Kolom Joni H. Tarigan: KURSI SANDARAN

0
119

joni hendra tariganDi Indonesia, saya sendiri merasakan bulan Ramadhan ini merupakan bulan yang penuh berkat. Jam kantor yang dipersingkat sehingga semua karyawan bisa pulang pada pukul 16.00 WIB. Biasanya kami pulang pada pukul 17.00 WIB dan 17.30 WIB. Secara jam kerja memang berkurang, akan tetapi total pekerjaan yang saya sendiri kerjakan bisa lebih baik dari bulan-bulan selain Ramadhan. Mungkin ini ada kaitannya dengan situasi bahagia pulang lebih dini, dan bertemu keluarga dengan lebih dini pula.

Ternyata pulang dini jam kantor tidak hanya dilakukan di tempat kami. Tempat lain di Bandung sekitarnya juga melakukan hal yang sama. Dengan sistem kredit motor yang tidak cukup ketat maka kemungkinan jumlah motor melebihi jumlah kepala keluarga.

Salah satu yang bisa dijadikan bukti adalah banyaknya motor, seperti sekumpulan pasukan semut, ketika menjelang waktu berbuka setiap sorenya. Tanpa perlengkapan keamanan bermotor yang sesuai, masyarakat berhamburan ke jalan raya untuk menghabiskan waktu di jalanan menjelang waktu berbuka. Memang, di daerah Kabupaten Bandung ini tidak begitu ketat pengawasan terhadap keselamatan berkendaraan. Atau lebih tepatnya, pemahaman masyarakat terhadap keamanan masih sangat rendah.

kursi 2Kendaraan kami pun, yang selama bulan puasa ini lebih dini pulang, selalu menghadapi kemacetan yang cukup panjang. Tidak lebih dari 100 m, tetapi waktu tempuh bisa sampai setengah hingga satu jam. Para pengendara motor seakan tidak tahan melihat celah yang lebih sempit dari motornya. Dengan hitungan detik persimpangan menjadi ramai dan tidak bisa bergerak. Macet, atau lebih tepatnya lumpuh total.

Yang menarik adalah para pengendara motor tidak terlihat wajah-wajah yang marah, bosan, atau kesal. Mereka terlihat santai. Ya …. mereka umumnya memang ingin menghilangkan kebosanan menunggu waktu berbuka dengan berkendara di jalan raya. Tentu saja kemacetan itu tidak menjadi masalah bagi mereka.

Untungnya bagi saya, saya bisa mengikuti mereka yang tidak stress atau marah akibat macet. Sejak April 2015, saya membiasakan diri untuk memasukkan buku bacaan di tas yang selalu saya bawa bekerja. Ketika macet terjadi, khususnya selama bulan puasa bagi umat Muslim, maka saya punya kesempatan untuk membaca. Saya pun sangat menikmati macet tersebut dengan meminum isi buku yang saya bawa, yang bulan ini kebetulan saya baca adalah buku Otobiografi Mahatma Gandhi. Bagi saya walaupun macet, bulan Ramadhan ini adalah bulan penuh berkat. Buku setebal 728 halaman bisa saya selesaikan di luar rumah dan di luar jam kerja.

Mata mulai lelah, lembar-lembar terakhir buku Mahatma Gandhi mulai terasa. Macet kembali terjadi pada minggu ke-3 bulan Suci Ramadhan. Sambil melibat lembar yang terahir saya baca, pikiran saya pun melayang kepada sebuah kursi. Saya pernah mengalami sendiri dan melihat orang lain yang begitu menduduki sebuah kursi dan tiba-tiba terjatuh. Kasus orang lain yang pernah saya lihat adalah ternyata kaki kursi sudah ada yang patah dan terlepas. Sedangkan saya pernah terjatuh dari kursi karena ternyata sandaran kursinya yang sudah patah. Sayapun menyimpulkan, orang akan bisa duduk tenang ketika sebuah kursi memiliki kaki dan sandaran yang kuat.




Dalam kehidupan sehari-hari, terutama selama bulan Ramdhan ini, saya pun memiliki permenungan sendiri. Mungkin karena sedikit masukan dari bacaan tentang Gandhi, yakni tentang puasa, perenungan saya tertancap pada sebuah kursi. Sebagai kepala keluarga dan sebagai bagian dari keluarga besar saya, saya berdoa kepada Pencipta agar hidup saya dan keluarga bisa menjadi kursi yang berkaki kokoh dan sandaran yang kuat. Keinginan ini agar keluarga dapat menjadikan kami sandaran; baik secara psikologi, pendidikan maupun secara ekonomi.

Maka kami harus benar- benar berjuang untuk membentuk kaki yang kekar  dengan membentuk keluarga yang memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama dan lingkungan. Kami juga harus berjuang untuk menjadi sandaran yang kuat dengan melakukan sesuatu agar bisa meningkatkan harkat dan martabat orang lain

Kami ingin menjadi sandaran bagi kebaikan, maka kami pun harus berjuang untuk lebih besar lagi atas dasar kebaikan pula.  Tentu sia-sia duduk dan bersandar di atas kursi yang rapuh. Hidup ini adalah pilihan, maka menjadi kursi yang kokoh adalah juga pilihan.








Leave a Reply