Sirulo TV: Memasuki Perpustakaan Universitas Leiden

0
144

Ita Apulina Tarigan 2ITA APULINA TARIGAN. LEIDEN. Awalnya, Sora Sirulo berniat mengunjungi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) Leiden Universiteit. Mengapa KITLV? KITLV adalah sebuah institut yang mempelajari tentang Asia Tenggara dan Karibia, sehingga lembaga ini sangat terkenal dengan koleksi-koleksi manuscript dan dokumen dari seantero Nusantara. Tetapi kemudian, kami mendapat kabar dari Dr. Clara Brakel, jika KITLV kini perlahan-lahan sudah bergabung dengan UB (Universiteit Bibliotheek), Perpustakaan Universitas Leiden.

Jadilah kami berkunjung ke UB Leiden [Rabu 11/5], setelah sebelumnnya membuat janji dengan kurator South  & Southeast Asian manuscripts and printed works, Dr. Doris Jedamski. Kami tiba di Witte Singel 27 dan disambut Dr. Jedamski di lobi perpustakaan.

Setelah berbincang dan dia menjelaskan gambaran umum gedung UB, kamipun dibawa ke lantai atas, berhenti di sebuah lantai yang sedang direnovasi. Menurut Jedamski, lantai itu akan digunakan untuk ruang perpustakaan khusus koleksi Asia Tenggara. Lalu kami menuju ruang pertemuan, dan Dr. Jedamski melakukan Leiden 7presentasi tentang sejarah UB Leiden dan juga koleksi serta program-program yang mereka miliki.  Salah satu yang menarik tentang presentasi Dr. Jedamski adalah, mula berdirinya UB Leiden di tahun 1575.

UB Leiden didorong berdiri oleh William of Orange, yang pada masa itu menekankan pentingnya universitas, seiring dengan masa reformasi yaitu peralihan agama Belanda dari Katolik menjadi Protestan. Setelah Universitas Leiden berdiri, orang-orang Belanda suka mengistilahkan bahwa Universitas Leiden adalah salah satu buah reformasi, maka seketika William of Orange merasa perpustakaan adalah sesuatu yang penting untuk mendukung kemajuan universitas.

Titik penting lainnya perkembangan dari perpustakaan ini adalah seorang sejarawan, Josephus Justus Scaliger, yang menyampaikan pandangan bahwa sejarah bukan hanya tentang Yunani dan orang Romawi, tetapi lebih daripada itu.

”Kita harus melihat lebih jauh, mengekplorasi dan mengenal dunia,” demikian Scaliger menyatakan pendapatnya, dan dia memulai dengan menyumbangkan koleksinya berupa manuscript berbahasa Arab, naskah-naskah dari Timur dan Scaliger sekaligus meletakkan fondasi untuk UB didalam mengoleksi berbagai manuscript dari seluruh dunia.

Selesai presentasi, kita menanyakan kepada Dr. Jedamski mengenai naskah-naskah dan manuscript dari Indonesia yang dulunya ada di bawah naungan KITLV.

“Tentu untuk manuscript, naskah, dokumen dari KITLV akan diperlakukan sama seperti koleksi lainnya. Saat ini pelan-pelan kami mendigitalisasi koleksi-koleksi yang ada agar lebih mudah untuk diakses,” terangnya.

UB Leiden saat ini mempunyai 7 buah gedung perpustakaan yang di dalamnya tersimpan koleksi-koleksi luar biasa, tidak hanya di dalam gedung juga di bawah tanah tersedia gedung penyimpanan koleksi-koleksi mereka. Menurut Dr. Jedamski, saat ini UB Leiden memiliki koleksi sekitar  5,2 juta buku cetak, 44 ribu majalah elektronik, 1,18 juta e-book, 710 incunabula (buku yang dicetak sebelum tahun 1500) ditambah  koleksi spesial lainnya yang jumlahnya jutaan.

Setelah presentasi Dr. Jedamski mengeluarkan beberapa manuscript Nusantara, khususnya yang berasal dari Sumatera Utara. Ada dari Batak, Karo dan Pakpak. Juga banyak dokumen-dokumen tua terkait Pakpak yang digunakan Dr. Clara Brakel dalam penulisan bukunya yang berjudul Dairi Stories and Pakpak Storytelling. Salah satu yang menarik, yang ditunjukkan oleh Dr. Jedamski, adalah dokumen beraksara Karo yang berjudul Pelantikan Sibayak Lingga 25 Juli 1935. Dokumen dalam kotak kayu yang bergambar bintang lima ini, sayangnya ada tanda tidak boleh difoto. Cukup senang dapat membuka halaman demi halaman dan melihat kerapihan dokumen yang ditulis di atas kulit kayu tersebut.

Dari ruang presentasi, kami dibawa Dr. Jedamski ke ruang koleksi khusus. Ruang koleksi khusus ini menyimpan buku incunabula, buku langka yang diterbitkan sebelum tahun 1800 dan juga berbagai manuscript. Sesuai dengan namanya Ruang Koleksi Khusus, ruangan ini dilengkap dengan pengaman yang berlapis, kamera dimana-mana. Hanya orang-orang tertentu yang sudah mendaftar dan mengisi formulir yang disetujui dapat memasuki ruangan ini.

Peminjaman buku untuk dibaca di dalam ruangan juga berjadwal, tidak bisa serta merta mendapatkan buku yang diinginkan. Untuk menjaga keutuhan buku-buku tersebut, sebelum dipinjamkan petugas perpustakaan akan menimbang buku tersebut di timbangan digital, lalu kemudian diprint, setelah selesai dibaca, buku tersebut ditimbang kembali sebelum dikembalikan di tempat penyimpanan. Hal ini dilakukan untuk mencegah pencurian halaman buku.










Leave a Reply