Kolom Darwono Tuan Guru: ELNINO DAN ELNINA

0
164

Darwono Tuan GuruKondisi bangsa yang mulai membaik, kini harus menghadapi tantangan adanya fenomena Elnino dan Lanina. Elnino dan Lanina merupakan gejala yang menunjukkan perubahan iklim. Elnino adalah fenomena panasnya permukaan air laut di Samudera Pasifik (di atas rata-rata suhu normal), terutama bagian Timur dan tengah,. Sedangkan Lanina adalah fenomena turunnya suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik yang lebih rendah dari wilayah sekitarnya.

Lanina mengakibatkan musim hujan di atas kawasan Indonesia dengan rata-rata intensitas curah hujan yang lebih tinggi dari tahun-tahun biasanya. Elnino mengakibatkan musim kemarau yang cukup panjang dibandingkan dengan kondisi normal. Fenomena alam Elnino dan Lanina biasanya berulang setiap 4 tahun.

Terkait dengan musim “subur” dan musim kering, kita diingatkan pada tadarus kita tentang Kisah Nabi Yusuf dalam Al Quran. Kala itu, Nabi Yusuf dihadapkan pada kondisi yang akan dihadapi oleh negaranya, yakni menghadapi 7 tahun musim subur panjang dan 7 tahun musim kekeringan yang panjang pula.

Nabi Yusuf AS, yang telah mendapat amnesti dari penjara karena “fitnah Zulaikha” dan diangkat menjadi bendahara negara membuat rekomendasi program, memanfaatkan sebaik-baiknya dengan berhemat saat musim subur panjang, untuk menghadapi musim kemarau panjang. Rekomendasi program yang diberikan oleh Nabi Yusuf ini sangat strategis dan benar negara bisa menyediakan logistik saat mengalami kekeringan. Bahkan Nabi Yusuf mendapat bonus dipertemukan dengan ayah dan saudara-saudaranya yang telah menceburkannya ke dalam sumur.

elninoKita tentu bertanya, apa rekomendasi dari para pemimpin negeri ini dalam menghadapi “kebasahan” dan “kekeringan” yang dikenal dengan Lanina dan Elnino ini? Meskipun periodenya tidak sama, namun tetap saja hal ini harus dipersiapkan dan diperhitungkan dengan matang. Karena dampaknya sangat berarti. Pengalaman penulis mengahadapi fenomena Lanina dan Elnino, di akhir tahun 1998 -1999 (pasca reformasi) dimana kami sebagai “petani” kurang mendapat informasi dan rekomendasi dari pemerintah (maklum mungkin sibuk ngatur strategi berebut kursi) tentang bagaimana menghadapi fenomena itu. Saat itu, banyak petani yang memang usahanya terkait musim mengalami kerugian.

Mestinya jauh-jauh hari sebelum fenomena: “kebasahan” yakni banyak turun hujan seperti ini (Lanina), ada rekomendasi nyata yang harus diperbuat petani (seperti Nabi Yusuf). Musim Basah yang digunakan Oleh Nabi Yusuf sebagai upaya untuk meningkatkan hasil pertanian dan peternakan (gandum dan sapi), sudah barang tentu harus “dibumikan” sesuai karakteristik lahan Indonesia dan perioda Lanina dan Elnino sendiri. Adanya berbagai musibah terkait dengan musim basah (longsor, banjir dll), tentunya harus sudah diantisipasi dengan siklus Lanina dan Elnino itu sendiri.




Semestinya sudah diantisipasi sejak 4 tahun lalu, saat SBY berkuasa, dan dilanjutkan oleh Presiden Jokowi. Pemerintah Jokowi jelas tidak mungkin dapat semudah mebalikkan telapak tangan dalam menurunkan harga pangan (yang terasa adalah produk ternak, daging sapi), karena untuk produksi daging, memacu dalam 2 tahun jelas kurang waktu.

Mengingat informasi yanag beredar bahwa puncak Lanina terjadi pada bulan September, dan kemudian berangsur menuju Elnino, maka periode tersisa harus digunakan sebaik mungkin oleh kita semua dalam menghadapi masa kering nantinya. Di samping pemerintah membuat “crass program” pola tanam dan pola ternak yang harus dilakukan bersama-sama oleh kita, sehingga pada saat kering sudah tersedia “stok logistik” (bulog harus fungsional), juka perlu memanfaatkan musim basah untuk menata lingkungan agar dampak kekeringan nantinya dapat ditekan sekecil-kecilnya.

elnino 2Jika kita perhatikan banyak “musibah musim basah” yang terjadi, yang menandakan kurang kokohnya struktur tanah karena kurang “penyangga”, maka program reboisasi dengan tanaman yang “cepet bongsor” dengan perakaran yang cepat menjadi jaring-jaring dalam tanah sehingga bisa menahan air (sebagai resapan), sangat perlu digalakkan.

Prinsipnya berbagai upaya kekaryaan harus segera dilakukan dengan serius dan strategis, dan sudah barang tentu sabagai bangsa Yang berketuhanan Maha Esa, aspek spiritual jangan dilupakan. Aspek spiritual inilah yang Alhamdulillah, meski secara teoritik Indonesia dinyatakan sudah bangkrut, namun berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, NKRI masih ada, dan semakin bernafas lega.

Terkait dengan hal ini, maka ikhtiar spiritual terutama kaum muslimin Indonesia yang saat ini menjalankan puasa, apa lagi malam ini memasuki 10 hari terahir Ramadan dimana diyakini bersama ada Lailatul Qoda, harus memanfaatkan momen ini sebaik mungkin.

Lailatul qodar yang diyakini juga sebagai malam “diputuskannya” semua kibijakan setahun ke depan, harus kita menfaatkan untuk menyampaikan harapan-harapan, proposal-proposal kehidupan lebih baik dari kita semua secara pribadi. Juga permohonan-permohonan agar Indonesia menjadi lebih baik, dan terhindar dari ancaman-ancaman dampak Lanina maupun Elnino, bahkan perkembangan ekonomi dunia yang tidak menentu.

Insya Allah dengan kerja nyata yang strategis dan doa kita untuk Indonesia, Negara kita menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Amin.








Leave a Reply