Kolom Bastanta P. Sembiring: KARO SENEMBAH

0
165

bastantaSering, saat masih bersekolah dulu, bila memasuki tahun ajaran baru guru bertanya tentang asal usul untuk mengenal para siswa dan siswi. Saat tiba giluran, guru pun bertanya kepada saya.

“Kamu orang apa?” tanyanya.

“Orang Karo asli, pak,” jawabku.

“Terus, kampungmu di mana?”

“Patumbak, pak,” kataku lagi.

“Iya, bapak tahu kamu orang Patumbak. Maksud bapak, di Tanah Karo (mungkin maksudnya Kabupaten Karo) di mana kampungmu?”

senembah 14
Sebuah lingkungan hutan di bagian hulu Urung Senembah.

Jawabku: “Saya asli orang Karo, pak. Kampung saya pun asli dari Deli ini. Kakek saya juga sudah lahir di Deli (Terumbu/ Sibiru-biru). Jadi kami orang Karo asli penduduk Deli.”

Saya selalu ditertawai kalau bilang begitu (Karo penduduk asli Deli-red), bahkan oleh orang-orang Karo sendiri. Saat itu saya masih menggunakan kata Deli, hingga semakin saya dalami sejarah sampai pada saya mengerti dan sekarang saya lebih suka katakan: “Saya orang Karo, asli Urung Senembah.”

Bahkan di tulisan terakhir saya tentang Karo Jahe, yang berjudul “Karo Jahe Bukan Suku Pendatang di Pesisir Timur”, di Sora Sirulo, saya masih dibilang mengkhayal oleh orang Karo sendiri dan mengarang cerpen. Maka, saat dapat kabar Sejarah Urung Senembah akan diangkat dalam sebuah buku, saya sangat mendukung.




Apa yang saya alami tentunya juga ada teman-teman sekalian yang permah juga mengalaminya. Itu semua merupakan buntut ketidaktahun (di satu pihak) dan pengkaburan sejarah (oleh pihak lainnya). Semoga dengan semakin banyaknya terbit literatur tentang Urung Senembah yang merupakan salah satu diantara beberapa negeri urung Suku Karo di Dusun (Karo Jahe), maka generasi berikunya akan tahu bagaimana peran Urung Senembah (Suku Karo) dalam sejarah Nusantara.

Kita labo kitik teman. Ipekitik tas ikut-ikutenka kita pekitik banta, maka dungna teridah kita kitikMejuah-juah.








Leave a Reply