Kolom Juara R. Ginting: POSITIVE THINKING TENTANG KARO

2
399

Berpikir negatif itu mudah, sedangkan berpikir positif membutuhkan wawasan yang luas serta visi (melihat ke masa depan) dan satu lagi …… apa itu?

juara 18Di awal tahun 1990an, alat musik synthesizer yang lebih dikenal dengan nama keyboard (bahasa Karo kibot) mulai mengisi acara-acara Karo. Saat itu, umumnya masih acara yang meriah-meriah seperti guro-guro aron dan perkawinan. Sesekali saya lihat ada juga di acara kematian atau ritual pengobatan.

Ungkapan-ungkapan keresahan mulai bermunculan; baik di media maupun percakapan di warung kopi. Seorang teman etnomusikolog bertanya padaku bagaimana menurutku mengenai perkembangan kibot akhir-akhir ini, pada saat itu, ketika kami sedang mengamati sebuah acara di malam sebelum upacara perkawinan (Jambur Pemere, Medan).

Aku katakan, ini perkembangan sangat bagus.

“Sebelum ada kibot, acara malam menjelang puncak acara perkawinan tidak ada musik apa-apa. Hanya ada runggu (musyawarah adat, red.) dan mempersiapkan makanan untuk besoknya,” kataku.

Karena aku sudah sangat memahami pertanyaannya, aku langsung nyerocos seperti di ruang kuliah menjelaskan mengapa aku menanggapi positif perkembangan kibot saat itu.

Kettent-ketteng
Penampilan Ketteng-ketteng Hutan Karo di acara Pembukaan Pameran Sumatra di Museum Etnologi Leiden dengan para personil: Juara R. Ginting (belobat), Longgena Ginting (ketteng-ketteng), Mangara Silalahi (ketteng-ketteng), Roga br Tarigan (penari), Toko Melati (penari), Nelly br Sembiring (vokalis). Acara ini dihadiri oleh kepala permuseuman Belanda dan juga Dirjen Sejarah dan Kepurbakalaan RI serta Kepala Museum Provisni Sumatera Utara.

“Gendang Lima Sendalanen itu sudah sangat terlalu mahal bagi sebagian besar orang Karo (saat itu memang sudah sangat mahal). Lagi pula, dengan iringan kibot, hampir semua orang berani menari dan menyanyi sehingga akan muncul penari-penari dan penyanyi Karo di masa depan. Gendang 5 Sendalanen terlalu sakral sehingga orang-orang langsung memilih tidak usah menari/ menyanyi daripada membuat kesalahan,” kataku padanya.

Sekarang kita melihat hasilnya. Hampir semua orang Karo berani menari dengan iringan musik yang bagaimanapun juga karena mereka sudah sangat tahu apa yang mestinya mereka lakukan. Penyanyi-penyanyi Karo sudah mulai menjamur dengan kualitas vokal yang bagus-bagus dan bahkan banyak yang dieksport ke Simalungun.

Kekhawatiran orang-orang bahwa kibot akan menggeser musik tradisional juga ternyata tidak benar. Di tahun 1980an, hanya ini yang menjadi pemain kulcapi: Tukang Ginting, Mahap Purba, Jasa Tarigan dan seorang di Kuta Gerat (Kecamatan Tigabinanga). Sekarang ….. hohoho hahaha …… e lah pelen-pelen. Begitu juga dengan penabuh ketteng-ketteng dan peniup surdam serta penabuh gendang singanaki/ singindungi apalagi gung dan penganak.

Apakah saya hanya berteori dan kebetulan saja teori saya benar?

Tidak. Saya menyambut kibot dengan pikiran positif karena saya lihat banyak sekali untungnya terhadap perkembangan seni pertunjukan Karo di masa depan. Akan tetapi, bukan berarti saya tidak melihat apa pula kerugiannya yang bisa terjadi.

Untuk mengantisipasi itu, saya menulis sebuah kolom di sebuah media yang saya hidupkan bersama teman-teman yang judulnya, KETTENG-KETTENG: MURAH DAN MUDAH. Selanjutnya saya mengupayakan kehadiran Alm. Djasa Tarigan dan seniman-seniman Karo lainnya di Tongtong Fair, Den Haag. Saya minta mereka membawa ketteng-ketteng.

Mengapa saya memilih ketteng-ketteng dalam mengantisipasi ancaman terhadap perkembangan musik tradisional Karo? Ini didasarkan pikiran analitis, masalah utama dari Gendang Lima Sendalanen adalah sulit mempelajarnya dan harganya sangat mahal saat itu. Padahal, kecuali sarune, semua dari instrumen Gendang Lima Sendalanen itu disediakan oleh seruas bambu bernama Ketteng-ketteng.

Kolom saya mengulas pikiran analitis terhadap persoalan dan aksi saya mendatangkan Jasa Tarigan Dkk ke Belanda adalah untuk menunjukkan bahwa teori saya bukan OMBUS-OMBUS, asal diembusin. Ribuan penonton internasional tersentak menyaksikan Karo yang “oh lain kali sama Batak, ya” begitu ucapan-ucapan mereka.

Sejak itu, musik tradisional Karo perlahan mulai bangkit. Sekelompok mahasiswa di Bandung patut diacungi jempol dalam memulai ini. Sekarang, di mana-mana ada kelompok musik tradisonal Karo, termasuk di Pekanbaru, selain di Taneh Karo sendiri.

Ternyata, seperti yang diramalkan oleh teori saya saat itu, tidak ada persaingan antara kibot dengan musik tradisional Karo, bahkan saling menopang.

Demikian juga dengan busana rabit dates. Saya memklumi bila di Indonesia orang-orang saat itu masih sungkan menampilkan busana yang terlihat agak sexy ini. Saya cobakan itu di Belanda untuk dikenakan oleh para penari TARTAR BINTANG. Ternyata, sekarang, rabit dates sangat digemari. Bahkan acara BKSO Permata GBKP di Jakarta sudah menggunakan abit dates di atas pentas.

ketteng-ketteng
Sanggar Seni Sirulo dalam pembuatan film promosi pariwisata Kabupaten Deliserdang.

Awalnya, seperti rabit dates itu, kita itu dimaki-maki di media sosial. Dikatakan sebagai perusak moral Karo karena pakaiannya tidak sopan. Demikian juga langsung pernah terjadi ketika Sanggar kita nampil di Kerja Tahun Desa Munte dan Desa Sugihen Tahun 2010. Para aron setempat sudah melecehkan para penari kita sebagai penari penceng karena mengenakan abit dates. Saya pun ke atas pentas dan menangkap mikrofon. Lalu saya ajak para ibu-ibu dan tetua berdialog tentang masa muda mereka dulu. Saya panggilkan penari kita dan tanyakan apakah para ibu mengenali busana itu.

Semua langsung bernostalgia dan mengatakan rindu dengan busana itu. SATU KOSONG Aron setempat saya buat, langsung telak dan bertekuk lutut. Seisi bangunan losd ikut bergoyang mengikuti musik dan tarian sanggar kita selama setengah jam.

Begitupun sudah upaya-upaya kita, tetap juga kita dicaci maki mengatakan hanya koar-koar di Dunia Maya. Apakah ada sanggar Karo yang berani berkelana dari desa ke desa seperti yang kami lakukan?: Munte, Sugihen, Limang, dan Tanjung Barus. Dari hotel ke restauran: Hotel Danau Toba, Hotel Tiara, Restauran entah apa itu namanya. Konser bersama Endakustik di 4 kota: Medan, Binjai, Berastagi dan Siantar. Dua kali konser sendiri di STMIK Neumann dan telah menghasilkan 1 album VCD.

Semua tampilan adalah hasil olahan saya bersama adik-adik. Itukah koar-koar Dunia Maya?




Nah, itulah yang satu lagi dibutuhkan untuk bisa berpikir positif, yaitu PENGORBANAN. Meski kita dicacimaki kita tetap menjalani seperti yang sudah ada di dalam visi kita. Tanggungjawab kebenaran adalah PINTER BILANG KU DIBATA. Ras Dibantandu lah kam ercakap. Usur-usur nina, usur-usur. Itulah positive thinking.

Bagaimana dengan negative thinking? Pikiran negatif tak perlu diulas panjang lebar. Sasarannya hanya dirinya sendiri, bukan tanggungjawab terhadap masa depan masyarakat.

Enggo ka akap ko jago bam mentang-mentang engko bagadah begedih ….” itu saja di dalam otak mereka.

Tidak lebih dari itu. Mereka memerintah-merintah kita untuk melakukan aksi karena mereka tidak mau tahu berapa ribu aksi kita sudah buat sedangkan mereka hanya nuruh-nuruhi ngenca dahinna.

Udah berteori nggak bisa, beraksi malas, dia pula yang mau menjadi bos kita.

Salam mejuah-juah. Jangan lupa, nasib KBB (Karo Bukan Batak) akan juga begitu. Perlu pengorbanan, setidaknya korban perasaan. Tidak semua kita mengalami bagimana kami di awalnya sangat direndah-rendahkan dengan jumlah kami di yahoogroups masih dalam hitungan jari. Sekarang menggema di seluruh Indonesia dan mulai mendunia. Orang-orang Indonesia di Belanda sudah tahu bahwa Karo Bukan Batak.

Pinter Bilang ku Dibata. Amin!









2 COMMENTS

  1. Saya ingin menambahkan bahwa tidak sia-sia semua pengorbanan itu, sudah terlihat hasilnya sekarang ini bagi mayoritas orang Karo. KBB semakin semarak!
    MUG

  2. PENGORBANAN . . . mantap!
    Ini penyakit positif yang bisa menjangkit kemana-mana. Dan sudah semakin luas. Menarikan atau menyanyikan lagu Karo dikeramaian bukan Karo dan hanya ada 1-2 orang Karo pula . . . betul pengorbanan memang. Beberapa pengalaman segelintir orang Karo di Swedia melawan penyakit ‘nyaman’ atau cari amannya. Terasa sekali memang pengorbanannya.
    Apalagi dengan musik tradisional kektteng-ketteng atau abit datas di Belanda itu.
    Maju terus anak-anak muda Karo.

    MUG

Leave a Reply