang tepat.

Sedang terkait lagu, prinsipnya adalah melagukan semerdu mungkin agar memperkuat kesan, sehingga kita bisa memahami mengapa ada yang tergerak Quran 3hatinya, menangis dan bercucuran air mata, sedih, gembira, dan terancam (basyiron wa nadziron), hingga benar-benar terobati ketika Al Quran dibacakan. Mungkin dengan irama yang seperti suara seruling kaum Nabi Dawud. Bagaimana suara seruling Kaum Nabi Daud ? Apakah seperti irama patron lagu-lagu Al Quran selama ini seperti Bayati, Jawab, Jawabul Jawab, Shaba atau Nahwan ? Ataukah seperti Irama Megatruh (sakaratul maut), Dandang Gula (kebahagiaan) ataukah Pocung (dikafani) ? kita tidak tahu persis karena memang tidak ada rekaman suaranya.

Oleh karena itu, upaya untuk mendekatkan “Al Quran” dengan telinga umat, misalnya dengan irama Jawa, tentu sebuah langkah yang perlu diapresiasi. Yang terpenting bacaan itu kedengaran indah (merdu) dan benar.

Meminjam istilah keindahan lagu, maka terdapat tiga hal yang harus diperhatikan yakni harmoni, Harmoni juga dapat dikatakan paduan nada, yaitu paduan bunyi . JIka kita dengarkan patron-patron qiroah yang ada, maka terasa harmonis dengan tinggi rendahnya nada. Misalnya, bayati yang cenderung datar, tidak terlalu meliuk-liuk.

Yang ke dua adalah stuktur lagu. Bentuk/ struktur lagu adalah hubungan antara unsur-unsur dalam sebuah lagu yang tersusun secara apik sehingga membuat sebuah lagu menjadi lebih bermakna. Unsur-unsur dalam sebuah lagu yang dimaksud dalam pengertian bentuk/ struktur lagu di atas adalah not, motif, frase dan kalimat musik Karena bacaan Al Quran terikat dengan berbagai prinsip di atas, maka struktur lagu harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip itu.

Yang ke tiga yaitu ekspresi, bacaan al Quran yang sampai dapat membuat mustaminya, yang mendengarkannya sedih, bayiron, nadziron, bahkan sampai bercucuran air mata itulah ekspresi. Tentu saja ekpresi yang dibangun oleh Qori dalam membaca Al Quran bertujuan untuk menambah iman bagi qori sendiri maupun mustami’nya, yang dalam Al Quran dikatakan Zaadathum Iimaanaa !

Membaca Al Quran dengan Irama lagu Jawa (Mocopat), tentu sebuah terobosan yang memang karena hal baru tentu tidak semua orang dapat menerimanya. Ada beberapa catatan ketika kita ingin membaca Al Quran dengan lagu Mocopat yakni adanya istilah Guru gatra, Guru lagu dan Guru Wilangan dalam lagu mocopat yang sudah ada patronnya juga prinsip penerapannya seperti :

Maskumambang (terkait dengan dalam kandungan- kehamilan), Mijil (lahir- wiladah), Sinom (muda- Fatta), Kinanti (tuntunan- hudan), Asmarandana (asmara- mahabbah), Gambuh (kecocokan- kuffu), Dandanggula (bahagia-basyiron), Durma (kebaikan- ihsan), Pangkur (menjauhi-nahi munkar), Megatruh (memisahnya ruh – Sakaratul maut), Pocung (dikafani-takziah). Penerapan Ayat Al Quran dengan pesan-pesan terkait sesuai dengan isi kandungan al Qurannya.




Meskipun konten (pesan) dari ayat Al quran itu tepat dengan jenis-jenis tembang Macopat tadi, namun belum tentu pas dengan apa yang deisebut dengan Guru Gatra, Guru Lagu dan Guru Wilangannya yang dapat dideskripsikan sebagai :

1. Guru gatra, yaiku cacahe larik/gatra saben pada (bait).

2. Guru wilangan, yaiku cacahe wanda (suku kata) saben gatra.

3. Guru lagu, yaiku tibane swara wanda pungkasan ing saben gatra.

Yaitu, jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata tiap baris dan jatuhnya nada ahir tiap baris. Mencocokan ketiga unsur ini dalam berbagai aturan prinsip-prinsip membaca Al Quran, tentu sangat tidak mudah, dan memungkinkan kita terpeleset pada kesalahan bacaan ahibat harus menngikuti unsur-unsur lagu Mocopat tersebut, dan hal inilah yang bisa menjadikan titik temak bagi mereka yang kurang sepakat.

Jalan keluarnya adalah, jika kita ingin membaca Al Quran dengan irama Jawa, kita tidak perlu menggunakan patron lagu-lagu yang sudah baku, namun menyusun komposisi yang harmonis, indah dan ekspresif, dalam irama Jawa sesuai kaidah-kaidah bacaan Al Quran yang benar. Rasanya kita memang sangat memerlukan “seniman-seniman” religius, yang bisa membumikan Al Qur’an dalam keindahan negeri taman surga yang bernama Indonesia.

Penulispun sangat tertarik untuk mempelajarinya.








1 COMMENT

  1. Kalau ‘menjawakan’ islam berarti menyesuaikan islam dengan way of tihinking dan tradisi Jawa. Pastilah banyak yang senang terutama dari suku Jawa. Pastilah juga banyak menentang pemikiran ini seperti halnya menentang ‘islam nusantara dengan alasan bahwa islam itu universal bukan kedarahan. Mana yang betul ya?

    MUG

Leave a Reply