Kolom M.U. Ginting: Partai-partai Nasionalis

0
144

M.U. Ginting 2Keinginan PDIP memakai Risma bertanding dengan Ahok di Jakarta menimbulkan banyak pikiran kontraversi di kalangan orang banyak yang menganggap PDIP sebagai partai yang masih berjiwa nasionalis Soekarno.

Risma membangun Surabaya sudah bagus, begitu juga Ahok membangun Jakarta sudah bagus, tak ada bandingannya dengan orang-orang sebelumnya yang pernah jadi pemimpin Jakarta. Disuruh berlaga dengan Ahok di Jakarta, Risma sepertinya dipaksa memilih antara keinginan PDIP dan sang ketuanya, atau keinginan murni hatinya membangun Surabaya dan membiarkan pembangunan Jakarta yang sudah jelas bagus ditangani Ahok.

Mengapa harus ada usaha menyingkirkan Ahok, dan Risma dicoba jadi modalnya yang diduga akan berhasil? Bagi Ahok tak ada soal kalau dia kalah, tetapi bagi Risma nasionalisdan PDIP dan ketuanya kalau nanti kalah, pasti akan menjadi pukulan mematikan, seandainya Risma kalah melawan Ahok.

Bagi partai politik perlu pengorbanan memang. Siapa saja yang ’mau dan rela’ dikorbankan demi kesetiaan terhadap partai dan terhadap ketua partai. Wow . . . teringat kesetiaan partai komunis lama. Jaman masih belum berubah kelihatannya bagi PDIP.

Kalau partai-partai lain menggalang persekutuan mau menyingkirkan Ahok, bisa dimaklumi. Tetapi PDIP  berusaha menyingkirkan Ahok, teringat Soekarno yang begitu hormat dan salut terhadap orang-orang Indonesia yang mau bekerjakeras membangun negeri ini, walaupun saya belum yakin penuh kalau jiwa Soekarno itu sudah lenyap sama sekali dari PDIP dan Bu Mega. 




Tetapi, tak diragukan bahwa jiwa dan semangat Soekarno itu telah memasuki NASDEM. Ini menandakan ada perubahan dalam satu partai (Nasdem). Kita mengharapkan juga supaya ada perubahan dalam PDIP sebagai partai nasionalis, karena ide nasionalisme ini sekarang sedang berkumandang dan meluas muncul di seluruh dunia. Brexit contohnya dalam partai UKIP.

Beberapa hari lalu, kita dengar pengunduran diri ketua partai ’nasionalis’ Inggris itu (UKIP) Nigel Farage. Alasannya karena dia sudah berhasil mengembalikan Inggris kembali di bawah kontrolnya sendiri (tidak lagi di bawah UE, Brexit) dan mengharapkan yang lain akan menangani perkembangan partai selanjutnya. Farage bilang hari itu, bahwa: “The UK now offered “a beacon of hope” across Europe for other countries that wanted to leave the EU.” Dia juga menambahkan: “I’m certain of one thing – you haven’t seen the last country that wants to leave the EU.”

Tak ada salahnya kalau PDIP bisa juga melihat perkembangan terakhir partai-partai nasionalis Eropah di jaman modern ini.








Leave a Reply