Kolom Joni H. Tarigan: KUNING KARO DAN BRI-sat

0
140

joni hendra tariganHampir 1 tahun yang lalu, yakni July 2015 saya membagikan pengalaman bersama anak kami Rafael yang mampu mengamati bulan dan bintang di luar rumah. Akan tetapi, anak kami ini tidak mengalami gangguan kesehatannya. Kami meyakini kuning telah memberi manfaat yang sangat baik untuk anak ini yang, sebentar lagi akan memasuki usia 3 tahun pada July 2016 ini. Sampai saat ini, dia begitu sehat dan persediaan kuning, yang menurut kami mampu menambah daya tahan tubuh terutama terhadap cuaca, selalu tersedia. Kami juga sampai saat ini masih meneruskan kebiasan mengamati langit saat malam tiba di luar rumah.

Masih berkaitan dengan benda-benda di langit, saya secara pribadi sangat gembira dengan apa yang terjadi dengan BRI pada 18 Juni 2016-Perancis, atau 19 Juni 2016-Indonesia. Dalam hal kegembiraan ini saya merasa sama dengan Prof. Rheinald Kasali.

bri-satBukan mengartikan saya selevel dengan beliau, yang juga sangat menantikan meluncurnya satelit perbankan milik BRI, dimana nama satelit tersebut adalah BRIsat. Kegembiraan ini juga memiliki alasan yang hampir sama yakni BRI melakukan terobosan yang sangat jauh untuk meningkatkan layanan perbankannya. CEO Arianespace, yang meluncurkan BRIsat dari Kurou-Guayan Perancis, meyakini bahwa apa yang dilukan BRI dengan satelitnya akan menuntuk evolusi perbankan dunia.  Sekali lagi, jujur saya sangat bahagia dengan telah diluncurkannya BRIsat, dan semoga satelit itu akan sampai ke titik orbit dan segera beroperasi.

Kebahagiaan saya lampiaskan dengan mengambil foto detik-detik peluncuran BRIsat dengan ponsel genggam saya. Saya merasa ikut menyaksikan sejarah bagi perbankan Indonesia dan sejara bagi bangsa Indonesia tentunya. Ketika foto sudah saya ambil maka foto itu tersimpan di memori ponsel dan bisa dibuka kapan saja. Krena saya tidak melarang anak kami Rafael mengotak atik ponsel saya, maka anak ini menemukan foto detik-detik peluncuran BRIsat.

“Pa, ini rudal apa?” tanya Rafael ketika melihat fot tersebut.

Saya menjawabnya dengan mengatakan itu bukan rudal, tapi roket untuk membawa satelit.

“Oh, Roket. Satelit itu apa?” tanyanya lagi.

Saya pun menatap ibunya, sebagai tanda minta pertolongan agar bisa menjelaskan tentang satelit. Kami ibu bapanya mengalami kesulitan untuk bisa membuat anak kami mengerti satelit itu apa. Ahirnya saya mencoba menjelaskan satelit itu seperti kami menonton TV, dimana tayangan TV itu berasal dari tempat jauh. Film TV akan dikirim melalui satelit dari jauh, dan pemancar (sebenarnya penerima) menangkap kiriman dari satelit, sehingga kemudian kita bisa menonton film (semua tayangan TV).

Saya melihat ketidakpuasan anak kami atas usaha saya menjelaskanya, sehingga kemudian saya pun mengajak Rafael melihat receiver (penerima) TV-Cable kami, yang tetap saja saya meyakini anak ini belum puas.

kuning 2
Penjual bahan-bahan ramuan obat tradisional Karo di Pekan Pancurbatu (Deliserdang), tidak jauh dari Kota Medan.

Saya pun ahirnya mendownload publikasi detik-detik peluncuran BRIsat yang diunggah oleh Airanespace di Youtube. Kemarin malam, setelah selesai bermain bola bersama, saya menawarkan video peluncuran satelit tersebut. Benar saja, Rafael mengamatinya dengan sangat serius, bahkan tontonan favoritnya di Kidnesia tidak mampu mengalihkan perhatiannya. Dalam video tersebut terlihat jelas bagaimana roket terlepas dari tiang penyangga, kemudian pendorong pertama mulai menyala, dan kemudian roket melesat ke langit dan meninggalkan bumi. Setelah beberapa waktu visualisasi peluncuran menunjukkan dimana posisi roet relative terhadap bumi. Tiba-tiba selongsong pendorong roket terlepas dan pendorong berikutnya yang lebih kecil menyala dan satelit terlihat sangat jelas. Di semua proses itu Rafel bertanya semua apa yang ia amati dan saya jawab dengan bahasa yang ia mengerti.

Setelah selesai menonton video tersebut, Rafael mengambil balok-balok mainannya dan menyusunnya seperti sususan seri pendorong roket dan satelit. Kepada ibunya ia menjelaskan bagaimana roket itu punya bahan bakar dan mendorong roket. Roket itu memiliki beberapa tangki, dan setiap bahan bakarnya habis tangkinya akan lepas. Begitulah Rafael menjelaskan kembali ke ibunya bagaimana satelit itu didorong oleh roket.




Kembali ke kuning (obat pupur dari Karo), saya sangat bersyukur atas warisan leluhur ini. Obat tradisional yang begitu berguna bagi kesehatan, terutama dari gangguan cuaca. Seandainya di 2015 kami mengamati langit dan Rafael tidak diolesi kuning, mungkin ia sakit dan kami tidak akan mengulangi lagi pengamatan di malam hari. Beruntungnya kami punya persediaan kuning, sehingga Rafael tidak sakit dan kami tetap bisa menikmati pemandangan langit di malam hari. Dengan kuning ini Rafael pun sudah mampu berimajinasi bagaimana sebuah roket terbang ke luar angkasa.

Bagi kebanyakan orang, mungkin kuning ini sama sekali tidak berkaitan dengan peluncuran roket. Akan  tetapi, bagi saya pribadi, kuning telah membantu anak saya mengamati langit dan berimajinasi tentang roket dan luar angkasa. Sayapun membayangkan ketika anak ini akan menjadi ahli kedirgantaraan melebihi B.J. Habibie atau bahkan melebihi ilmuwan Arianespace, maka kuning dari Karo itu menjadi bagian penting dalam perjalanan Rafael.

Salam semangat dan perjuangan,








Leave a Reply